Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Ke rumah Lewis


__ADS_3

..."Detik ini siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi"...


...Emily Nelson...


Tubuh Emily ikut berbaring di samping suaminya yang sudah memejamkan matanya hingga pagi hari menyapa mereka berdua. Emily menyiapkan segala keperluan kerja suaminya selepas memasak sarapan pagi dan menyiapkan dirinya untuk kembali bekerja di butik Devina.


"Papa sudah baikan? ". Tanya Emily pada mertuanya yang masih terlihat lemas dan tidak nafsu untuk makan hanya saja ia paksakan agar bisa kembali dekat dengan anaknya.


" Papa, sudah baik sekarang. " Balas Dawson dengan melirik sisi anaknya yang sama sekali tidak ingin memandangnya atau sekedar menanyakan keadaannya.


"Aku pergi dulu jika begitu. " Emily melenggang pergi dari meja makan yang terasa sangat canggung seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lainnya.


"Emily". panggil Devina pada Emily yang baru memasukkan dirinya ke ruang kerjanya.


" Iya Devina? ". Emily membalikkan badannya melihat atasannya.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi putih Emily dengan sangat keras hingga membuat wajah yang menerimanya berputar ke samping dan meninggalkan jejak di sana.


Emily memegang pipinya yang terasa panas dengan menatap tidak percaya Devina yang telah menamparnya.


" Aku sudah menganggap mu saudara sendiri tetapi kenapa kamu mengkhianati ku? "Tanya Devina dengan nada tinggi yang tidak pernah ia lakukan pada Emily karena kedekatan mereka sudah melebihi saudara.


"Devina, apa maksudmu? ". Emily tidak paham dengan apa yang dikatakan Devina.


"Kamu bertanya apa maksud ku? Sungguh luar biasa Emily, kamu sungguh luar biasa. " Devina memutari tubuh Emily dengan tepukan tangan.


"Kamu telah membuat diriku rugi dengan mengecewakan Jessica. Dia adalah pelanggan terbaik yang pernah aku miliki bahkan sangking kecewanya ia menyebarkan kebencian jika butik ini sangat jelek. " Lanjut Devina mengeluarkan amarahnya.


"Aku minta maaf Devina untuk itu, akan tetapi semuanya terjadi karena Jessica merencanakan hal besar untuk balas dendam dan dia melibatkan ku dalam hal ini. " Balas Emily meraih bahu temannya untuk mencoba menjelaskan kejadiannya


"Aku tidak mau tau apapun itu yang aku mau kamu harus ganti rugi. "Devina menepis tangan Emily di pundaknya dengan kasar. Mungkin Devina tidak tahu jika butik nya mampu Emily beli saat ini juga jika ia mau.


" Baiklah, aku akan bayar berapapun yang kamu mau. "Emily menyodorkan cek yang isinya membuat Devina sangat kaget karena di luar dugaan.


" I-ini? ". Tangan Devina bergetar melihat nominal cek pemberian Emily karena sejauh ini gaji darinya untuk Emily jika dikumpulkan tidak sebanyak ini.

__ADS_1


" Itu adalah kepercayaan mu yang sangat murah hingga aku pun mampu membelinya. " Balas Emily sebelum keluar meninggalkan Devina yang masih mematung.


Bukannya langsung pulang ke rumah, Emily malah memilih pergi menemui Fany untuk memenuhi janjinya berkunjung kembali.


"Selamat pagi mama. " Salam Emily dengan mencium pipi kanan dan kiri orang yang masih setia berbaring di ranjang kamarnya.


"Sayang, kamu kesini? ". Emily menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Fany.


" Kebetulan sekali karena hari ini aku akan pulang. Kamu mau kan sayang mengantarkan mama pulang? ".


" Pulang? ".


" Iya, mau kan kamu pulang bersamaku? ".


