
..."Hati dan ucapan kadang kala tidak sejalan demi kebaikan"...
...Lewis Lauren...
Sama halnya sebuah kompromi yang dibuat oleh Emily dan Allen untuk kembali membangun hubungan mereka, Lewis berjabat tangan dengan seorang wanita berdiri di depannya.
"Jangan pernah lagi mengancam ku dalam hal ini. " Tegas Lewis dengan menekan setiap katanya karena ia tidak bisa mendengar lagi ancaman yang di berikan oleh wanita yang duduk di depannya dengan sesekali menyesap minumannya.
"Tergantung bagaimana kamu menjalankan perjanjian ini. " Senyuman yang harusnya mengiurkan bagi orang laki-laki malah terlihat memuakkan bagi Lewis.
"Kamu bisa pegang janjiku, karena aku tidak pernah main-main saat berjanji. " Sebagai pebisnis handal sebuah kepercayaan adalah hal yang utama. Jadi, hal yang salah jika ia mempertanyakan janji tersebut kepada Lewis.
"Bagaimanapun aku percaya padamu. Namun jika kau mengkhianati ku, kamu pasti tau akibatnya. "
"Callista." Teriak Lewis dengan mendobrak meja yang memisahkan dirinya dengan wanita cantik duduk santai tanpa bergeming meski Lewis telah membuat kerusuhan.
"Ayolah, Lewis. Jangan gunakan emosimu untuk menyelesaikan semua ini. " Gelas yang masih terisi setengah di tunjukkan ke arah orang menahan emosi.
Ancaman yang digunakan sebagai senjata pamungkas untuk merebut kembali Lewis dari tangan Emily telah berhasil dan terlihat jika sekarang Lewis sedang dalam genggaman pengaruhnya.
Flashback On
Keluar dari toilet umum setelah mengeluarkan apa yang ia tahan, kaki Lewis tertahan untuk kembali melangkah ke depan karena ada sosok wanita yang menghalangi jalannya.
" Senang bisa bertemu denganmu disini Lewis Lauren. " Ucap sosok wanita tersebut dengan melambaikan tangannya
__ADS_1
"Callista, kamu disini?. " Tanya Lewis dengan meneliti wanita yang berpenampilan sangat menawan layaknya model internasional.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku ini seorang model internasional Lewis, jadi bukankah biasa jika aku berdatangan ke berbagai penjuru dunia?. " Tidak seperti bentuk fisiknya yang sempurna, Callista memiliki sifat yang jauh dari kata baik. Setiap apa yang ia miliki, ia selalu memamerkan sebagai pencapaian yang orang lain sulit capai.
"Oh ternyata aku lupa semua itu. " Memilih menyimpang dari jalur yang ia ambil, Lewis meninggalkan Calista tanpa berniat banyak bicara lagi karena Emily sedang menunggu dirinya.
"Apakah kamu masih ingin kembali jika Allen tahu apa yang telah kalian lakukan di belakangnya? . " Kaki Lewis mengambang karena ketika akan melangkah terdengar ucapan Calista yang seolah menakuti dirinya.
"Calista kau?. " Tangan kekar Lewis menunjukkan otot-ototnya karena genggaman yang ia berikan ke Calista begitu kuat hingga wanita tersebut meringis menahan sakit.
"Berani sekali kamu mengancam ku. " Lewis semakin menekan bahu yang terpampang nyata milik Calista
"Aduh, Lewis. Ini sakit sekali. " Teriak Calista memancing pengunjung untuk menolong dirinya dari genggaman Lewis.
"Ada apa ini?. " Tanya salah satu pengunjung berdiri menatap dua orang yang berlawanan jenis
"Jangan pernah berbuat kasar pada wanita. " Kecam laki-laki tersebut sebelum meninggalkan mereka.
"Dengarkan itu Lewis, jangan pernah berbuat kasar pada wanita. " Lewis tidak seperti yang Calista katakan, karena bagi Lewis sendiri wanita adalah hal yang paling berharga di dunia ini.
"Katakan Calista, apa mau mu?. " Dari yang Lewis kenal, Calista bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa ingin menginginkan sesuatu. Dan itu pasti akan melakukan hal yang sama.
"Kembalilah menjalin hubungan dengan ku. " Memiliki Lewis seutuhnya adalah hal yang diimpikan Calista setelah kehilangan Allen untuk menunjang karirnya di dunia model.
"Jangan harap dan anggap semua itu hanya mimpi yang tidak akan pernah terwujud. " Pernah menjalin hubungan dengan Calista merupakan kesalahan terbesar yang pernah ia ambil. Calista selalu menuntut kemauannya tanpa tahu diri dan itu membuat Lewis menjadi ilfil bahkan membenci dirinya.
__ADS_1
"Oke baiklah, aku akan menyebar foto-foto ini keseluruhan dunia. Dan aku harap dunia akan menerima hubungan yang kalian lakukan. " Calista memamerkan kamera di tangannya yang berisi banyak foto perselingkuhan Emily dan Lewis.
"Calista." Dengan emosi, Lewis meraih kamera tersebut dan tanpa berpikir panjang ia membanting nya hingga menjadi berkeping-keping di aspal jalan.
"Oh Lewis, malang sekali nasib kamera itu. Tapi untungnya aku sudah menyalin semua isinya di lain tempat. " Senyum kemenangan ditampilkan Calista untuk mengejek orang yang sudah siap menerkam dirinya jika saja dia bukan seorang wanita.
"Jadi bagaimana Lewis, bisakah kita membuat perjanjian dan menyelesaikan semua masalah?. "
Menyelesaikan masalah? Apa dia tidak menyadari bahkan kali ini ia juga sedang membuat masalah dengannya.
"Apapun itu aku menyetujui perjanjian itu. " Tidak ada pilihan lain selain menerima perjanjian yang diajukan Calista, karena bagi Lewis yang terpenting adalah martabat dari Emily.
Tidak bisa dibayangkan ketika foto-foto tersebut disebarluaskan di dunia maya maka semua yang dimiliki Emily pasti akan hilang dalam sekejap. Dan Lewis tidak akan pernah bisa melihat semua itu terjadi pada orang yang ia sayangi. Lebih baik jika ia menghancurkan hidupnya sendiri dari pada harus mengajak Emily sengsara.
"Pilihan yang bagus Lewis. Kita mulai dari kata menjauh. Mulai saat ini jauhilah Emily dan jangan pernah berpikir untuk bisa bersama kembali. " Meski mulutnya menyetujui perjanjian dengan Calista, namun hatinya sama sekali tidak.
"Pergilah dan temui Emily, katakan bahwa hubungan ini hanyalah sebagai permainan. " Lewis menuruti perintah Calista untuk kembali ke tempat Emily berada dan akan menjauhkan diri dari orang yang sama sekali tidak ingin ia jauhi.
Flashback Off
"Jangan pernah bermain-main dalam hal ini Calista. " Ancam Lewis
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya, supaya author semangat untuk updatenya
__ADS_1
Terimakasih
Love you❤