Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Dia adalah anakmu


__ADS_3

..." aku berjalan menginginkan sesuatu, tapi aku malah mendapatkan sesuatu lainnya"...


...Dawson...


Tempat yang biasanya ia gunakan untuk merebahkan tubuhnya, kini ia rubah menjadi tempat pelampiasan emosi yang sudah memenuhi seluruh dirinya.


Pyaar


Benda yang terbuat dari kaca tersebut pecah hanya dalam satu hantaman keras genggaman tangan Allen. Namun, sebagai imbasnya ia harus mengeluarkan darah karena tergores tajamnya kaca.


Menunggu semalaman di ruangan yang penuh bau obat adalah hal yang paling Allen benci selama ini. Karena ia tidak menyukai tempat dimana orang harus merasa jika mereka sedang membutuhkan orang lain. Namun, demi orang yang ia sayangi ia rela melakukannya sama seperti ia lakukan pada Bella dahulu.


"Aku sangat mencintaimu Emily," sofa yang sedari dulu diam di dalam tempat harus berpindah tempat karena tendangan kaki Allen yang menggeser nya hingga posisinya terbalik.


"kenapa harus Lewis?" Berharap istrinya melihatnya saat pertama kali sadar dari masa kritisnya, Allen berjaga semalaman. Namun, ia malah mendapatkan hal yang berbeda dari keinginannya. Nama dirinya yang seharusnya dilontarkan bibir pucat Emily untuk pertama kalinya tidak ia dengar melainkan nama orang lain.


"aku mencintaimu Emily Nelson," teriakan keras di lontarkan Allen hingga menggaung di ruangan yang sudah tidak berbentuk tempat berpenghuni.


Dari semua yang dilakukan Allen untuk melampiaskan emosinya tidak pernah luput dari penglihatan sosok laki-laki yang berdiri diambang pintu.


Dirinya tidak bisa memberanikan diri untuk mendekati anaknya yang sangat tinggi emosinya. Karena hubungannya juga tidak sedang baik-baik saja untuk bisa meminta anaknya tetap tenang.


Namun, sebagai seorang Papa yang sangat menyayangi anaknya, Dawson tidak ingin tinggal diam saja. Ia pergi berangkat ke rumah sakit yang sama untuk menemui sosok Lewis pesaing bisnisnya. Karena ia memahami betul jika saat ini menantunya telah mencintai orang tersebut.


Beberapa menit melewati sibuknya jalanan dan ruangan-ruangan yang terisi oleh orang sedang sakit, Dawson telah sampai di tempat yang hanya orang-orang mampu bisa menempati ruangan tersebut.


tok tok tok

__ADS_1


Jemari Dawson mengetuk beberapa kali pintu yang menjadi jalan untuk bisa masuk ke ruangan VVIP. Dan tanpa lama pintu yang ia ketuk pun dibuka oleh orang yang berada di dalamnya.


Akan tetapi, setelah pintu tersebut terbuka lebar-lebar nampak lah sosok wanita berambut pendek di atas bahu yang membuat sosok tersebut menjadi lebih muda dari usianya hingga membuat Dawson mengingat masa lalunya.


"Fany," gumam laki-laki dengan melebarkan matanya menatap wanita yang pernah mengisi ruang hatinya.


"Dawson," ganggang pintu yang masih dipegang oleh Fany, ia remas menggunakan tangannya yang berkeringat.


"Ma, siapa?" Lewis yang duduk di ranjang berteriak memanggil Mama nya yang sudah lama membuka pintu dan belum juga kembali.


"i-ini.." Fany bingung harus menjawab apa pada anaknya, karena ia tahu bahwa Lewis sangat membenci Dawson.


Dawson paham betul suara dari orang yang berteriak memanggil nama Fany, karena mereka pernah dekat sebagai rekan bisnis. Namun, ada yang berbeda dari panggilan orang tersebut kepada Fany dan itu semakin membuat Dawson melebarkan matanya sebelum ia menyingkirkan tubuh Fany untuk masuk ke ruangan Lewis.


Baru beberapa langkah kaki Dawson masuk ke ruangan yang sangat luas nan berbeda dengan yang lainnya, seorang laki-laki yang duduk di ranjang menegang.


"Mau apa kamu kesini?" tanya sinis Lewis dengan menatap tajam pada orang yang sudah beruban namun masih nampak karismatik.


"hahaha, pertanyaan macam apa ini?" ruangan yang harusnya menjadi tempat bersedih hati malah terpenuhi tawa yang dipaksakan oleh Lewis.


"katakanlah! apakah dia benar anakku?" Dawson menyentak Fany hingga wanita tersebut melonjak kaget.


"kenapa baru menanyakan soal ini?" tiga orang yang di dalam ruangan hanya bisa saling melempar pertanyaan tanpa ada jawaban.


"katakanlah, Fany!" tangan Dawson mengguncang tubuh wanita yang hanya diam seribu bahasa tanpa berniat menjawab pertanyaannya.


"apakah dia anakku?" sekali lagi Dawson mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


Bagaimana ia tidak kekeh bertanya kepada Fany siapa Lewis sebenarnya, karena terakhir kali ia bertemu dengan wanita yang ia cintai, Fany sedang mengandung anaknya.


"Iya, dia adalah anakmu," balas Fany dengan lirih namun bisa didengar oleh dua orang yang lebar matanya mirip.


"Jadi, dia?"


"iya, dia adalah anakmu Dawson." ucap Fany penuh penekanan dalam setiap katanya.


Dawson diam seketika mendengar jawaban wanita yang pernah ingin ia ajak membangun masa depan, telinganya mencerna dari setiap kata yang ditekan.


Dawson tahu siapa nama asli dari Lewis, namun ia tidak menyangka bahwa Lewis adalah anaknya dengan Fany Lauren.


"pergi!" Disaat masih mencoba memahami situasinya sekarang, suara anaknya melengking mengusir dirinya.


"kenapa aku harus pergi?" balas Dawson dengan tegas.


"Aku bilang pergi!" Ucapan Lewis ditekan dengan tangannya menunjuk sebuah pintu yang masih terbuka selepas Dawson memasukinya.


"sebelum aku pergi, aku ingin meminta satu hal darimu,"


"apa?"


"Tinggalkan Emily, biarkan dia bahagia dengan suaminya," ujar Dawson langsung pada intinya ia datang ke ruangannya dan mendapatkan berita besar dari masa lalunya.


💙💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap ceritanya, supaya author semangat untuk updatenya

__ADS_1


Terimakasih


Love you❤


__ADS_2