
..."Semua berawal dari hay dan berakhir dengan good bye"....
...Emily Nelson...
Di jalanan pada sore hari, matahari sedang bimbang menentukan pilihannya untuk tetap cerah atau tenggelam untuk kegelapan Emily melangkahkan kakinya untuk pulang dari kantornya. Emily memilih berjalan kaki karena ia merasa membutuhkan menikmati pemandangan sore hari yang penuh sesak orang dan kendaraan untuk mencoba meredakan pikirannya yang sangat penuh.
Bagaimana tidak, pagi hari ia sudah dikejutkan dengan berita kematian mamanya Allen yang bunuh diri karena overdosis sedangkan yang diberitakan dari media mamanya meninggal karena serangan jantung. Kemudian saat siang hari ia harus melihat Lewis bergandengan dengan Callista yang sangat menjengkelkan dengan menyiramnya sup panas ke tubuhnya. hingga semua tindakan Lewis yang sangat berbeda kepadanya. Semuanya berputar di kepala Emily.
"A-a a... " Teriak Emily ke jalanan penuh kendaraan mencoba untuk melepaskan semua pikirannya.
Pikiran Emily yang tidak karuan membuat matanya menatap seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang kejalan sedangkan dari sisi kanannya ada sebuah mobil melaju kencang.
"Apa yang dia lakukan?. " Tanpa berpikir Emily berlari menarik wanita tersebut untuk menghindari mobil tersebut. Namun, karena kencangnya laju mobil tersebut membuat Emily harus sekuat tenaga menarik wanita tersebut hingga ia jatuh di pinggir jalanan dan membuat pelipisnya mengeluarkan darah.
"Kamu tidak apa-apa nak? ". Tanya wanita tersebut dengan membangunkan Emily dari jatuhnya.
" Tidak tante, aku baik-baik saja. " Jawab Emily dengan mencoba tersenyum manis ke wanita yang ia tolong.
"Tapi pelipis mu berdarah. " Ucap wanita tersebut dengan memegang pelipis Emily dan membuatnya menyungging.
"Ayo kita ke klinik terdekat. " Wanita tersebut mengajak Emily ke sebuah klinik terdekat untuk mengobati luka dan memeriksa apakah ada luka lain yang tercipta.
Emily yang keluar dari ruang periksa karena hanya ada luka di pelipis dan sudah diobati dengan diplester di sana.
"Fany." Ujar wanita yang ia tolong menunggunya untuk mengetahui keadaanya.
__ADS_1
"Emily." Balas Emily dengan menerima uluran tangan Fany yang berada di depannya dengan senyuman manis menampilkan kecantikan orang yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat menawan di usianya yang lebih dari kepala empat.
"Terimakasih atas bantuannya. " Ujar Fany dengan menuntun Emily untuk keluar dari klinik.
"Sama-sama tante. Mungkin besok tante akan menolongku kan aku tidak tahu. " Ujar Emily dengan menyeimbangkan langkah Fany yang masih terlihat modis. Emily memang suka menolong namun rasa kemanusiaan nya sempat menurun karena pernikahannya dengan Allen yang terjadi juga alasan kemanusiaan. Akan tetapi melihat Fany membuat rasa kemanusiaan Emily bangkit kembali.
"Iya, tapi setidaknya aku harus berterimakasih untuk semua yang kamu lakukan kepadaku kali ini. " Balas Fany
"Kamu sangat cantik dan juga baik hati. Pasti banyak laki-laki yang suka sama kamu. " Lanjut Fany dengan menatap intens Emily yang terlihat sangat cantik meski hanya terlihat dari bawah sinar matahari sore yang sudah memilih untuk menenggelamkan dirinya.
"Sepertinya tidak. " Ujar Emily. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak laki-laki yang di sekeliling Emily menyukainya bahkan setiap saat ia mendengar pernyataan semua laki-laki yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Namun, ia memilih untuk menyandarkan hatinya ke Lee Johnson yang sekaligus cinta pertamanya. Akan tetapi mengkhianatinya dengan perempuan lain di belakangnya.
Emily mengatakan tidak kepada Fany karena ia sekarang mengenal Lewis dan Allen suaminya yang sama sekali tidak menyatakan hal demikian.
"oh ya? kenapa? ". Tanya Fany memastikan karena tidak mungkin seorang yang sempurna seperti Emily tidak banyak yang menyukainya.
"Selain cantik baik hati kamu juga sangat mengenal betul tentang kehidupan. " ujar Fany setelah selesai memesan dua cangkir kopi ke pelayan yang mendekati mereka
"mau bagaimana lagi, keadaan memaksaku melakukannya. " Balas Emily dengan menggenggam tangannya di atas meja bundar kecil yang memang didesain untuk digunakan dua orang.
"keadaan apa yang memaksamu melakukan nya? ". Tanya Fany dengan merai tangan Emily di atas meja.
" Cinta. Cinta memaksaku melakukan semuanya. " Balas Emily dengan menatap tegas orang yang berada di depannya.
"Kamu tahu Emily, dulu aku mempercayai cinta dalam hidup ini. Hingga tanpa sadar aku membuat kesalahan atas nama cinta dan sampai kesalahan itu membuat cinta menjauhiku bahkan tidak ingin mengenalku. " Ujar Fany dengan mengelus tangan Emily yang berada di genggamannya.
__ADS_1
"Lalu kesalahan-kesalahan selalu aku lakukan dan selalu menemaniku dalam hidup ini. " Lanjut Fany.
"apa kamu pernah meminta maaf atas nama cinta? ".Tanya Emily yang mencoba memahami permasalahan Fany.
"Kesalahan apa yang aku perbuatan hingga mengharuskan aku meminta maaf? " Tanya Fany dengan mengernyitkan dahinya.
"Kesalahan yang ada setelah adanya cinta. " Ujar Emily dengan menyeruput kopi yang sudah tersedia.
"Cobalah kompromi kan antara cinta dan kesalahan yang ada. " Lanjut Emily
"Ternyata kamu sangat dewasa menyikapi semua masalah. " ujar Fany dengan mengelus puncak kepala Emily seperti anaknya sendiri.
"Bolehkah aku menganggap mu sebagai anakku sendiri." Lanjut Fany melihat dua manik biru polos Emily.
"Boleh. Sepertinya aku juga sudah merindukan sosok seorang mama di sisiku. " ujar Emily dengan memeluk erat Fany untuk mendapatkan kehangatan di sana.
"Aku sangat beruntung bertemu dan juga mendapatkan anak sepertimu. " Fany mencium Emily dengan penuh kasih sayang.
"Kita akan bertemu lagi jika Tuhan mengijinkan anak dan mamanya ini bersatu. " ujar Fany dengan tersenyum manis.
"Tentu. Tetapi jika tidak diijinkan aku akan tetap berusaha menemui mu bagaimanapun. " lanjut Fany yang sangat nyaman bersama Emily.
"Ternyata aku punya mama baru yang sangat menyayangiku saat ini. " Ujar Emily dengan membalas senyuman manis Fany dan kembali merangkul Fany karena merindukan sosok seorang mama disisinya.
"Ternyata aku bukan hanya menolong orang lain akan tetapi mamaku sendiri. " Gumam Emily dibalik tubuhnya yang memeluk Fany.
__ADS_1
Entah kenapa Emily sangat nyaman dengan Fany yang baru ia kenal beberapa saat lalu. Mungkin sosok seorang mama sangat ia rindukan atau memang kasih sayang pada diri Fany yang terlihat menghangatkan membuatnya ia menginginkan Fany menjadi sandaran nya.