Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Tembakan Rasa


__ADS_3

..."Aku mencintaimu Emily Nelson,"...


...Lewis Lauren...


"Jika hari ini adalah terakhir aku bisa bernafas, maka aku akan menjadi orang yang sangat bahagia setelah mendengar penjelasan Calista. " Gumam Emily dengan merasakan senjata Calista telah menyentuh kulit lehernya hingga ada beberapa tetes darah yang sudah keluar mengalir di sana.


Bruk..


Tangan Calista yang memegang pisau ditarik oleh Allen dari belakang sehingga menghentikan tindakan orang yang kaget dan membuat tangannya tersayat oleh tajamnya pisau.


Namun, Allen masih bisa bertahan dengan memutar tangan Calista kebelakang sampai pisau tersebut jatuh ke tanah.


"Allen, lepaskan aku. " Teriak Calista dengan tubuhnya meronta untuk bisa lepas dari genggaman Allen.


"Jangan harap. " Jawab Allen dengan kemarahan.


"Em.. Em.. Em.. " Mata Emily dibuka dan ingin mengatakan sesuatu pada suaminya yang masih memegang erat Calista.


Setelah menemukan sisa tali yang digunakan untuk mengikat Emily, Allen mengikatkan tali tersebut kepada Calista agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan.


"Emily, kamu tidak apa-apa?. " Pikiran Allen sudah tidak berputar lagi ketika melihat Calista mengarahkan pisaunya tepat di leher Emily, ia hanya bisa melakukan tindakan cepat sebelum istrinya menjadi korban pembunuhan dari mantannya. Emily hanya bisa menggelengkan kepalanya karena mulutnya masih diikat dengan kain.


Merasakan tangannya yang sakit, Allen tidak bisa cepat membuka ikatan yang menjadi penghalang gerak istrinya. Oleh karena itu ia menggunakan satu tangannya untuk memotong di beberapa bagian agar pengaitnya putus.


Dalam kesibukan yang dilakukan Allen, ia tidak menyadari bahwa ikatannya yang telah ia ikatkan ke tangan Calista telah lepas begitu saja. Dan sekarang Calista sedang diam-diam merangkak menuju ke sebuah benda yang bisa ia gunakan untuk mengancam dua orang berpelukan.

__ADS_1


"Apakah terasa sakit?. " Dagu Emily di angkat untuk melihat tetesan darah yang mengalir di leher.


"Mas, Calista. " Bukannya merasa lega karena terhindar dari genggaman Calista, Emily malah ketakutan dengan memanggil nama orang yang telah menculiknya dan ingin menghabisinya.


Allen pun memutar badannya melihat apa yang sebenarnya membuat istrinya ketakutan. Dan benar saja, kini bukan hanya Emily yang merasakan hal tersebut karena Allen pun merasakan hal yang sama.


"Jangan bergerak!. " Aba-aba tersebut lebih tepatnya memerintah dengan paksa pada dua orang yang berpelukan ketakutan melihat senjata pistol diarahkan ke mereka.


"Calista, jangan lakukan itu. " Allen berusaha menenangkan diri Calista agar tidak gegabah menekan tombol pistol tersebut.


"Kenapa Allen? Kenapa aku harus melakukan semua itu?. " Nada jawaban Calista sangatlah tinggi dan itu adalah pertama kalinya bagi Allen melihat sisi lain dari orang yang pernah dekat dengannya.


"Istrimu Emily telah mengambil semua yang aku miliki. Dia menghancurkan hidupku dan kamu menginginkan aku melepaskannya begitu saja,"


"Apa yang aku inginkan,dia sudah merebutnya dariku. Dia adalah penghancur hidupku Allen,"


"Calista, a-aku t-tidak memiliki niat untuk menghancurkan hidupmu. " Emily menyahut tuduhan yang dilontarkan kepadanya.


"Oh ya? Emily, kamu itu tidak lebih dari seorang pelacur. Kamu menggoda laki-laki lain di luar rumah saat kamu sudah memiliki seorang suami, " Tegas Calista dengan menunjuk-nunjuk Emily menggunakan senjatanya.


"Aku mohon maaf akan aku Calista, aku tidak bisa memaksakan hati ini untuk siapa dia jatuh cinta,"


"Maaf saja tidak cukup untuk bisa menebus apa yang telah aku dapatkan selama ini, " Mungkin untuk perlakuan Allen tidak pernah menyakiti dirinya, namun Lewis lah yang telah membuat dirinya hancur dengan berbagai tindakannya.


"Dan kematian mu lah yang impas untuk kamu berikan kepadaku. " Ucap Calista dengan satu jarinya ditekan ke tombol yang bisa membuat pistol tersebut berguna.

__ADS_1


Dor..


Darah keluar dengan derasnya dari dada kanan seseorang yang berdiri lurus arah peluru tersebut meluncur. Tidak kuat menahan tubuhnya yang lemas, ia merobohkan ke samping kiri dan berakhir di tanah bangunan.


"Lewis," Teriak Emily yang dibalik rangkulan Allen untuk melindunginya. Namun, malah Lewis lah yang menerima peluru tersebut dengan datang tiba-tiba menghadangnya.


"Lewis," Emily lari dan duduk memangku kepala orang yang ia cintai.


"Emily, a-aku mencintaimu Emily Nelson," Ucap Lewis dengan tertatih karena ia sulit untuk mengambil atau mengeluarkan nafas.


"Kamu jahat sekali, Lewis. Aku sangat membencimu," Wajahnya ia tempelkan dengan wajah Lewis dan air matanya terus mengalir.


Fokus pada Lewis yang sudah terluka parah, Emily tidak menyadari bahwa penyokong bangunan yang terbuat dari besi sedang dalam keadaan tidak seimbang dan lebih tepatnya sedang menuju ke arahnya dan Lewis karena sebelum Lewis tumbang ia sempat memberikan gesekan pada benda tersebut.


Brak..


"Emily, " Teriak Allen yang sudah terlambat melihat istrinya dan Lewis tertimpa benda berat.


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih


Love you❤

__ADS_1


__ADS_2