
Setelah puas bermanja dengan istrinya, Revano mengecup kening istrinya.
"Sayang, tidak terasa Athala sudah besar ya ... Perasaan baru kemarin dia lahir." Revano mendekap Delisa dengan hangat.
"Iya, Mas. Dia tidak mengenal rasa capek ... Masih kecil juga sudah memiliki pemikiran yang cerdas, bertingkah pun seperti orang dewasa ..." ucap Delisa terkekeh.
"Gentleman, Sayang. Seperti Daddy nya." ujar Revano bangga.
"Hm, iya Mas." Delisa terkekeh. Tangan nya menahan Revano yang mencium nya terus menerus.
"Mas, sudah ... Geli ..."
"Sayang, i want, let's start? I want to have a baby girl, and that baby is from you." bisik Revano tepat di telinga Delisa.
"No, Athala masih kecil, Mas." Delisa menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, dia akan senang jika melihat adiknya nanti."
"Mama dan Ibu juga mengatakan hal yang sama, mereka bilang kurang jika cucu mereka hanya Aurel dan Athala saja. Tapi Delisa rasa dua anak juga cukup, Mas."
"Tidak, sayang. Mas janji akan selalu ada untukmu dan anak-anak." ujar Revano meyakinkan istrinya.
Tatapan teduh yang Revano berikan, membuat Delisa malu-malu untuk menatapnya. Desiran halus di hati Delisa membuatnya terbuai akan omongan suaminya.
"Sayang, ayolah ... Sudah lama kita tidak melakukannya bukan?"
"Perasaan kemarin lusa, sudah." jawab Delisa melotot.
"Ah ya, itu benar. Maksud Mas sudah lama Mas tidak mengeluarkannya di dalam." bisik Revano frontal.
"Mas, apa benar Mas menginginkan anak lagi? Delisa kalau di tanya mau juga mau, Mas. Tapi tunggu Athala sedikit besar, sekitar 5 atau 6 tahun." jelas Delisa.
"Tidak apa-apa, sayang. Ada Opa, Oma dan Grandmi nya yang akan menemani mereka. Kalau bisa kita buat tiga lagi. Mas sengaja loh buat rumah yang luas dan kamar banyak, ya memang tujuannya satu."
"Untuk anak-anak kita, cucu, dan cicit kita nanti" sambung Revano.
"Ish, Mas! Delisa masih muda, jangan memikirkan cucu, apalagi cicit!" ketus Delisa kesal, Revano yang melihatnya hanya bisa terkikik.
"Iya-iya. Ya sudah kita pikirkan untuk adik kecil Athala saja." Revano mencium bibir seksi Delisa.
"Tapi harus mirip aku!" ujar Delisa.
Revano tersenyum miring "Iya, mau tutornya, hm?"
"Ih, Mas Vano ngeselin!!!" Delisa menendang kaki Revano.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Revano heran.
"Nanti kalau mirip Mas lagi bagaimana?" ujar Delisa memanyunkan bibirnya.
Cup!
Revano langsung menyambarnya dengan bibirnya karena tak tahan melihatnya.
"Kita buat lagi, sampai mirip kamu." jawab Revano dengan usil.
"Ayo! Siapa takut!" ujar Delisa tegas. Revano terkejut tiba-tiba saja Delisa merangkak dan naik di duduk di atas perut Revano dan memulai permainan.
"Akh ... Ini akan terasa berbeda. Lakukanlah ... Mas sangat suka" ujar Revano dengan seksi. Pria itu membuka baju Delisa dan membuangnya ke sembarang arah.
Tangan Revano tidak diam, ia membuka pengait bra dan memainkan pabrik susu milik putranya.
***
"Ayo Sus, kita keluar." ajak Aurel. Bi Aam masih menimang Athala yang terbangun dan masih mengantuk.
"Sendiri dulu ya, Kak. Sus temani Adek dulu." ujar Bi Aam.
Athala mengangkat kepalanya, dan meminta turun dari gendongannya.
"Tata!! Tut!"
"Ayo, Sus. Kita ke depan saja ... Adek juga sudah bangun."
"Baiklah, Ayo kita ke depan." sahut Bi Aam pasrah. Athala juga sudah tidak ingin tidur kembali karena melihat Kakanya bangun.
