
Di malam harinya, Revano baru saja merebahkan tubuh nya diatas bed hotel, seharian ini pria tampan itu hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja agar cepat selesai, dia tidak betah jauh-jauh meninggalkan istri serta anaknya walaupun hanya beberapa hari saja.
Setelah melaksanakan sholat isya, Revano ingin membuka Hp nya tetapi ia sudah tertidur, rasa lelah dan kantuk sangat menyerang membuat nya tidur lebih awal dari biasanya.
***
Tepat pukul sembilan malam, Delisa selesai mengemasi barang-barang yang akan ia gunakan besok berkuliah.
"Sus, Aurel sudah tidur?" tanya Delisa, kebetulan ia turun untuk mengecek apakah putrinya sudah tidur atau belum.
"Sudah Nona, Aurel sudah tertidur."
"Terimakasih Sus, Kalau begitu biar Delisa masuk ya? Delisa ingin tidur bersama Aurel sementara Daddy nya di luar kota." ujar Delisa, Bi Aam pun mengerti lantar keluar dari kamar Aurel dan memasuki kamarnya yang berada di belakang, berjejer dengan kamar para ART lainnya.
"Uuu sayangku, sudah ya bobo lagi ... Mommy disini" Delisa mengelap keringat Aurel yang bercucuran, padahal AC kamar sudah menyala dan udara di kamar sudah cukup dingin bagi Delisa tetapi anaknya ini harus ekstra dingin jika ingin tidurnya nyenyak.
Cup ... Cup ...
Delisa memeluk Aurel dan menciumnya, entahlah rasanya hampa sekali malam ini tanpa belaian dari suaminya. Delisa juga tidak ingin mengganggu suaminya, ia sudah di kabari Roy bahwa suaminya sedang frustasi jadi dia lebih memilih untuk tidak mengganggunya.
Pagi pun tiba, matahari sibuk menyinari dunia, cahayanya membuat para insan di bumi kalut akan aktivitas masing-masing, seperti Delisa yang saat ini sedang menyuapi Aurel karena tidak mau sarapan.
"Cepat nak, Mommy juga ingin makan." ujar Delisa sambil menyuapi Aurel, rasanya lama sekali putrinya itu mengunyah.
"Aurel sama Sus saja ya? Kasihan mommy ingin makan." sahut Bi Aam, ia sudah siap untuk mengantar majikan nya ke sekolah.
"Atau sama Nenek, sama nenek yuk." Bi Romlah menyahut dari arah belakang yang mendengar obrolan antara kedua majikannya.
"Tidak mau, Aurel mau sama mommy saja." ujar gadis kecil itu sambil memainkan Hp milik Delisa.
"Sudah tidak apa-apa Bi, biar Delisa saja yang menyuapi. Ini sudah mau habis, dua suap lagi, ayo sayang"
Sesudah menyelesaikan sarapannya, Aurel dan Bi Aam pamit untuk pergi ke sekolah, sedangkan Delisa baru saja menyedokkan nasi ke dalam piring miliknya, ia sendiri tidak tahu hari ini mood nya sedang tidak baik-baik saja.
'Ah mungkin besok atau lusa, aku haid, sudah masuk tanggal nya.' gumam Delisa.
***
"Eughh!" Revano kaget, bisa-bisa nya setelah sholat subuh ia tertidur kembali, ia lupa mengabari istrinya sedari malam. "Ya tuhan! Sayang, aku mencintaimu." ujar Revano segera mengambil ponsel nya, "Astaga! Habis batrai pula." Revano frustasi, ia langsung menyalakan laptop nya.
__ADS_1
"Ayolah sayang, cepat balas." Revano memilih mengirim pesan lewat Email saja, tak ada pilihan lagi selain itu, Tablet yang biasa ia bawa kini ia hanya membawa laptop dan Hp nya saja.
Sambil menunggu balasan dari sang istri, Revano memilih untuk mandi dan bersiap untuk meeting pagi, karena jadwal sekarang adalah meeting dan langsung pergi melihat beberapa lahan yang akan ia gunakan sebagai tempat untuk berdirinya kerjasama perumahan elite antara dirinya dan perusahaan lain.
Semuanya sudah selesai, Revano berangkat bekerja pun malas, sudah beberapa kali ia telepon istri kecilnya tetap saja tidak di angkat.
"Pagi Bos, saya antarkan sarapan." seru Roy dari balik pintu, ia membawakan sarapan.
