
Roy mengantarkan Citra hingga tepat di pelataran rumahnya, rumah yang tidak terlalu mewah, namun bagi Citra adalah tempat untuk pulang dan berkumpul bersama keluarganya.
Citra anak pertama, ia memiliki adik satu perempuan yang masih duduk di bangku SMA.
"Ayo mampir dulu, Roy." ajak Citra sambil melepas kaitan belt yang melilit pada tubuhnya.
"Eum baiklah, tapi hanya sebentar saja ya ..." Roy tersenyum lalu ikut turun. Roy mengunci mobilnya, ia berjalan mengikuti Citra yang masuk ke dalam rumahnya.
"Bu, Citra pulang ..." seru Citra, tak ada yang menyahut dari dalam, tetapi lampu rumah semua sudah menyala, menerangi sudut-sudut rumah yang gelap.
"Ibu ... Dek ... Citra pulang ..."
Ceklek~
Ibu Citra membuka pintu.
"Lho Cit, baru pulang?"
"Iya, Bu. Ini Roy, teman Citra yang sudah mengantarkan Citra pulang." Citra menunjuk Roy yang ada di belakang nya.
"Saya Roy, Bu. Salam kenal."
"Saya Jahro, Ibu Citra. Mari duduk dulu Roy ... Maaf jika rumah nya terlalu berantakan, belum sempat di bersihkan." Jahro mempersilahkan Roy untuk duduk di tempat duduk.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya kesini hanya mengantarkan Citra saja, kebetulan kita satu arah."
"Iya terimakasih ya, Roy. Motor Citra nya sedang di bengkel." jawab Jahro.
Sindi, adik Citra datang membawakan segelas kopi, mungkin karena tamu nya seorang laki-laki jadi Sindi berinisiatif membuatkan kopi saja.
"Aduh, jangan repot-repot ... Saya habis ini mau langsung pulang saja." Roy melirik ke arah Citra.
"Jangan buru-buru, Roy." sahut Jahro.
"Kalau begitu saya minum dulu ya ..." ujar Roy mengangkat gelas berisi kopi tersebut, karena perasaannya tidak enak jika tidak di minum.
"Silahkan diminum .." Jahro melayangkan tangannya keatas.
Roy pun meneguk kopi nya, tak sampai habis karena perut nya sudah terasa sangat kenyang.
__ADS_1
"Saya pulang dulu, tidak enak jika mengganggu waktu sore kalian. Saya pulang dulu Bu, Cit." ujar Roy sopan.
"Tidak apa-apa, mau menginap pun tak masalah ..." gurau Jahro seraya berjalan.
"Terimakasih, Bu. Kalau begitu saya pulang dulu, Assalamualaikum ..." Roy melangkahkan kaki nya menuju mobil yang terparkir di depan latar rumah.
"Waalaikumsalam ..." jawab Jahro dan Citra bersama.
Roy lantas menyalakan mesin mobilnya, membuka sedikit jendela mobilnya karena tidak enak ada Jahro dan Citra yang masih berdiri melihat kepergian dirinya.
Tin ...
Roy membunyikan klakson mobilnya, lalu melajukan kecepatannya agar cepat sampai di rumah.
***
Sementara Revano yang sudah sampai di rumah, langsung menjelaskan tugas kepada istrinya, masih lengkap menggunakan jas kerja dan dasinya, sudah seperti Dosen les privat dengan mahasiswi nya.
"Ngerti nggak, hm?" tanya Revano mengelus kepala istrinya.
"Ngerti, Mas. Sudah paham, ternyata mudah ya ..." Delisa cengengesan.
"Sudah ya, kamu tinggal kirim saja sayang. Mas mau mandi dulu, kamu pasti belum mandi kan? Mandi bareng, mau?"
Blush ...
Muka Delisa langsung panas dan memerah.
"Iya memang belum mandi, tapi Delisa mau nyelesai-in tugas dulu, Mas." elak Delisa, mengalihkan arah matanya.
"Tugas yang mana lagi sayang. Kan, Mas sudah kerjakan semua, ayo sayang jangan banyak alasan ya, lebih baik kita fresh kan badan kita saja."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Revano langsung mengangkat tubuh Delisa. Ringan baginya, walaupun di tambah sang bayi, menurut Revano biasa-biasa saja karena badan Delisa memang sangat mungil.
"Mas! Turunkan! Aaa-eemmttt!!"
Cup!
Revano menyumpal teriakan istrinya menggunakan mulutnya, "Diam sayang, sudah lama kita nggak bercinta, bukan? Mas ingin sekarang sayang," bisik Revano sensual, membuat Delisa merinding dibuatnya.
__ADS_1
"Mas, sudah sore!!" rengek Delisa mengayunkan kakinya memberontak.
"Mas janji hanya sebentar"
"Halah, Mas. Sebentarnya kamu mana ada sebentar!"
"Mas sekarang janji, sayang. Sumpah sebentar saja, bukannya tadi satu nomer satu pele-"
"AAAA, CUKUP MASS!!" teriak Delisa kencang, gemar sekali suaminya ini menggodanya. Untung saja kamar mereka di bikin kedap suara, jadi sangat aman.
"Hahaha ... Maaf sayang," Revano menutup kunci kamar mandi, kemudian meletakkan istrinya diatas kloset.
"Biar Mas yang isi air nya ya, kamu mau pakai yang aroma apa, hm?" Revano mulai menyalakan air di dalam bath-up.
"Strawberry enak, Mas. Wangi- wangi manis, aku suka harum nya." sahut Delisa.
"Baiklah, Mas tuangkan yang strawberry." Revano menuangkan aroma terapi ber-aroma strawberry ke dalam bath-up nya, aroma nya memang sangat fresh sekali.
Revano melepas baju miliknya, dan hanya menyisakan boxer nya saja.
Delisa sudah terbiasa jadi ia hanya diam membisu, sebenarnya malas untuk bercinta pada sore hari, tapi apa bisa buat, suaminya kekeh untuk melakukannya.
"Sayang, kok kamu belum di lepas? Mau Mas bantu lepaskan, hm?" tanya Revano menghampiri istrinya.
"Hm, iya Mas ..." Delisa mengangguk sambil tersenyum kearah Revano.
"Manja sekali kamu, sayang. Mas suka kalau kamu seperti ini." Revano membalas senyuman manis istrinya itu.
Dengan cepat, Revano langsung melepaskan baju istrinya, ia membawa istrinya ke dalam bath-up, Revano juga ikut masuk ke dalamnya, duduk menghadap istrinya dengan bersandar pada kedua lututnya.
Revano mulai mencium kening istrinya cukup lama, kemudian beralih pada kelopak mata, hidung, pipi dan terakhir menjamah bibir ranum nya, bibir yang sangat candu bagi Revano, rasa manis yang asli membuatnya ketagihan.
"Eummttt, Mas-sh" Desis Delisa halus sambil mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
Revano mulai melancarkan aksinya, membuat istrinya melenguh kenikmatan merasakan nikmatnya syurga dunia.
Rupanya Revano masih ingat pada janjinya, ia hanya bermain cepat karena waktu sudah mulai petang, membantu istrinya menggosok tubuhnya dan memberinya shampo pada rambut panjangnya.
Keadaan hamil tak membuat Delisa berbeda, di mata Revano istri kecilnya semakin cantik saja, cantik luar dalam.
__ADS_1