
Hari minggu tiba, Delisa sibuk mendandani Aurel karena dia baru saja terbangun, sejujur nya Revano saat ini kesal sekali melihat Delisa yang merengek untuk membawa Aurel, padahal Revano ingin pergi berdua saja.
Delisa sudah datang di rumah Sanjaya dari jam 6 pagi.
"Selesai! Putri Mommy cantik sekali ..." Delisa menjepit rambut Aurel menggunakan aksesoris yang di balut dengan butiran-butiran mutiara berwarna putih.
"Iya dong Mommy hihi ..." Aurel berjingkrak senang karena ingin pergi jauh dengan Mommy nya.
"Gendong." Aurel merentangkan tangan nya kepada Delisa yang terlihat sudah kecapekan.
"Oke sayang sebentar ya .." sebelum beranjak keluar, Delisa terlebih dahulu menyemprot minyak wangi ke seluruh badan nya yang sudah bau keringat.
"Ayok sayang." Delisa mengangkat tubuh Aurel dan keluar menghampiri Revano, Lilis dan Sanjaya.
"Daddy! Oma! Opa!" pekik Aurel.
"Bener Van Aurel mau di bawa? Nggak repot?" tanya Lilis kepada Revano.
"Delisa memaksa Ma, sudahlah biarkan saja."
"Hm oke."
"Halo cucu Opa ... Mau berangkat sekarang Van? Sekarang saja Mumpung masih pagi biar bisa nyampe siang." ucap Sanjaya.
"Kapan sayang?" kali ini Revano yang menanyakan kepada kekasih nya.
"Ikut Mas saja." jawab Delisa.
"Del ... Bener mau bawa Aurel? apa nanti nggak bakal ngerepotin kalian?" tanya Lilis.
"Disini saja biar Aurel dengan Oma." lanjut Lilis.
"Takut nanti nangis Oma ... Kasihan." jawab Delisa sambil tersenyum.
"Bener?" Lilis tak percaya, apalagi dia melihat Revano menggeretu terus menerus.
"Iya Oma"
"Ma ... Pa ... Vano berangkat dulu. Ayo sayang." Revano dan Delisa mencium tangan Sanjaya dan Lilis bergantian.
"Dadahh Opa ... Oma ..." Cucu cantik nya melambaikan tangan kecilnya dari belakang jendela mobil.
"Hati-hati Van!"
"Iya Pa, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, jangan lupa ngabarin Oma ya Del!"
"Iya Oma nanti Delisa telpon Oma jika sudah sampai di Jakarta."
***
"Nah sudah bersih Am ... Ayo kita ganti baju dulu sambil tunggu mereka datang." ujar Bi Romlah yang sudah membersihkan kamar dengan dua kasur yang berpisah.
"Rom, mereka kan bukan siapa-siapa, masa iya tidur berdua sekamar, nanti ngapa-ngapain gimana?" cecar Bi Aam pikirannya yang sudah parno duluan.
__ADS_1
"Husst, kita tidak ada kamar lagi Am ... memang nya Pak Revano tidur dimana lagi, di ruang tamu gitu?" Bi Romlah berbalik badan.
"Lagian jangan pikirin hal-hal yang buruk Am! kamu ini, kasur nya juga nggak bareng, toh ada dua." lanjut Bi Romlah menunjuk kedua kasur yang sudah tergelak di atas lantai.
"Hehehe ... Sudahlah Rom, ayo kita ganti baju dulu." ujar Bi Aam cengengesan dan menggiring Bi Romlah untuk keluar bersama.
Hidangan sudah tersusun rapih di meja makan dengan beberapa lauk pauk yang cukup banyak, ada buah-buahan serta dessert juga yang ikut baris disana.
Kali ini juga mereka pasti akan menyempatkan waktu nya untuk berbicara kepada Nona cantik nya tentang majikan nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, Revano menepikan mobil mewah nya di pinggir jalan karena putri kecilnya menangis histeris meminta balon kartun marsha yang sudah tertinggal jauh di jalan yang tadi di lewati.
"Diam!" bentak Revano yang emosi nya sudah melambung tinggi malihat anak nya sudah berani main tonjok-tonjok tubuh diri nya, kali ini tubuh Delisa juga jadi kena sasaran.
Huaaa ...
Huaaa ...
"Diam, berhenti menangis Aurelia Azurani Malik atau Dady turunkan disini." ancam Revano menahan kaki Aurel yang sudah berganti menendang perut Delisa.
Jujur, Delisa kali ini benar-benar melihat Revano bisa kasar terhadap putri nya sendiri, nyali Delisa juga ikut menciut.
Huaaa ...
Huaaa ...
"Sudahlah Mas, anak lagi tantrum, kamu juga jangan ikut emosi, malah anak nya jadi tambah kesel begitu." Delisa mengelus lengan Revano, ia beralih menatap Aurel dengan sendu, tak tega melihat Aurel muka nya sudah memerah dengan ingus yang meleber kemana-kemana.
