
..."Selamat pagi"...
...Lewis Lauren...
Sinar pertama matahari pagi telah membangunkan kesadaran dua orang yang terlelap dari tidurnya. Di atas rerumputan dengan bantalan tangan Lewis, ternyata sudah memberikan kesan nyaman bagi orang yang memeluk tubuh orang di sampingnya.
"Selamat pagi. " Ucap Lewis dengan menyingkirkan rambut pirang Emily yang menutupi sebagian wajah cantiknya ke belakang telinga.
"Pagi." Senyuman manis terpancar di wajah orang yang baru membuka matanya.
Mereka tidak menyadari bahwa sekarang dia menjadi tontonan banyak orang mengenakan pakaian olahraga.
"Apa yang kalian lakukan disini? ". Seorang petugas berdiri tepat di atas kepala dua orang manusia menggenakan seragam keamanan setempat.
Emily dan Lewis mendongakkan kepalanya melihat sumber suara itu berasal. Keduanya mengalihkan pandangannya ke samping saling pandang memahami situasinya sekarang.
" Pak, kita sedang olahraga. " Emily dan Lewis bangun dari tidurnya dan memperagakan beberapa gerak orang olahraga untuk mengelabuhi petugas yang nampak tegas dari wajahnya.
"Ayo, ikut aku ke kantor polisi. " Ucap petugas dengan langsung menggelandang lengan Lewis.
"Pak, kita sedang olahraga. " Teriak Emily mencoba menghalangi langkah petugas yang menyeret Lewis dengan tubuh langsing nya.
"Olahraga dengan pakaian seperti ini? ". Mata petugas menjelajah pakaian kedua orang yang saling bertatapan mengisyaratkan sesuatu.
" Apa yang salah dari pakaian kita? ". Balas Emily dengan tersenyum manis berusaha merayu agar bisa lepas dari petugas yang menyebalkan.
"Ayo, jangan banyak tanya. " Emily ikut di seret petugas lengannya sama hanya dengan Lewis dan memborgol tangan keduanya jadi satu.
Dalam langkahnya yang di belakang petugas, Emily dan Lewis merencanakan sesuatu untuk bisa lepas dari genggaman petugas.
"Pak, aku ingin ke toilet. " Ucapan Emily menghentikan langkah semuanya .
"Tunggulah sebentar sampai kita sampai di kantor. " Bentak petugas dengan menyeret keduanya kembali.
"Bagaimana bisa aku menahannya, Pak. Ini sudah di ujung dan bisa saja kapanpun akan keluar. " Ekspresi Emily memang menunjukkan jika ia sedang menahan sesuatu untuk tidak keluar dari sana.
"Kenapa kamu tidak bisa menahannya di saat situasi seperti ini. " Gerutu petugas memarahi Emily
"Baiklah, cepat selesaikan urusanmu. " Petugas mendorong tubuh Emily dan Lewis ke dalam toilet sedangkan ia menunggu di luar.
__ADS_1
"Emily, kita harus lari setelah kita keluar dari toilet sialan ini. " Bisik Lewis. Emily memang berpura-pura untuk pergi ke toilet karena ia harus mengatur strategi bisa lari bersama Lewis.
"Dalam hitungan tiga kita langsung lari. " Ujar Lewis dengan sedikit membuka pintu toilet melihat situasi di luar.
Setalah dirasa aman, Emily dan Lewis berjalan pelan keluar mengenakan kerudung wajah agar tidak terlihat petugas yang sedang melihat sekitar.
Mata petugas merasa aneh dengan dua orang yang berjalan keluar toilet berjalan cepat dan tangannya saling bergandengan.
Dari pakaian yang mereka kenakan, petugas seperti mengenali siapa orang tersebut karena terasa tidak asing baginya.
"Hei, tunggu. " Teriak petugas berlari mengejar dua orang yang sekarang juga berlari menjauhinya.
"Lari, Emily. " Titah Lewis dengan berlari lebih cepat dari pada wanita yang berada di sampingnya.
"Berhenti." Petugas terus saja mengejar Emily dan Lewis .
Mereka semua seperti sedang beradu akting film yang mengharuskan mereka berlari melewati beberapa orang berolahraga hingga merusak beberapa barang yang menghalangi jalan mereka.