"Hati-hati ya. Kak Aurel, pegangin Adek nya yang betul ya ..." seru Bi Aam. Ia ikut berjalan di belakang kedua majikan kecilnya.
Sanjaya, Lilis dan Rosa masih mengobrol. Sanjaya datang ke rumah anaknya. Melihat ada Rosa, pria itu sangat canggung. Akan tetapi, Lilis yang tahu perasaan suaminya sedikit-sedikit mengajaknya untuk berbincang bersama dengan Rosa.
Sanjaya akhirnya merasa lega, ia juga tidak keberatan dengan adanya Rosa di tengah-tengah keluarganya. Melihat Rosa yang kini sudah lebih baik, membuat Sanjaya dan Lilis mudah menerimanya.
"Awas jatuh, Nak ..." Rosa mendudukkan Athala di pangkuannya.
Aurel langsung menemplok pada Sanjaya.
"Daddy dan Mommy kemana Opa?" tanya Aurel.
"Tidak tahu. Opa baru saja datang." jawab Sanjaya.
"Kemana, Oma?" tanya Aurel beralih kepada Lilis yang sudah bersama Rosa, mereka sedang bermain bersama Athala.
__ADS_1
"Ada di kamar. Nanti kalau sudah selesai mandi mereka juga akan turun ..." ujar Lilis memberi penjelasan.
"Ayo, Dek. Kita ke Daddy yok ..." ajak Aurel.
"Jangan! Adek belum bisa naik tangga, Kak." ujar Lilis menahan tangan Aurel yang menarik Athala.
"Daddy dan Mommy mu baru saja pergi ke kamar. Pasti sudah di dalam kamar mandi, kalau Aurel mengetuk kamar pun tidak akan di dengar ..." ujar Lilis lagi.
"Memangnya mandi bersama ya, Oma?"
"Ah-, maksud Oma tidak begitu sayang. Mommy lagi menyiapkan air untuk Daddy mandi ..."
"Oh begitu ya Oma. Ya sudah deh, Aurel mau main lego ... Dadahh Athala, Robot sama lego nya Kakak ambil ya, wleee ..." Aurel berlari ke arah tikar yang sudah bergelar di atas lantai dengan banyak mainan di atasnya.
"No, No." Athala menarik tangan Rosa agar mengikutinya.
"Aku kesana dulu, Lis. Permisi Pak ..." Rosa menundukkan kepalanya ketika melewati Sanjaya.
Sanjaya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.
***
"Mas, sudah!! Ayo kita mandi, pasti anak-anak sudah bangun dan aku takut Athala mencariku, Mas." Delisa menutup seluruh badan polosnya menggunakan selimut tebal.
Setelah pergulatan panas yang telah mereka lakukan, dengan Delisa yang memimpin permainan hanya di bagian awal saja, selepas pelepasan, Delisa tak kuat dan meminta Revano menggantikannya.
"Iya, sayang. Sebentar lagi juga mau maghrib, kita sholat dulu baru turun. Athala pasti tidak rewel, ada Grandmi nya ..." Revano mengecup bibir istrinya.
"Hm iya, Mas. Ayo bangun!" Delisa membuka selimutnya. Nampak jelas tubuh polos Delisa, begitu pun juga dengan Revano yang masih sama-sama polos.
"Sayang ... Satu ronde di kamar mandi tak masalah kan, hm?" Revano berjalan sambil memeluk tubuh Delisa dari belakang.
"Tidak, Mas! Jangan ngaco deh ... Ini juga pabrik susu Athala sudah lecet semua gara-gara kamu." omel Delisa.
"Hahaha, baiklah ... Maafkan, Mas."
"Masih ada banyak hari ke depan." Revano menaik turunkan alisnya.
Dengan kesal, Delisa mencubit pinggang Revano.
"Akh! Apa yang Mas katakan memang benar kan sayang?"
"Satu minggu hanya boleh tiga kali saja." ujar Delisa terkekeh.
"Mana bisa begitu, sayang ..." ujar Revano manja.
__ADS_1
"Ayo cepat keramas, keburu maghrib dulu." jawab Delisa.
"Iya-iya sayangku." sahut Revano dengan senyum manisnya.