Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 40


__ADS_3

Dua hari berlalu Delisa tidak menggunakan HP nya karena masih rusak dan belum ada kabar dari pegawai konternya, Dua hari juga Aurel tak berhenti nya selalu merengek kepada semua orang yang ada di dalam rumahnya, Revano serta Roy bingung mengapa Delisa dua hari ini tidak bisa di hubungi, nomor nya sudah tidak aktif.


"Dad tante Delisa ... " ucap Aurel sambil menarik celana revano dengan air mata yang ingin menetes.


"Sini Aurel sama Oma saja ... Daddy ingin berangkat kerja dulu." sahut Lilis sambil membawa Aurel dalam gendongannya.


"Opa ... Aurel mau ketemu sama tante Delisa." Aurel menatap Sanjaya sambil menunjukkan wajah gemas nya.


"Van?"


"Ya Pa?" sahut Revano.


"Bagaimana Van? Ma?" tanya Sanjaya kasihan kala melihat cucu nya yang terus mencari Delisa.


"Vano juga tidak tahu." Revano mengangkat kedua bahu nya.


"Hm Mama juga tidak tahu harus bagaimana ... Tapi Mama tidak ingin melihat Delisa lagi."


"Ma!" Sanjaya memperingatkan.


"Jujur Pa!" ketus Lilis.


"Ma, jangan kasar begitu sama Delisa, kasihan nanti dia trauma, mungkin karena ini makannya dia jauh-jauh dari kita." ujar Sanjaya menghela nafas panjang.


"Baguslah kalau begitu, Mama juga nyaman seperti ini kok." sahut Lilis datar, Revano hanya mendengarkannya saja tanpa mengubris nya.


Entahlah Revano juga saat ini ingin melihat muka Delisa yang menggemaskan menurut nya, entah perasaan apa, Revano juga tidak tahu. Cinta? Revano sudah tidak memikirkan itu. Mungkin karena putrinya sudah dekat dan bahagia kembali membuat Revano juga ikut merasa bahagia, pikirnya.

__ADS_1


"Pa ... Kalau begitu biar Revano susul Delisa saja." celetuk Revano membuat Lilis langsung mendelik.


"Jangan bilang kalau kamu sudah cinta sama gadis itu Van? Ckckck .... Cinta kok sama gadis murahan." Lilis berdecak, mendengar perkataan itu membuat Revano langsung menyorot ibu nya dengan tatapan tajam di campur perasaan marah, sering sekali Lilis berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Ma, Delisa itu anak yang baik. Vano mau menjemput dia karena Vano kasihan sama anak Vano, sudah dua hari dia terus merengek membuat konsentrasi Revano bubar Ma. Satu lagi, kalau Revano sudah cinta memang kenapa?" tanya Revano membuat Lilis dan Sanjaya melebarkan matanya.


"Mama tidak merestui!" lantang Lilis sambil mengatur nafasnya.


"Sudahlah Ma biarkan saja Revano-"


"Diam Pa!" Lilis memotong pembicaraan Sanjaya.


"Kalau Mama bilang tidak setuju ya tidak setuju! Enak saja Vano sama gadis itu, dia gadis yang tidak baik sama seperti ibunya." sambung Lilis.


"Sudah Van, kamu berangkat kerja saja sana, biar Papa cuti ngurus anak mu." Sanjaya melihat rahang Revano yang tampak mengeras, Dengan cepat Sanjaya memegang pundak Revano agar tidak emosi kepada ibunya sendiri.


"Dad ... Tante Delisa ya? Please ..." ujar Aurel pelan hampir tak terdengar, sudah dari kemarin Aurel tidak mau makan hanya saja makan sereal dan susu.


Setelah Revano pergi masih saja Lilis berdecak membuat Sanjaya kesal melihatnya.


"Mah sudahlah biarkan saja Revano melakukan apa yang dia mau, jangan memaksa kalau memang sudah takdir."


"Kasihan juga cucu mu, sudah lemas begini." imbuh Sanjaya datar.


"Bukannya Mama dulu ingin menjodohkan mereka ya? Kok malah berbanding terbalik dengan yang dulu sih." kesal Sanjaya lagi.


"Itu dulu Pa! Sekarang sudah nggak." Lilis menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


Sanjaya yang asyik berdebat dengan Lilis tiba-tiba merasakan lendotan yang berat di dada nya, ia melihat Aurel yang sudah pingsan disana.


"Aurel sayang bagun Nak ..." Sanjaya mengangkat tubuh Aurel diikuti Lilis di belakangnya.


"Aurel bangun sayang ..." Lilis menepuk pipi Aurel, Lilis kaget suhu tubuh Aurel sudah sangat panas sekali.


"Mang Tejo! Tolong siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang! Aurel pingsan." Dengan cepat mang Tejo mengambil kunci mobil lalu terpogoh memasuki mobil dan menjalankannya ke rumah sakit.


"Aurel bangun sayang ..." Sanjaya memeluk Aurel sambil terisak, kemudian Sanjaya membuka sedikit kancing nya dan menenggelam kan kepala Aurel ke dada nya, agar demam Aurel segera turun dengan di tempelkan ke dada Sanjaya. #begitumenurutgoogle


"Mang Tejo yang cepat sedikit dong bawa mobil nya!" seru Lilis yang melihat Aurel sudah pucat muka nya.


"Baik Nyonya."


"Hubungi Vano mah!" sahut Sanjaya yang masih terisak.


"Iya Pah sebentar."


Lilis menghubungi Revano, dengan sekali menelpon langsung saja di angkat oleh Revano di seberang, padahal Revano sedikit malas untuk mengangkatnya, tiba-tiba saja perasaan untuk mengangkatnya sudah 100% muncul agar mengangkat telepon dari ibu nya, mungkin naluri anak dan ayah itu memang adanya.


"Astagaa Mah, Iya-iya Revano segera kesana."


Tut ...


Revano berlari ke arah Roy yang sudah duduk manis sambil membenarkan rambut nya.


"Roy tolong handle semua pekerjaan ku hari ini, Aurel sedang di bawa ke rumah sakit." Roy mendelik tak percaya.

__ADS_1


"Serius Bos? Ya sudah hati-hati bawa mobil nya bos, semoga Nona kecil lekas sembuh." Revano tidak mendengar ucapan Roy karena sudah berada di dalam lift.


"Arggghhh" Revano memukul stir mobilnya karena melihat jalanan yang begitu macet di tambah di depannya ada lampur merah membuat semakin lama saja.


__ADS_2