" i-iya ma. Aku akan mengantarkan mama pulang. "


Fany mengajak Emily masuk rumah yang tidak asing bagi keduanya bagi Emily yang sudah pernah tidur di sana.


"Ini rumah Lewis. " Ujar Fany yang tubuhnya dibopong Emily untuk dipindahkan dari kursi roda ke ranjangnya. Fany kembali ke rumah Lewis karena Lewis pernah mengatakan jika ia boleh kembali ke rumahnya asalkan tidak menganggu dan mencampuri apa yang ia kerjakan.


"Oh." Emily menunjukkan jika ia tidak tahu tentang pemilik rumah ini padahal dia tahu betul siapa pemilik rumah ini.


"Kemari biar aku yang simpan. " Ujar Emily meminta tas tersebut


"Nona Emily? ". Pembantu itu memandang Emily dengan seksama memastikan jika ia tidak sedang salah orang.


" Kamu kenal dia? ". Pembantu menolehkan wajahnya pada orang yang bertanya kepadanya.


" I-iya. " Emily meremas-remas tas yang ia pegang menandakan jika ia sedang gelisah


"Dimana? ". Tanya Fany lagi


Pembantu yang belum sepenuhnya tua tersebut menatap wajah dan tangan Emily sebelum menjawab pertanyaan Fany karena ia berpikir jika Emily sedang ingin menutupi sesuatu.


" Aduh bu, aku lupa dimana ketemunya. " Balas pembantu dengan menyungging mengeluarkan jurus pelupanya sebagai pembantu. Tentu jawaban pembantu tersebut melegakan dirinya.


Pyaar..

__ADS_1


Sebuah benda berbahan kaca jatuh dari tempatnya dan membuat kaget semua orang yang berada di kamar Fany.


"Suara apa itu, ma? ". Tanya Emily pada orang yang tinggal di sini.


" Itu pasti Lewis, coba kamu lihat keadaannya. "


Ragu-ragu Emily mengikuti perintah Fany untuk melihat kegaduhan yang sedang terjadi. Dan benar dugaan Fany jika semua kegaduhan dilakukan oleh anaknya yang pulang dari kerja dengan keadaan mabuk.


"Lewis? ". Dengan cepat Emily mendekatkan diri pada Lewis yang terkapar di lantai dan dikelilingi pecahan vas bunga


Berniat untuk menolong, tubuh Emily malah didorong mundur Lewis hingga tangannya tidak sengaja mengenai pecahan vas dan tentu mengeluarkan darah.


" Minggir lah! ". Lewis sempoyongan mencoba membangunkan dirinya akan tetapi sepertinya ia tidak sanggup untuk itu dan Emily yang melihatnya kembali memberanikan diri untuk membantunya.


Penolakan demi penolakan dilakukan Lewis pada Emily yang terus gigih membantunya hingga berbaring di ranjang.


" Mau mu apa? ". Emily yang akan pergi tangannya dicekal oleh Lewis


" Mau mu apa? hah? ". Lewis yang semula berbaring mendudukkan dirinya dan bertanya pada Emily dengan nada tinggi


" Lewis, lepaskan! ". Emily memutar tangannya agar bisa lepas dari cengkeraman Lewis yang kuat


" Kenapa? Bukankah kamu yang ingin mendekat denganku? Kenapa sekarang kamu ingin aku melepaskan mu? " Lewis tersenyum kecut menatap Emily yang ketakutan dengannya.


"Lewis, lepaskan! ".


" Tidak akan. "


Bukannya melepaskan Emily, tangan Lewis malah menarik tubuh Emily mendekat dengannya dan berakhir terlentang di atas ranjangnya.


"Lewis, lepaskan! " Emily kembali akan bangun akan tetapi tangannya yang di cengkeraman Lewis tetap menariknya untuk tetap dalam posisinya.


💙💙💙


...Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap ceritanya ya supaya author semangat update ceritanya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...Love you❤...


...Ig\=@xymmxy_...


__ADS_2