"Hm masuklah," ujar Revano mempersilahkan sekertaris nya untuk masuk karena memang perutnya sudah terasa lapar.
"Silahkan Bos, saya permisi dulu,"
"Tunggu Roy, bisakah kamu menggantikan meeting pagi ini? Kali ini pikiran saya sedang kacau sekali." Revano menatap Roy memastikan jawabannya.
"Bukan kah hari ini ada jadwal untuk survei lahan? Maaf sepertinya saya tidak bisa, akan kacau jika saya menjelaskan ulang kepada Bos nanti." jawab Roy menimang jawaban nya, karena memang rapat dan langsung di lanjutkan survei lahan kosong.
"Ya, ya, baiklah. Tolong kau kabari istriku, semalam saya ketiduran dan lupa mengabari nya."
"Siap Bos, kalau begitu saya keluar dulu, saya tunggu di depan saja." seru Roy sebelum meninggalkan kamar big bos nya.
"Hm,"
***
Padahal hanya satu atau dua hari lagi tapi menurut Revano itu waktu yang cukup lama.
Buyar dalam lamunannya ketika sang istri menelponnya dengan video call, langsung saja Revano mengangkatnya dengan sumringah menghiasi wajah tampan nya.
"Halo sayang! Mas kangen banget." ucap Revano yang baru saja mengangkat panggilan telepon dari istrinya.
"Lebay kamu Mas, baru dua hari kita LDR,"
"Tapi ini serius sayang,"
"Ya, ya, ya. Mas sudah makan?" tanya Delisa.
"Sudah, baru saja." bohong Revano, karena ia ingin bermaja pada istrinya walaupun lewat telepon saja. Sebenarnya Revano belum makan, berhubung sang istri menelpon, ia tidak mau melewatkan telepon dari istrinya begitu saja.
"Delisa juga baru selesai makan, mandi-"
__ADS_1
"Sayang Mas kangen mandi bareng sama kamu," potong Revano.
Blush,
Wajah Delisa merona.
"Mesum sekali kamu Mas," kilah Delisa malu-malu.
"Hahaha, bercanda sayang. Oh ya, kamu mau oleh-oleh apa? Biar nanti Mas belikan."
"Cukup berikan untuk Aurel, Mamah dan Papah saja Mas, yang Delisa mau Mas cepat pulang saja."
"Siap Mommy nya Aurel, laksanakan." Revano hormat sambil menunjukkan deretan gigi nya.
"Mas telepon nya jangan di matikan ya, mau seperti ini saja sampai tidur." Delisa menyelimuti tubuh nya dan menghadap miring berhadapan dengan Hp nya.
"Boleh dong sayang, tidurlah ... "
"Hihi, benarkah Mas? Delisa hanya bercanda saja tadi."
"Iya sayang serius, cepat tidur. Mas selesaikan pekerjaan Mas terlebih dahulu."
Kali ini Revano menjadi semangat untuk bekerja karena di temani istrinya, mereka sekedar mengobrol dan menceritakan kejadian apa saja yang di alami selama Revano tidak ada disana.
Sore ini Revano pulang, sambungan telepon sudah ia matikan karena Delisa sudah tertidur pulas ditandai dengan adanya suara dengkuran halus yang teratur, Revano segera melajukan mobil nya ditemani Roy yang duduk manis di belakang.
"Kita pergi ke tempat oleh-oleh dulu sebelum pulang, tapi saya tidak tahu letaknya dimana, Roy tunjukan dimana alamatnya, cari yang lengkap, bagus dan barang nya tidak kadaluwarsa."
"Baik bos,"
Kurang dari 20 menit, Revano memarkirkan mobil nya di pusat oleh-oleh khas Kalimantan, Revano yang di temani Roy berbelanja ia membeli hampir seluruh makanan yang ada disana.
'Sudah lah bos, sudah dua troli apa masih kurang?' batin Roy kesal sambil mendorong troli di belakang Revano.
Selain makanan, Revano juga membelikan baju dengan motif batik khas suku Dayak untuk istri dan putri kecil nya.
"Sudah saja Roy, apa Delisa menginginkan ini?" tanya Revano mengangkat tas serut yang senada dengan corak batiknya.
"Sepertinya iya Bos, belikan saja selagi kita masih disini."
__ADS_1
"Ya,"
Setelah berbelanja, kini Roy yang menggantikan Revano menjalankan mobilnya menuju hotel yang sudah Revano pesan untuk 4 hari ini.