
..." Terkadang kita harus melupakan ego demi melihat orang yang kita sayangi bahagia "...
...Allen Dawson...
"Ayo Mas, kita makan dulu. " Panggil Emily pada orang yang fokus ke laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Makanlah terlebih dahulu. " Balas Allen menolak ajakan Emily. Dalam pikiran Allen, ia akan ketemu Dawson dalam satu meja makan dan itu membuat Allen tidak menginginkan semua itu terjadi.
Namun, semua itu berbanding terbalik dari istrinya lakukan. Emily selalu berusaha mendekatkan orang tua dan anak yang sedang berperang dingin kembali bersama menyelesaikan masalah yang ada.
"Jika ingin memulai semuanya, kenapa harus ada masa lalu mencampuri nya?. " Rencananya yang sudah ia susun tidak ingin gagal sia-sia saja hanya karena Allen tidak menyetujui ajakannya.
"Nanti saja Emily, aku akan menyusul. " Mata Allen kembali difokuskan ke laptop di depannya.
"Aku gak akan memulai makannya sampai Mas Allen datang ke meja makan. " Ujar Emily sebelum ia meninggalkan Allen suaminya.
Emily menggertak Allen agar suaminya mau ikut turun ke meja makan bersama Dawson yang sudah duduk dan juga belum memulai makannya karena Emily tidak memulainya. Sampai derap langkah sosok laki-laki bertubuh tegap berhenti di salah satu bangku kosong.
"Kamu belum makan?. " Tanya Allen pada orang yang piringnya masih bersih belum ternodai.
''Kita sedang menunggu Mas Allen. " Balas enteng Emily.
Sebenarnya perut Emily terus berbunyi untuk meminta mengisi makanan. Namun karena terikat dengan ucapannya, Emily menahan semua itu demi memancing suaminya datang menemuinya.
"Jika aku tidak datang ke sini?. "
"Maka kita tidak akan makan. "
"Kuat sekali dirimu. " Piring di depan Emily diambil alih oleh Allen dan diisi berbagai makanan untuk dihidangkan istrinya.
Niat Allen memang tidak akan datang ke meja makan ini, namun pikirannya tidak pernah berhenti memikirkan perkataan istrinya bahwa ia tidak akan makan sebelum ia datang ke sana. Dan benar saja, Emily dan Dawson sama sekali belum menyentuh makanan yang sudah dihidangkan karena menunggu dirinya.
__ADS_1
"Cepat makanlah!. " Titah Allen memberikan perhatiannya pada orang yang tersenyum manis kepadanya.
Dari semua perlakuan Allen di meja makan, Dawson tidak ingin meninggalkan setiap momen yang tercipta. Dari penglihatannya, Dawson melihat bahwa Allen sudah mulai memberikan perhatian pada Emily sama seperti dulu ketika Bella masih ada.
"Mas, Pa. Esok adalah hari jadi pernikahanku dengan Mas Allen. " Emily mengingat bahwa besok adalah hari dimana ia memantapkan dirinya untuk mengambil keputusan menikah dengan pengusaha nomer satu di kotanya tanpa memperdulikan masa depan yang akan terjadi.
"Lalu?. " Tanya Dawson dengan mengiris daging di piringnya untuk ia santap.
"Apakah tidak ada niatan untuk merayakannya?. "
"Dirayakan?. " Tanya Allen memastikan. Allen sendiri lupa bahwa ia sudah hampir satu tahun membangun rumah tangga bersama Emily, karena bagi Allen hari tersebut sangat tidak penting untuk ia ingat. Menduakan istrinya yang ia sayangi meski itu permintaan Bella sendiri, tidaklah hal yang Allen inginkan.
"Iya, Mas. Ide yang bagus bukan?. "
"Aku juga setuju dengan Emily, bukankah kita belum pernah memperkenalkan di depan umum Emily sebenarnya?. " Timpal Dawson.
Sungguh malang nasib Emily, menikah dengan orang yang sudah memiliki istri membuat ia harus merahasiakan statusnya sebagai seorang istri kedua.
"Baiklah besok kita akan mengadakan pesta hari pernikahan kita sekaligus memperkenalkan dirimu pada semua orang." Balas Allen menyetujui permintaan Emily.
Setiap tahun keluarga Dawson selalu merayakan hari pernikahan Allen waktu masih dengan Bella, dan sekarang setelah Bella tiada Emily akan menggantikannya.
"Kita akan undang semua orang yang memiliki kerja sama dengan kita. " Dawson berencana membuat pesta yang meriah untuk anak dan mantunya agar membuat Emily dan Allen semakin mendekat.
"Apakah semua pebisnis akan diundang tanpa terkecuali?. " Emily memastikan pernyataan Dawson.
"Tentu, bukankah ini pesta pertama menantuku?Kita akan buat semua tamu undangan akan kagum dengan pesta yang akan kita selenggarakan. "
"Terimakasih Papa. " Memulai awal hubungannya dengan keluarga Dawson, Emily menggunakan cara lamanya dengan mengembalikan kebiasaan makan bersama yang entah sudah berakhir berapa lama.
"Mas, bagaimana menurutmu?. " Emily menatap orang yang masih menghabiskan makanannya dengan lahap.
__ADS_1
"Lakukanlah yang bisa membuat dirimu bahagia. " Balas Allen dengan meninggalkan meja makan dan memilih kembali ke kamarnya sedangkan Emily membuntuti di belakangnya.
"Jika Mas Allen tidak menyukainya, aku bisa membatalkan semua ini. " Dari raut wajah Allen, Emily melihat jika suaminya tidak begitu setuju dengan usulannya.
"Apakah aku mengatakan semua itu?. " Tanya Allen tanpa mengalihkan fokusnya pada ponsel yang ia genggam.
"Tidak, tapi wajah Mas Allen menunjukkan hal demikian. "
"Apakah tertulis di wajahku bahwa aku tidak menginginkan semua itu? . "
"Mas ayolah, aku melihatnya. "
"Besok adalah hari penting bukan dalam hubungan kita? Lalu untuk apa kamu mencemaskan hal lainnya yang tidak penting. "
"Bagaimana aku bisa bahagia jika Mas Allen tidak bahagia. "
"Aku akan bahagia jika kamu bahagia. " Pungkas Allen menutup bantahan Emily.
Bukannya Allen tidak senang atas rencana perayaan hari pernikahannya, akan tetapi Allen merasa bahwa ia masih marah dengan bapaknya jadi ia tidak suka jika harus bersama Papa nya yang mengecewakan tersebut.
"Bagaimana pun Mas Allen harus mau melakukan perayaan ini. " Gumam Emily dengan ikut duduk di sofa samping suaminya menerima panggilan telepon.
Emily bukan orang yang suka perayaan apalagi harus dipamerkan di depan umum dengan acara mewah. Emily sendiri lebih menyukai hal-hal sederhana dengan banyak kasih sayang di dalamnya. Dan hal tersebut Emily pernah dapatkan dari sosok Lewis Lauren.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
Love you❤
__ADS_1