
..."Semua harus di kompromi kan agar bisa berjalan semestinya"...
...Allen Dawson...
Sreet
Decitan suara rem mobil tepat di depan dua orang yang hanya diam dan terhanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Allen, ayo. " Kaca depan dibuka dan Alex berteriak di tempat ia duduk di kursi pengendali stir.
Ragu-ragu Allen mendekati mobil untuk masuk ke dalam nya. Namun masih diambang pintu mobil, dirinya memutar badannya melihat orang yang hanya diam tanpa berkutik.
"Maukah kamu pergi dengan ku?. " Emily yang merasa diberikan pertanyaan langsung mendongakkan kepalanya menatap sorot mata yang menatapnya.
"Sekali lagi aku tanya, apakah kamu mau ikut pergi dengan ku?. " Ulang Allen dengan penuh penekanan . Emily menegakkan tubuhnya dan dengan ragu-ragu ia berjalan mendekati suaminya.
"Jika mau, masuk lah!. " Emily memilih masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Allen duduk di sampingnya.
Dalam perjalanan untuk sampai ke rumah besar Dawson, di dalam mobil hanya beberapa pertanyaan Alex yang mengisi perjalanan dan tentunya Alex berspekulasi bahwa sedang ada perang batin kedua orang yang duduk di belakang.
Allen dan Emily masuk ke rumah yang megah layaknya istana. Namun, terasa sepi karena yang mengisi adalah orang pemilik sedang dalam perang batin.
"Emily, kamu sudah datang sayang?. " Sambutan hangat diberikan Dawson melihat kedatangan Emily bersama suaminya.
"Iya pa. Bagaimana keadaan Papa?. " Terakhir kali keadaan Dawson kurang baik karena harus bertengkar bersama anaknya yang tidak ingin mendengar penjelasannya.
"Baik. Bagaimana liburanmu ke Paris?. " Dawson mengetahui apa saja yang dilakukan Emily lewat Robert besannya. Karena Dawson sendiri tidak rela jika menantunya harus jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Dan Emily, yang mendapatkan pertanyaan langsung melirik orang yang ada di sampingnya. Allen yang merasa dilirik Emily, ia lebih memilih masuk ke kamar terlebih dahulu meninggalkan dua orang yang berbincang-bincang.
Keputusan Allen mengajak Emily kembali ke rumah adalah kejujuran. Kejujuran Emily yang mau mengatakan semuanya dan tidak ada hal yang penting di dalam hubungan selain kejujuran.
Allen juga merasa jika dirinyalah yang bersalah dalam kasus perselingkuhan Emily. Tindakannya yang tidak pernah memberi perhatian lebih pada istrinya memang pantas jika Emily mencintai orang lain selain dirinya. Kesempatan kedua telah Allen pilih setelah semuanya berkompromi.
Ceklek
Suara pintu kamar dibuka dan sosok wanita masuk ke dalamnya.
" Apa Mas Allen merasa bahwa keputusan ini tepat?. " Ucap Emily dengan berdiri melihat punggung orang yang berdiri di depan jendela kamar melihat luasnya pekarangan rumah Papa nya.
" Apa keputusan ku salah?. " Dari sini Allen mengambil keputusan sepihak akan tetapi sebelumnya Allen juga menawarkan istrinya untuk ikut atau tidak.
"Aku sedang bertanya kepadamu Mas. "
"Aku tidak bisa Mas jika tidak ada penjelasan. " Tekan Emily dengan menautkan tangan halusnya bersama tangan Allen.
" Katakan terlebih dahulu alasanmu mau ikut kembali! Bukankah kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu sayangi. " Ketidakpercayaan Allen pada Emily yang mau ikut kembali pulang bersamanya masih ia pikirkan.
Bukan hal mudah mau menerima ajakannya dan meninggalkan rasa cintanya. Karena tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain cinta.
" Balas dendam. " Ucap tegas Emily membuat Allen bingung dengan perkataannya
"Ma-maksudnya?. "
" Aku telah salah melangkah dan aku ingin menghukum diriku saat ini. "
__ADS_1
"Atas kesalahan yang tidak pernah kamu buat?. "
"Lantas apa yang harus aku lakukan Mas? . " Kini nada bicara Emily ditinggikan karena dia merasa emosi pada dirinya sendiri.
"Pergilah dan hiduplah bersama cintamu. " Titah Allen dengan menunjuk pintu keluar kamarnya
"Bukankah aku sudah memutuskan untuk tinggal disini?. " Tidak ada gunanya Emily mengejar cintanya, karena sekarang cintanya sudah menjauh darinya. Dan jika ia kembali pulang lagi, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Robert.
"Aku tidak bisa hidup dengan paksaan Emily." Tangannya diambil kasar dari genggaman gadis yang sedang menahan air matanya tidak jatuh.
"Dari awal, hubungan kita didasari oleh paksaan Mas. " Betul apa yang Emily katakan. Bukan hanya Emily saja yang terpaksa menikah namun Allen pun menikah karena paksaan istrinya yang sedang sekarat.
Dan sekarang Allen mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup dengan paksaan? Sungguh lucu sekali.
"Sekali lagi kita mencoba dengan paksaan Mas. Dan kita akan bisa memutuskan jika semuanya sudah tidak bisa dijalankan lagi. "
"Baiklah, ayo kita coba. "
Allen mengelus puncak kepala Emily sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Maafkan aku Mas karena telah memberi pilihan yang rumit dalam hubungan ini. " Gumam Emily dengan mengusap bulir air matanya yang sudah mengalir.
💙💙💙
Jangan lupa berikan like vote dan komentar dalam setiap bab ceritanya supaya author semangat untuk updatenya
Terimakasih
__ADS_1
Love you❤