Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Kembali Sadar


__ADS_3

..."karena bisa mencintai adalah hal tertinggi yang dimiliki manusia"...


...Allen Dawson...


Suara detak monitor memenuhi ruangan yang didominasi warna putih, karena yang lainnya hanyalah kesunyian.


Sedangkan dua orang yang berada di dalamnya ruangan hanya mampu berdiam diri dengan keadaan berbeda.


Satu orang sedang berbaring lemah dengan satu kakinya diperban karena tertimpa barang berat hingga ia tidak sadarkan diri. Sedangkan satu orang lainnya duduk di tepi ranjang dengan menggenggam kan tangannya yang terbalut perban karena goresan tajam pisau ke tangan yang infus.


"Kamu mencintai Lewis?" Gumam Allen dengan mengingat kejadian yang menyebabkan istrinya harus berbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Ketika melihat Lewis menerima peluru di dadanya, Emily tidak kuasa untuk tak mendekat meski tubuhnya masih bergetar. Dari sanalah Allen sadar bahwa hati istrinya bukan miliknya melainkan milik orang lain.


"Lewis, Lewis." Suara yang selama semalaman tak terdengar kini ia perdengarkan kembali dengan menyebut nama orang yang ia sayangi.


Namun, dibalik suara pertama yang diucapkan wanita tersebut, ada hati yang hancur berkeping-keping ketika mendengarkan semua itu.


"Lewis." Kini suara yang dikeluarkan Emily sangatlah keras dan ia kemudian membuka matanya dari tidur lamanya.


"Emily, kau sudah sadar?" Allen lebih mendekatkan tubuhnya ke wanita yang nampak ketakutan.


"Lewis, Lewis." Tak menghiraukan keberadaan orang yang mencoba menenangkan dirinya, Emily selalu memanggil nama Lewis.


"Emily, Lewis dalam keadaan baik-baik saja" Allen terus berusaha membuat istrinya tetap tenang, karena Emily ingin melepaskan semua alat yang menempel di badannya.

__ADS_1


"Lewis." Teriak Emily dengan berusaha turun dari ranjangnya meski itu dia paksakan.


"Emily." Kini Allen pun juga berteriak karena istrinya yang tidak mau mendengarkan dirinya.


"Lewis dalam keadaan baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya." Ujar Allen penuh penekanan agar istrinya mengerti. Ia sangat emosi ketika istrinya begitu keras kepala untuk bisa bertemu Lewis disaat dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas, Allen. Lewis, dia tertembak peluru." Tangis kesedihan Emily pecah di dalam pelukan suaminya. Dia tidak mampu memikirkan bagaimana perasaan suaminya yang melihat semua tindakannya hanya untuk orang lain.


"Bolehkah aku melihat keadaan Lewis, Mas?" Tanya Emily kepada suaminya yang memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskan dirinya.


"Tentu."


Satu ruangan yang sangat luas untuk hanya di tempati tiga orang tersebut, terasa sempit bagi Allen. Harus melihat orang yang ia cintai begitu mencemaskan orang lain.


"Lewis," tangan yang Emily genggam bergerak pelan membuat ia menghentikan tangisannya.


"Emily," sekali lagi Lewis memanggil nama orang yang berusaha mendekati dirinya.


"Iya Lewis, aku disini." Emily mencium punggung tangan orang yang baru sadar dari komanya.


"Aku mencintaimu Emily," seolah tak menginginkan kehilangan waktu lagi untuk menyatakan perasaannya, Lewis mengungkapkan cintanya yang pernah ia ingkari.


Senyuman bibir Emily terlihat sangatlah lebar, hingga beberapa gigi putihnya terpampang. Perasaan cinta yang selama ini masih memenuhi hatinya kini sedang menariknya ke langit jauh untuk terbang ke angkasa.


Namun berbeda dengan orang yang berdiri tepat di belakang wanita yang kakinya patah, dirinya seolah sedang didorong kedalam jurang yang sangat dalam hingga membuat ia tidak bisa untuk naik kembali.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, hati Allen hancur berkeping-keping. Laki-laki lain menyatakan cintanya pada Emily di depannya bukan sesuatu hal yang bisa Allen terima dengan lapang dada. Akan tetapi, ia tidak bisa berbuat lebih pada dua orang yang saling mencintai.


Karena bagi Allen cinta adalah hal tertinggi yang dimiliki oleh manusia dan ia tidak mampu memaksakan untuk orang bisa cinta kepadanya. Oleh karena itu, Allen berangsur-angsur memundurkan badannya meninggalkan dua orang yang saling menyatakan besar cintanya.


"Bagaimana keadaanmu, Lewis?" sempat menjalani operasi dan tidak sadarkan diri, Lewis sudah diambang pintu antara memilih untuk hidup atau mati. Ketika ia akan memilih untuk mati, sebutir air mata mengenai tangannya dan menariknya untuk tetap hidup.


"Aku baik-baik saja Emily," jika hanya menerima tembakan peluru saja mampu membuat Emily mengkhawatirkan dirinya, Lewis rela menerima kehujanan peluru setiap saat.


"kenapa kamu bisa melakukan semua ini Lewis?" melihat Allen buru-buru menjalankan mobilnya, telah memantik Lewis untuk mengikuti kemana ban mobil mahal tersebut menggelinding hingga sampai ke sebuah gedung setengah jadi.


Lewis sendiri sempat menghadapi beberapa preman yang menjaga pintu masuk karena ia kurang hati-hati. Meskipun begitu ia bisa mengalahkan dengan mudah karena kekuatannya yang lebih dari preman-preman tersebut.


Namun, ketika kakinya sudah sampai di titik tempat keributan ia malah melihat sebuah todongan pistol yang mengarah ke dua orang sedang berpelukan.


Tanpa berpikir panjang, Lewis berlari menghadang arah peluru melesat dan berakhir di dadanya.


"Tuhan menginginkan kita bersatu kembali Emily." ucap Lewis dengan lirih.


"aku sangat membencimu Lewis, atas apa yang telah kamu lakukan, " kepala Emily di tenggelamkan ke dada Lewis yang tidak ada perbannya.


"aku sangat mencintaimu Emily Nelson," sekali lagi Lewis menyatakan perasannya yang sangat besar.


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab cerita, agar author semangat untuk updatenya.

__ADS_1


Terimakasih


Love you❤


__ADS_2