Dua Mata Hati

Dua Mata Hati
Rasa Malu


__ADS_3

..."Aku tidak bisa mengendalikan yang seharusnya aku kendalikan. "...


...Emily Nelson...


Efek obat yang diberikan Lewis menjadikan Emily tidur dengan bantalan bahu kuat Lewis sedangkan matanya terpejam tanpa memperdulikan dimana dirinya sekarang.


"Ternyata dia sudah tidur. " Lewis mengangkat tubuh Emily dan mencari penginapan terdekat karena ia jalan kaki mengingat mobilnya masih di mini bar saat ia mengikuti langkah Emily yang mabuk.


Sampai pagi cerah menyapa Emily, ia baru membuka kesadarannya yang hilang beberapa waktu lalu.


"Dimana ini? ". Rambutnya yang kucel ia terus garuk-garuk karena terasa gatal dan matanya menjelajahi tempat asing baginya.


" Lewis ". Emily sosok laki-laki masih berbaring di atas sofa dengan terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.


" Huh. " Rasa hausnya yang mencekat tenggorokannya membuat Emily meneguk air di meja samping ranjangnya karena ia merasa masih ada efek mabuk tadi malam di kepalanya.


"Masih pusing? ". Suara serak orang yang baru bangun dari tidurnya mengalihkan fokus Emily ketika minum untuk menoleh kearahnya.


" Lumayan. " Jawab Emily dengan meletakkan kembali gelasnya yang sudah kosong ke tempat semula.


"Aku harap ini adalah terakhir kalinya dirimu minum. " Ejek Lewis dengan menyibakkan selimutnya untuk menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aduh, payah banget sih aku. " Emily juga menyibakkan selimutnya untuk turun dari ranjangnya. Namun, ia sedikit berpikir setelah melihat pakaiannya yang ia kenakan sekarang.


"Kemarin aku tidak memakai pakaian ini. " Emily meneliti pakaian yang ia kenakan dari atas hingga bawah.


"Kamu yang ganti pakaianku. " Tuduh Emily pada orang yang baru menutup pintu kamar mandi dengan rambut masih basah.


"Iya." Balas singkat Lewis yang menggosok rambutnya dengan handuk agar bisa kering.


"Jahat banget sih. " Pukulan kuat Emily darat kan ke dada Lewis yang terekspos tanpa tertutup kain.


"Yang penting untung bagiku. " Balas cuek Lewis mengenakan kaosnya.


"Cepat mandi! " Titah Lewis pada orang yang hanya diam menyilang kan kedua lengannya di depan dada dengan bibir di monyongin ke depan.


"Pulanglah, aku akan pulang sendiri. " Ketus Emily dengan kembali memalingkan wajahnya menghindari tatapan Lewis.


Perasaan Emily sedang campur aduk di sana karena Lewis telah mengganti pakaiannya yang secara tidak langsung Lewis pasti melihat semua lekuk tubuhnya tanpa busana.


"Kenapa? Apa kamu sedang malu sekarang? ". Ledek Lewis yang gemas dengan mencubit pipi merah Emily karena malu.


" Lewis. " Teriak Emily menjadikan Lewis menutup telinganya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Cepat mandi. " Lewis mendorong tubuh Emily ke dalam toilet meski terus ada penolakan dengan teriakan di sana.


"Nah, gini kan cantik. " Setelah beberapa waktu menunggu, kini Emily sudah keluar dengan wajah lebih segar.


"Gak butuh pujian mu. "


"Ayo makan. " Tanpa aba-aba Lewis menyeret lengan Emily keluar kamar


"Siapa yang mau makan dengan mu? ". Tampik Emily dengan menarik kembali lengannya.


Dalam keegoisannya yang tinggi saat ini malah membuatnya malu karena perutnya sedang menyetujui ajakan Lewis dan tentunya Emily sedang mengutuk semua itu yang terjadi pada saat tidak tepat.


" Bagaimana? Apa malu mu sedang bertambah sekarang? ". Ejek Lewis dengan senyuman menjengkelkan bagi Emily.


Dengan masih dikelilingi rasa malu, Emily akhirnya membuntuti langkah Lewis dengan menarik tubuhnya untuk pergi ke restoran mengisi perutnya yang sangat biadab.


💙💙💙


Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya


Terimakasih

__ADS_1


Love you❤


__ADS_2