
Sedangkan di taman belakang para pria yang berbeda umur sedang mengobrol tentang hal-hal random.
Revano menyalakan rokok nya terlebih dahulu, begitu juga dengan Anton. Roy dan Sanjaya tidak merokok karena mereka sangat memperdulikan kesehatan tubuh nya.
Padahal Sanjaya tidak merokok sampai sekarang, akan tetapi putra semata wayang nya itu tidak bisa kalau tidak merokok sehari saja, mungkin karena pergaulan teman-teman Revano, jadilah Revano terbawa perlakuan teman-teman nya.
"Bos nanti Citra ikut pakai baju bridesmaid kan?" tanya Roy kepada big bos nya, Sanjaya dan Anton hanya menyibukkan pembicaraan seputar bisnis saja, tak heran jika Sanjaya memiliki uang yang berlimpah.
"Ntahlah, Delisa yang membagikan." Revano menghirup rokok nya dalam dalam.
"Mulai saat ini jangan ada percakapan diantara kau dan Delisa, saya tidak mau ya melihat kalian dekat-dekat lagi seperti dulu, ingat Roy, mulai lusa Delisa sudah sah menjadi istriku." lanjut Revano lagi menatap Roy membuat Roy menelan saliva nya sedikit kasar.
"Ya baik Bos," ujar Roy lalu menyeruput kopi di atas meja.
"Saya ke dalam dulu, kau pergi ke hotel dan pastikan semuanya sudah dalam keadaan Prepare , dan satu lagi, suruh manajer hotel untuk menghubungi ku." ucap Revano lalu meninggalkan Roy, Revano pergi masuk kedalam untuk menemui calon istri serta putri kecil kesayangannya.
__ADS_1
"Loh nggak ada?" Revano melihat di ruang keluarga sudah tidak ada siapa-siapa lagi, di tambah teman-teman Ibu nya sudah pada pulang membuat Revano berputar arah, kini ia melangkahkan kaki nya menuju dapur.
"Bi? Delisa dimana?" tanya Revano kepada ART baru dadakan yang pasti suruhan Lilis.
"Maaf Tuan, Nona Delisa tidak ada disini, lagi pula saya dari tadi disini dan tidak melihat ada nya Nona masuk ke dapur." jelas ART tersebut.
Revano tersenyum melihat Delisa yang keluar dari pintu kamar Aurel, ia menghampiri nya.
"Kenapa sayang?" tanya Revano khawatir karena melihat Delisa yang sedang merintih kesakitan.
"Ketiduran posisi miring Mas, jadi leher nya sedikit sakit, tapi tidak apa-apa."
"Mau makan," Delisa tidak mengubris ucapan Revano, ia memilih masuk kedalam dapur karena perut nya yang lumayan lapar.
"Masa makan roti sih sayang .. Pakai yang roti gandum biar nggak terlalu ringan, udah jam makan siang loh ..." Revano mengambil bungkusan roti gandum untuk mengganti roti biasa yang tadi Delisa ambil.
__ADS_1
"Hm terimakasih ya Mas, Mas mau nggak?" tanya Delisa sembari membuka penutup selai untuk isiannya.
"Nggak deh sayang, Mas makannya nanti malam saja." Revano mengelus rambut Delisa, "Makan yang banyak biar nggak terlalu kurus." sambung Revano terkekeh.
"Hm" Delisa malas menanggapi nya, ia lebih memilih menyumpal mulut nya dengan roti yang ia buat tadi.
"Mas, kalau di pesta kan otomatis banyak kerabat-kerabat petinggi dan pasti nya mereka melihat aku kan? Emang nya Mas nggak malu gitu?"
"Malu kenapa? Biarin lah, Mas jamin mereka pasti datang hanya untuk memberi selamat saja dan tidak akan berbuat yang macam-macam seperti memojokkan kamu dan mengucilkan, kalau Mas lihat kamu di perlakukan seperti itu, Mas yang akan bertanggung jawab." jelas Revano sambil memainkan kembali handphone nya.
"Terimakasih Mas, Delisa jadi terharu." Delisa memeluk sekilas lengan Revano.
"Delisa mau menemani Aurel di kamar,"
"Mas mau ke kampus dulu sebentar ya? mau ada urusan penting sama Pak Miki." sahut Revano membuat Delisa berbalik badan lagi.
__ADS_1
"Jangan genit sama cewe-cewe disana Mas!"
"Iya nggak sayang, itu bukan tipe Mas ya .." ujar Revano terkekeh, ia bersorak girang karena Delisa pasti cemburu jika ia dekat dengan cewek lain walaupun Delisa belum pernah mengatakan perasaan cinta kepadanya tetapi Revano dapat merasakan itu semua, mulai dari omongan dan tindakan Delisa kepada dirinya.