"Sini sayang sama Mommy ..." ujar Delisa lembut.
"Hikss ... Hikss ..." Delisa langsung saja mengangkat Aurel dan mendudukkan di paha nya.
Delisa membenarkan rambut Aurel yang sudah berantakan dengan jepit rambut nya yang sudah menggelantung di ujung rambut.
Delisa menyumpal mulut Revano yang pasti akan mengomel dengan tangan kanan nya.
"Ssttt ... Biarkan dia menangis dulu." bisik Delisa.
"Buka jendela dulu ya sayang? Pening, mau merokok sebentar."
"Nggak, kamu katanya mau janji Mas buat berhenti merokok?"
"Iya sayang, tapi Mas tetap nggak bisa, Vape deh ... boleh ya?" ujar Revano menunjukkan Vape kecil nya.
"Hm, jangan banyak." Delisa memencet Vape nya yang memang liquid Vape sudah terisi penuh di dalamnya.
"Sayang ih, janji sumpah." Revano mengangkat Vape nya keatas agar Delisa tak bisa menjangkau nya.
"Boong kamu Mas, itu isi nya penuh sekali ... pasti nanti habis semua sama kamu."
"Mas keluar dulu, urusi dulu anak cengeng itu." Revano terkekeh, anak nya benar-benar merajuk dan pasti nya sudah marah kepada diri nya.
"Sayang anak Mommy yang cantik, Aurel mau apa hm?" tanya Delisa lembut agar Aurel tidak mereog seperti tadi lagi.
"Ba-balon hiks ... Mommy balon!" Aurel menatap Delisa lalu memeluk leher Delisa dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
"Iya balon ... Nanti Mommy belikan ya, tapi Aurel harus janji dulu tidak boleh menangis seperti tadi." ujar Delisa.
"Sekarang!" teriak Aurel masih dalam posisi koala.
"Kalau ada orang jual nya kita berhenti oke? Nanti kita cari balon marsha kayak tadi." Delisa mengelus rambut Aurel yang pirang dan panjang.
"Aurel?"
"I-iya Mom hiks ..."
"Aurel kalau di pukul, di tendang sakit tidak hm?" tanya Delisa, waktunya sudah tepat untuk menanyakan kepada putri kecil nya karena dia sudah sedikit luluh dengan perhatian kecil yang di berikan nya.
"Sakit."
"Kalau sakit kenapa tadi Aurel tendang perut sama Muka Daddy dan Mommy hm?"
"Aurel marah sama Mommy sama Daddy."
"Kalau Mommy sama Daddy tadi kata Aurel salah, Daddy sama Mommy minta maaf ya?" Delisa menunjukkan jari kelingking nya.
"Tapi Aurel juga salah sudah menendang Mommy dan Daddy ..." ujar Aurel mengelap air mata nya dan mencium pipi Delisa lama.
"Hm? Iya?" tanya Delisa memancing daya tangkap anak nya.
"Heem."
"Sorry, nanti Aurel tidak seperti tadi lagi Mom, promisee ..." Aurel menyematkan jari kelingking nya dengan Delisa.
"Aurel minta maaf sama Daddy ya? Jangan jadi anak yang suka bandel dan kasar sama orangtua ya ... Tidak boleh sayang, Allah tidak suka." ujar Delisa merapihkan kembali rambut Aurel.
Kriett ...
Pintu mobil terbuka, Revano menunjukkan batang hidung nya lagi setelah selesai dengan urusan merokok nya.
"Dad- Aurel minta maaf ya?" Aurel melangkah dan duduk di pangkuan Revano.
"Iya sayang, Daddy juga minta maaf ya sudah membentak Aurel tadi ... Uuu sayang ku." Revano mencium pipi Aurel dan mendusel-dusel di leher anak nya.
"Nanti Daddy belikan Aurel balon marsha ya? Maaf tadi Daddy tidak sempat beli, karena macet dan orang jual nya jauh dari jalanan nya."
"Yes Dad, Aurel mau menyetir seperti Daddy!" Aurel sudah beralih duduk menghadap setir mobil.
"Iya sayang."
"Makasih ya sayang, Aurel sudah pintar karena Mommy nya lebih pintar mengajarkan dan membujuk putri nya, love you sayang." bisik Revano tepat di telinga Delisa.
"Ya Mas sama-sama, Aurel sama Delisa saja, takut ah kalau kayak gitu." Delisa bergidik ngeri.
"Nggak apa-apa sayang, sudah biasa." Revano mulai menjalankan kembali mobil mewah nya dengan di temani Aurel di pangkuan nya yang ikut-ikutan memegang setir mobil.
...🌹🌹🌹...
...*Da*****d****dy dan anak yang sudah seperti air dan minyak ya...😘😘😘 jangan lupa Like, Komen, Hadiah & Vote nya ya biar Author tambah semangat nulis nya .....
__ADS_1