Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 82


__ADS_3

Di pagi hari, Delisa di kagetkan dengan kedatangan Sanjaya dan Lilis yang sudah duduk manis di tempat makan.


"Loh Papa, Mama" Delisa terkejut, ia langsung meraih kedua tangan untuk di cium nya bergantian.


"Halo sayang, maaf ya pagi-pagi sudah mengganggu kalian, Mama dan Papa ingin pergi ke Singapura" Lilis mengambil nafas nya, "Hanya ingin bertemu sama Aurel saja, dimana dia Del?" tanya Lilis kepada Delisa.


"Masih di kamar Ma, sama Mas Vano. Sebentar ya Ma Delisa panggilkan dulu" baru berbalik badan, Revano datang sambil menggendong Aurel di pundak nya.


"Opa, Oma!" seru Aurel senang melihat Oma dan Opa nya datang ke rumah nya.


"Cucu Oma sudah rapih, mau berangkat sekolah ya? Sini - sini biar Oma suapkan sarapan nya ya ..." Lilis mengangkat tubuh Aurel dan mendudukannya di samping dirinya.


"Papa, Mama, apa kabar?" tanya Revano mencium punggung tangan orang tuanya, kemudian duduk di samping Delisa.


"Alhamdulillah ya seperti yang kalian lihat ini Van," sahut Sanjaya.


"Papa jadi pergi ke Singapura?"


"Ya Van, jam 8 terbang." jawab Sanjaya santai sambil menikmati susu hangat nya.


"Sama Mama?"


"Iya, Mama juga ikut."


"Ya sudah hati-hati Pa, Ma. Ayok sayang sarapan dulu, sudah siang keburu telat ke kampus." Revano beralih menatap Delisa yang sedari tadi diam saja mendengarkan percakapan yang ada di depan nya.


"Iya Mas, Mama sini biar Delisa saja yang menyuapi Aurel, Mama sarapan saja." ujar Delisa yang tak enak hati.


"Kamu saja Del, sudah nggak apa-apa biar Mama saja." Lilis menanggapi, sedangkan Bi Aam hanya melihat nya dari jauh.


"Baik Ma," Delisa langsung menikmati makanan nya, suap demi suap sampai tandas tak tersisa.


"Ayo sayang. Ma, Pa, Vano sama Delisa berangkat dulu ya," pamit Revano.


"Aurel nanti berangkat sama Sus, Mommy dan Dady berangkat dulu ya ... Jangan nakal di sekolah, nanti Mommy jemput." Delisa mengelus rambut Aurel yang tergerai, gadis kecil itu hanya memeluk Delisa dan Revano bergantian, "Dadah Mommy, Dady!" ujarnya sambil melambaikan tangan ke atas.

__ADS_1


"Ya sayang!" seru Revano dan Delisa bersamaan dengan melambaikan tangan nya juga.


Di dalam mobil, Revano menjalankan mobilnya, dan Delisa hanya menikmati perjalananya sambil ada beberapa obrolan yang mereka bahas di sana.


Tak beberapa lama mereka pun sampai di depan kampus, Delisa mencium punggung tangan Revano, tak lupa Revano mencium kening nya cukup lama dan juga mencium kilat bibir Delisa di akhirnya.


"Peluk sayang" pinta Revano yang membuat Delisa terkekeh, ia langsung memeluk Revano.


"Uang cash masih ada sayang?" tanya Revano setelah melepaskan pelukan dari istrinya.


"Masih ada kok Mas, tenang saja."


"Mas, Delisa masuk dulu ya ... Lima menit lagi masuk." sambung Delisa buru-buru melepaskan seat belt nya.


"Tujuh menit lagi sayang, korupsi waktu ya kamu ..." Revano melihat ke arah pergelangan tangannya.


"Di buletin Mas, jadi lima menit lagi." sahut Delisa dengan gamblang.


"Ya, ya, memang dasar nya wanita tidak mau mengalah, jadi biar laki-laki saja yang mengalah." ujar Revano seraya tersenyum.


