Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 94


__ADS_3

Revano turun dari kamarnya menuju lantai bawah untuk menemui tamu yang di katakan pelayannya itu.


Deg!


"Maaf, ini kalau tidak salah ..." Revano mengingat-ngingat wajah nya, ia mengenalinya.


"Maaf, Pak. Saya-saya Ibu nya Meli." jelas wanita tua itu sambil memohon.


"Ah iya Ibunya Meli. Maaf, sebenarnya ada apa ya Bu?" tanya Revano heran.


"Me-Meli kecelakaan, Pak." ujar wanita tua itu menundukkan kepalanya.


Revano mendengus, "Lalu? Ada urusan apa ibu kemari menemui saya?" Revano mengepalkan tangannya.


"Maaf, Pak. Tapi- Meli ingin bertemu dengan bapak. Saya mohon temui anak saya, Pak." pintanya dengan lirih.


"Tidak bisa, saya ingin pergi. Lebih baik ibu angkat kaki dari rumah saya sebelum saya panggil satpam untuk menyeret ibu keluar." ancam Revano. Entahlah Revano semalam mimpi apa, tiba-tiba di datangi tamu yang tidak jelas.


"Saya mohon sekali Pak. Hiks ... Hiks ..." Ibu Meli menangis sendu, sesekali ia mengusap air matanya.


"Ada apa? Mas jangan kasar begitu dong sama ibunya ..." sahut Delisa dari belakang dan langsung memeluk ibu Meli untuk menenangkannya.


Grep!


Revano langsung menarik tangan Delisa hingga jatuh dalam pelukannya "Dia tidak baik sayang, sudah suruh dia pergi saja, Mang! Mang!" panggil Revano dengan keras.


"Tunggu sebentar, jangan dulu, Mas!" Delisa melepaskan pelukan dari suaminya dan berhambur kembali ke wanita tua yang sedang menangis itu, ia mengelus bahunya pelan dan memberinya tisu.


Huhhh ...


Revano menghela nafasnya berat "Duduklah ... Kita bicarakan baik-baik." Revano menatap Ibu Meli dengan tatapan tajam dan sulit di artikan.


Delisa duduk di samping Ibu Meli, Revano saat ini berada di hadapannya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Delisa "Maaf sebelumnya, Ibu siapa? Dan ada perlu apa dengan suami saya?" sambung Delisa menatap wanita tua yang berada di sebelahnya.


"Hiks ... Bu, tolong saya ..."


"Untuk?" sahut Delisa.


"Maaf sebelumnya. Saya Marna, Ibu Meli yang dulu putri saya pernah satu kampus dengan Pak Revano yang menjadi dosen nya."


"Saya mohon untuk kali ini saja, Pak, Bu. Jenguk putriku, keadaan dia semakin terpuruk dan hanya mengingau nama Bapak saja, saya-saya mau Ibu mengizinkannya, hiks ... Pu-putri saya-"

__ADS_1


"Baiklah saya izinkan. Mas cepatlah bersiap kita berangkat jenguk Meli sekarang ke rumah sakit" titah Delisa membuat Revano tercengang.


"Loh sayang, mana bisa begitu!" sentak Revano tidak sengaja.


"Meli sakit, Mas! Dan Mas hanya menemuinya saja, kasihan dia Mas ... Pasti dia rindu dengan dosen nya." Delisa memutar bola matanya malas.


"Kamu ikut temani Mas." sahut Revano membuat Delisa mengangguk setuju.


***


Sesampainya di Rumah sakit, Revano dan Delisa saling bergandengan tangan mengikuti langkah Bu Marna yang ada di depannya hingga sampailah mereka di ruang rawat inap yang Meli tempati.


Revano mengerutkan wajahnya. Saat ini Meli sangat kurus dan sudah banyak sekali selang yang Revano tak tahu artinya, menempel ke seluruh tubuh wanita itu.


'Ckckck, bisa sakit juga, dia.' batin Revano.


"Meli ... Meli sayang ... Ibu sudah janji sama kamu, ibu bawa Pak Revano untuk datang kemari menjenguk mu, bangunlah ..." bisik Bu Marna tepat di telinga Meli, hingga sang empunya sedikit-sedikit mengerjapkan matanya sampai terbangun dari tidurnya.


"Ba-bapak!" panggil Meli pelan, senyum manisnya menghiasai wajahnya.


"Ya?" sahut Revano pelan, ia masih setia mengelus tangan sang istri.


"I-itu siapa?" tujuk Meli lemah kepada Delisa.


"Istriku" jawab Revano singkat.


"Ya."


"Sa-saya suka sama Bapak! Ta-tapi, saya bahagia melihat bapak sudah menikah dan istrinya cantik." ujar Meli, ia mengayunkan tangannya agar Delisa mendekat.


"Sudahlah sayang, disini saja" Revano menahan Delisa agar tidak mendekati Meli, ia khawatir takut di celakai oleh Meli.


