Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 100


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat sekali. Tak terasa kini usia kehamilan Delisa sudah memasuki usia ke tujuh bulan. Di kediamannya sudah ramai dari kalangan para ibu-ibu jam'iyah dan juga anak-anak yatim piatu karena Revano mengundang ke acara tujuh bulanan istrinya.


Biasanya, tradisi ini dilakukan pada saat usia kehamilan telah menginjak tujuh bulan. Diadakannya acara ini dengan tujuan agar calon ibu dan calon bayi mendapatkan keselamatan sejak dalam kandungan hingga tumbuh dewasa nanti.


Walaupun Revano mengulangi acara tujuh bulanan untuk ke yang dua kalinya, tetapi bagi Delisa ini adalah acara yang pertama bagi Delisa.


Pukul 06.00 pagi, Delisa sudah cantik dengan menggunakan aksesoris bunga melati pada kepalanya, dan lilitan sarung pada tubuhnya.


Setelah para ibu-ibu jam'iyah selesai melakukan pembacaan doa nya, barulah Delisa di mandikan dengan taburan bunga pada air nya. Di mandikan oleh Lilis, Bi Romlah, Bi Aam serta beberapa ibu-ibu jam'iyah yang ingin memandikannya. Delisa tidak kuat dingin, ia langsung meminta Revano menggendong dirinya.


Mang Endang membagi amplop kepada para anak yatim piatu yang sudah di beri tugas oleh Revano untuk membagikan nya.


Di dalam kamar, Revano segera menurunkan Delisa di bath-up dan mengisinya dengan air hangat.


"Mas, dingin sekali ..." Delisa menggigil.


"Iya sayang, sudah selesai acaranya kok ... mandi sebentar lalu pakai handuknya ya, Mas keluar dulu ambil pakaian kamu, Yang."


"Iya, Mas."


Delisa segera mengguyurkan seluruh badannya pada shower di atas bath-up. Hangat sekali rasanya, tidak seperti tadi yang air dingin yang membasahi tubuhnya, di tambah semilir angin pagi membuat Delisa menggigil kedinginan.


Revano masuk ke dalam mandi tanpa mengetuk pintu dulu, ia langsung mengangkat tubuh istrinya yang sudah berbalut handuk dan meletakannya di bibir kasur.


"Masih dingin? Sudah Mas matikan AC nya."


Revano dengan telaten mengolesi bahu Delisa dengan minyak angin agar hangat, tak hanya bahu, Revano juga mengolesi nya pada bagian perut, leher dan juga kaki.


"Terimakasih, Mas. Sumpah ini dingin banget rasanya ..." Delisa memeluk tubuh Revano, mencari kehangatan.


"Pakai baju dulu sayang biar hangat, terus makan." Revano membelai kepala istrinya dengan lembut.


"Hm iya, Mas." Delisa memakai baju nya di hadapan Revano, ia sudah memakai pakaian dalam nya di kamar mandi tadi.


"Mas, ayo kita keluar ... Masih ada tamu kan? nggak enak jika kita lama-lama di dalem, Mas."


"Ayo sayang, beneran kan sudah nggak dingin lagi?" Revano membantu Delisa untuk berdiri.


"Sedikit, Mas. Tapi sudah nggak terlalu." Delisa berjalan memegang lengan suaminya dan menuruni anak tangga pelan.


Revano sudah melarang istrinya agar pindah kamar saja selama trimester 3 ini, tapi Delisa kekeh tidak mau karena ia sangat suka dengan pemandangan langit dari atas balkon nya.


Di bawah sudah sepi dan tapi tidak terlalu sepi karena masih ada teman Lilis yang sedang bergosip ria di sofa ruang tamu.


Revano mengajak Delisa ke halaman rumah depan, Aurel memakai gamis dan hijab membuat Revano dan Delisa sangat suka melihatnya, putrinya semakin lucu dan terlihat dewasa saja.


"Mommy, gerah! Lepas ya? Sudah boleh kan?"


"Iya sayang, boleh ..." Delisa membantu membuka kerudung Aurel dan membawanya di tangan.


"Mas ingin ke Roy dulu ya sayang, kamu duduk saja disini, apa mau ikut?"


"Disini saja, Mas." sahut Delisa.


Citra dan Sani pun ikut dalam kegiatan 7 bulanan temannya, setelah bersalaman sebelum acara di mulai dengan Delisa, Delisa tak melihatnya lagi, mungkin sudah pulang.

__ADS_1


"Mommy, Aurel mau bobo lagi ..." Aurel merengek dan menarik tangan sang Mommy untuk mengajaknya masuk.


Para pelayan sedang membersihkan halaman rumah mewah itu, ada yang menyapu, ada yang memungut sampah dan ada juga yang membereskan kursi-kursi hingga tertumpuk rapih menjadi satu.


"Bobo di kamar Mommy saja ya sayang?" Delisa menggiring anak nya masuk.


"Hey ... Delisa, kemari ..." panggil Lilis.


Karena tak enak, Delisa lantas berjalan mendekati Lilis, ia langsung bersalaman kepada teman Lilis.


"Ini teman Mama,"


"Saya Aisyah," Aisyah tersenyum menatap Delisa.