***


"Hati-hati ya Sus, jaga cucu ku dengan baik." ujar Lilis melihat Aurel yang sudah siap berangkat ke sekolah dengan menggendong tas nya yang bergambar barbie tersebut.


"Baik Nyonya. Saya dan Aurel pergi dulu Nyonya, Assalamualaikum"


"Ya, Waalaikumsalam ..."


Melihat mobil menjauh keluar dari halaman rumah, Lilis menutup pintu mewah yang kokoh kemudian masuk menghampiri Sanjaya yang sudah siap berangkat dengan pakaian khas seorang CEO perusahaan, jas hitam serta kacamata hitam sudah melekat pada tubuhnya.


"Berangkat sekarang Pah?" tanya Lilis heran karena masih lama dengan waktu penerbangan nya.


"Tidak, hanya coba-coba saja Mah, Papah harus terlihat elegan dan berwibawa besok nanti." Sanjaya melepas jas nya dan menggantinya dengan jas yang lain.


"Papah sudah cakep kok, lihat saja si Vano itu fotocoppy-an mu." Lilis duduk di depan Sanjaya, "Papah tidak usah tebar pesona ya! Ingat kalau kamu sudah punya cucu" ancam Lilis dengan nada yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Ya ampun sayang, tidak ada yang berpikiran seperti itu ya ... Papah hanya mencoba nya saja, lagi pula tidak ada wanita yang Papah cintai selain Mama nya Revano" goda Sanjaya membuat wajah Lilis kembali berseri.


Tak kuasa menahan tawa nya, akhirnya tawa Sanjaya kembali pecah menggema ke seluruh ruangan kala melihat wajah sang istri seperti tomat merah yang baru di petik.


"Hahaha! Sudah ya Ma, tidak usah cemburu begitu." ujar Sanjaya yang sudah mengetahui suara hati istrinya.


"Bagaimana Mama tidak cemburu, Papa saja sudah jarang menceritakannya kalau Mamah tidak ikut Papa bekerja." sahut Lilis memonyongkan bibirnya, ia kembali mengingat dimana suaminya menyelingkuhinya dengan ibu tiri Delisa yang kini sudah menjadi menantu nya.


"Maaf ya Mama sayang, sudah-sudah jangan di ungkit, biarkan yang berlalu biarlah berlalu, ada masa depan yang akan kita capai bersama-sama." sahut Sanjaya dengan cepat, tidak mau jika istri nya kembali mengingatnya.


"Ayo Ma, kita berangkat sekarang saja. Takut macet di perjalanan ke Bandara nya nanti." lanjut Sanjaya dan mengemasi koper yang sudah ia acak-acak tadi.


Sanjaya menuntun Lilis untuk masuk ke dalam mobil, mereka di antar Mang Jaja untuk menuju ke bandara.


Anton sudah stay in location Bandara dengan beberapa bodyguard yang akan menjaga keamanan bos nya di singapore nanti.


Mobil yang di tumpangi Sanjaya dan Lilis sudah berhenti tepat di depan pintu masuk Bandara, Lilis segera turun dan menarik koper bersama dengan suaminya, nampak suami istri itu berjalan beriringan di hiasi kacamata full black dan jaket bulu yang sudah di pakainya.


"Anton!" panggil Sanjaya.


"Selamat pagi Pak, Bu" kata Anton sambil mencium punggung tangan paman dan bibi nya.


"Pagi juga An," jawab Lilis tersenyum.


"Berangkat sekarang Pak? Masih ada waktu 15 menit lagi"


"Jet sudah sampai An?" tanya Sanjaya memastikan.


"Sudah Pak, sudah dari satu jam yang lalu." jawab Anton.


"Kita berangkat sekarang saja,"


"Baik Pak, Mari ..." ujar Anton mempersilahkan keduanya untuk berjalan di depan.


Para bodyguard berjalan di belakang, Anton menjamin keamanan dan keselamatan untuk kedua bos nya di Singapore.

__ADS_1


Di dalam jet yang hanya muat untuk sepuluh orang saja tetapi fasilitas mewah dengan interior diubah menjadi seperti rumah sendiri membuat perjalanan semakin nyaman.


__ADS_2