Delisa tak mendengarkan ucapan Revano, ia menghampiri Meli dan duduk mendekati Meli. Wanita itu semakin penasaran saja kenapa bisa berkata mencintai Revano di depan istri sah nya.


Degg!


'Loh ... Ini kan yang pas dulu ketemu di cafe? lalu kita berantem?' batin Delisa mengingat-ingat wajahnya.


"Saya pernah ketemu sama kamu, kita pernah berantem di kafe pada waktu itu." ucap Meli, Revano ikut mengingatnya.


"Iya ... Saya minta maaf ya, Meli ..." Delisa mengelus pelan lengan Meli.


"Saya yang seharusnya meminta maaf." sahut Delisa.

__ADS_1


Revano ikut berdiri dan mengalungkan tangannya kepada leher Delisa yang sedang duduk di hadapannya, mata nya juga melihat Meli yang seperti kesusahan untuk bergerak dan bernafas, berbicara pun hanya bisa pelan.


'Sebenarnya ada apa?' batin Revano bertanya-tanya.


"Saya sudah menikah," celetuk Meli tiba-tiba.


"Ta-tapi di dalam pernikahan saya, hanya manis di awal saja. Pada bulan kedua, saya di tuduh selingkuh oleh suami saya, padahal saya tidak dekat dengan pria mana pun kecuali dirinya." Meli mengambil nafasnya lagi.


"Hidup saya sangat tertampar sekali, Pak. Miris dan sangat tersiksa, saya di asingkan oleh keluarga dari suami saya, Pak. Tidak di kasih makan, di caci maki dan hinaan sudah terdengar di sehari-harinya."


"Saya di pukul, dan hampir di bunuh oleh suami saya, saya langsung kabur, dengan kaki yang sudah lemas saya berusaha bersembunyi agar tidak ketahuan oleh suami saya."


"Akhirnya saya bebas, dan terbang ke pulau Jawa. Tetapi pada saat perjalanan di tol, mobil travel saya rem nya blong dan supirnya tidak bisa mengontrol arah gerak setirnya, dan terjadilah kecelakaan yang besar, hingga saya seperti ini."


"Tapi saya rindu sekali dengan bapak, saya ingin meminta maaf atas perlaukan dulu yang pernah saya lakukan kepada bapak." Meli mengantupkan tangannya sambil tersenyum ke arah Revano dan Delisa.


"Kamu menikah dengan siapa?" tanya Revano.


"Saya menikah dengan Erlangga, orang luar, Pak. Saya menikah tepat dua minggu setelah saya di DO dari kampus."


"Tapi saat ini kamu masih berstatus menikah dengan Erlangga?"


"Saya dan ibu saya sudah mengajukan perceraian, Pak. Mohon doanya agar cepat segera di proses. Saya ingin bertemu dengan bapak karena saya takut tidak ada umur dan meninggal sebelum meminta maaf kepada bapak sendiri."


"Sudah-sudah, saya maafkan kamu, Mel."


"Terimakasih banyak, Pak. Maaf jika Ibu dan Meli merepoti kalian. Ngomong-ngomong Pak Revano dengan?"


"Delisa" sahut Delisa menunjuk dirinya.


"Iya dengan Bu Delisa, kok kalian bisa menikah? Padahal waktu itu kalian belum saling kenal bukan?" tebak Meli.


"Hehe, iya, Mel. Ya begitulah namanya juga jodoh, walau bagaimana pun saya benci dengannya tetapi jika Tuhan sudah berkehendak maka manusia bisa apa? Begitu juga sebaliknya, jika saya suka dengan dia tetapi bukan jodoh kita ya seberapa pun saya mendekati dan memberinya kebahagiaan untuknya jika tidak di takdirkan berjodoh maka tidak berjodoh." jelas Delisa.


"Maaf" cicit Meli lirih, ia memeluk tubuh Delisa.


"Sudah tidak apa-apa, Mas Vano sudah memaafkan kamu ... Kamu jaga diri baik-baik ya Mel, sehat-sehat ... Kami pamit dulu, ayo Mas."


"Terimakasih, maaf merepotkan kalian ..."


"Kami kesini sekalian ada keperluan juga kok ..." sahut Delisa.


"Kita berdua pulang dulu ya, Bu. Maaf tadi Mas Vano sempat membentak ibu di rumah, maafin ya Bu ..." Delisa mencium tangan Bu Marna, ia merasa tidak enak dengan perlakuan suaminya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu, saya mengerti perasaan Pak Revano." sahut Bu Marna.


Revano dan Delisa setelah selesai menjenguk Meli, mereka langsung masuk ruangan poli kandungan untuk mengontrol janin yang ada di dalam perut Delisa, semoga saja sehat agar bisa langsung pergi libur ke Jakarta sore ini.


__ADS_2