Dalam kejar-kejaran ini dimenangkan oleh Emily dan Lewis yang sudah meninggalkan jauh petugas karena ia terjebak dalam keramaian kendaran yang lewat.
"Lewis, aku sudah gak kuat. " Berlari menyeimbangkan langkah Lewis ternyata bukan hal yang mudah untuk Emily lakukan. Butuh beberapa kali ia mengambil waktu untuk mengumpulkan tenaganya dalam berlari.
"Duduklah! . " Perintah Lewis mendudukkan dirinya dan Emily di bangku yang tersedia agar Emily bisa kembali mengembalikan tenaganya.
"Ini semua gara-gara kamu, Lewis. " Ujar Emily dengan nafas yang belum teratur.
"Kenapa aku? Salahkan saja dirimu yang tidur tidak tau tempat. " Awalnya tidak ada niatan untuk tidur di tempat umum hingga pagi menyapa. Namun, melihat Emily sudah jauh ke alam mimpinya, Lewis tanpa sadar juga menyusul Emily hingga seorang petugas menegur mereka.
"Tapi jika kamu tidak punya ide lari mungkin aku tidak akan kelelahan seperti ini. " Timpal Emily tidak mau disalahkan.
"Oke terserah kamu saja. " Lewis mengalah dari perdebatan ini karena ia tidak akan bisa mengalahkan Emily jika dalam perdebatan.
Peluh yang menetes di pelipisnya karena jauh berlari membuat Emily berusaha menghapusnya menggunakan tangannya. Namun tampa sadar ia juga menggeret tangan Lewis ikut mengusap pelipisnya.
"Aduh, Lewis. Kita masih dalam keadaan seperti ini. " Emily melihat tangannya dan tangan Lewis masih terborgol.
"Lalu? ". Tanya enteng Lewis
" Lalu, katamu? ".
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa kemana-mana harus terus bersamamu. " Lanjut Emily dengan kesal karena tidak bisa membayangkan bisa terus bersama Lewis.
"Aku rasa sangat menyenangkan dengan bisa terus dekat denganmu. " Lewis menunjukkan ekspresi yang berbeda dengan Emily tunjukkan sekarang.
"Aku tidak mau tahu, bagaimanapun kamu harus cari cara agar kita bisa lepas. " Emily langsung berdiri dari duduknya hingga menarik juga orang yang sedari tadi duduk bersamanya.
"Emily, bisakah kamu berikan aba-aba jika ingin melakukan sesuatu? . " Ujar Lewis karena apa yang dilakukan Emily telah memberikan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Makanya cari cara supaya kita bisa lepas dari borgol sialan ini. " Bukannya minta maaf, Emily malah memarahi Lewis
"Baiklah, kita jalan aja dulu sampai menemukan cara bisa membuka borgol ini. "
Lewis dan Emily melangkah dengan memikirkan cara agar bisa membuka borgol mereka karena meminta tolong orang di sekitar tidak ada gunanya malahan mereka acuh tak perduli.
"Lewis, aku pengen pipis. " Ucap Emily menghentikan langkah Lewis dan menatapnya aneh.
"Tahanlah, Emily. " Balas Lewis dengan kembali melangkah pergi.
"Bagaimana aku bisa tahan jika ini sudah di ujung yang akan keluar kapanpun dia mau. " Gerutu Emily yang menampilkan wajah menahan sesuatu untuk tidak keluar sekarang sama seperti tadi ia lakukan pada petugas.
"Kamu sungguh menyebalkan Emily. " Lewis dan Emily mencari toilet terdekat untuk menuntaskan kebutuhan Emily yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Kemana langkah Emily pergi, Lewis terus membuntuti tanpa kenal bahwa ini adalah area wanita dan laki-laki dilarang memasukinya.
Lewis duduk di depan pintu dimana di dalamnya terdapat Emily mengeluarkan sesuatu.
Dalam situasi yang Lewis alami saat ini tentunya ia sangat canggung karena ternyata terdapat beberapa wanita keluar dari pintu menatapnya aneh.
"Mau apa kamu di toilet wanita? ". Tanya salah satu wanita tersebut menghakimi Lewis yang tetap duduk di tempat.
" A-aku.. " Lewis yang sangat tegas dalam hal apapun harus bicara gagu di depan banyak wanita yang mengerubungi dirinya. Lewis bingung harus jawab apa pada mereka.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
Love you❤
__ADS_1