"Saya Delisa, tante ..."


"Wah ... Aurel sudah tambah besar ya sekarang, makin cantik." Aisyah mencubit pipi Aurel.


"Iya Oma."


"Salim dulu sama Oma Aisyah" ujar Delisa.


"Utututu ... Makin gemes deh. Aurel sebentar lagi punya adik ya, seneng nggak?" tanya Aisyah.


"Seneng Oma, bisa di ajak main barbie sama Aurel."


"Loh, memangnya adik nya perempuan, Jeng?" tanya Aisyah menatap Lilis.


"Belum tahu, si Revano pengen nya suprise." sahut Lilis.


"Ayo, Mommy!" Aurel kembali merengek, muka nya sudah memerah.


"Iya, iya ... bilang dulu sama Oma" sahut Delisa.


"Mau kemana, hm?" Lilis memeluk Aurel, tapi bocah itu malah memberontak dan memeluk kaki Delisa.


"Masih ngantuk dia, Ma." jawab Delisa sambil terkekeh.


"Tadi pagi paling heboh ngebangunin Oma sama Opa nya, padahal nggak biasanya bangun jam empat." Lilis menggeleng "Sudah sana Del, bawa Aurel ke kamarnya ..."


"Iya, Ma. Delisa sama Aurel ke kamar dulu ya Ma, Tante."


Delisa menuntun putri nya berjalan menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Tak menunggu lama, Aurel tertidur nyenyak di pelukan Mommy nya. Delisa juga berjaga-jaga karena khawatir dengan bayi yang ada di dalam perutnya.


Ceklek~


Revano membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali.


"Sayang, ada temen kamu di bawah, nyariin kamu."


Delisa menyerngitkan dahinya heran "Siapa?"


"Mas tidak tahu sayang. Mau temui gak? Atau suruh pulang saja?"

__ADS_1


"Kasihan, Mas. Gak usah. Tolong bantu pindahin Aurel ketengah dulu, Mas." pinta Delisa. Revano membantunya, dan menyusun dua bantal guling di sebelah kanan dan kiri Aurel.


***


"Loh, Melati?" Delisa membenarkan pengelihatan nya "Ah iya Melati ... Ya ampun ..." Delisa memeluk Melati dengan erat.


"Apa kabar, bumil?" Melati mengelus perut Delisa.


"Alhamdulillah baik, kamu sih bagaimana? sudah lama kita nggak bertemu, Mel. Aku sibuk kamu juga pasti sibuk." Delisa mengajak Melati untuk duduk di sofa. Lilis dan Aisyah sudah tidak ada disana, mungkin Aisyah sudah pulang, begitu juga dengan Lilis karena Sanjaya sudah tidak ada disana.


Tak mau mengganggu, Revano menuju dapur memberitahu pelayan untuk memberi wejangan.


"Alhamdulillah aku juga baik, Del. Maaf ya aku jarang hubungin kamu ..."


"Iya santai saja, Mel. Aku juga minta maaf jarang nimbrung grup, karena beda jadwal, hehehe ..." sahut Delisa.


Karena Delisa mengikuti kelas daring, jadilah setiap harinya ia hanya belajar di jam-jam tertentu saja.


"Tadi suami mu, Del? Buset memang bener ya kata media-media, memang pria idaman wanita, kamu beruntung banget, Del." ujar Melati terkekeh.


"Alhamdulillah." sahut Delisa ikut terkekeh.


"Anak princes mu kemana? Aku pengen lihat dia, Del. Di foto saja lucu, bagaimana aslinya ya?"


"Dia baru saja tertidur"


Melati cemberut mendengar jawaban temannya.


"Oh ya, kok kamu bisa sampai kesini sih? Gimana ceritanya ..." Delisa mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku di kasih tahu teman SMA ku, Del. Kebetulan tadi pagi ia juga datang kok katanya mengaji disini. Jadi aku minta alamatnya ..." jelas Melati.


"Syukurlah ... Aku rindu main di kampus bareng kalian lagi."


"Kenzo sudah pindah kampus, Del. Dia pindah ke Australia."


"Wah keren tu ... Lalu bagaimana dengan Affan?"


"Ya dia mah masih biasa saja, nggak berubah." Melati terkikik.


"Hust, jangan begitu, Mel."


Bi Rami membawakan kue dan dua gelas jus alpukat, Delisa menerimanya dan meletakan pada meja "Terimakasih, Bi."


"Iya, Nona." Buru-buru Bi Rami meninggalkan dan kembali ke belakang.


"Ini penthouse pemberian suami mu? Astaga kamu hebat Del. Tutor dong." mata Melati takjub melihat isi rumah temannya. Bertema estetik, kalem dan tentu saja mewah menbuat Melati tergiur.


"Takdir, Mel. Sudah-sudah jangan bahas ini, gue jadi malu."


"Jangan pakai gue-lo, takut banget tatapan suamimu. Pakai aku-kamu saja." ujar Melati.


"Hahaha, pantas saja dari tadi kamu sok alim."


"Heyy, mana ada." kilah Melati.

__ADS_1


"Hahaha ..." Delisa hanya tertawa.


__ADS_2