Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 86


__ADS_3

Revano pulang dari kantornya, ia mulai menjalankan aksinya untuk mengerjai istri kecilnya. Walaupun terbilang sulit bagi Revano, tapi ia akan berusaha semaksimal mungkin.


Ia juga sudah menghubungi pelayan di rumah agar mengikuti perintahnya, para pelayan setuju mengenai hal itu.


"Assalamualaikum Mas" sambut Delisa di depan pintu, ia meraih tangan kanan Revano dan menciumnya lembut.


"Hm, waalaikumsalam" cuek Revano, kemudian ia beringsut pergi ke kamar Aurel.


'Hah! Ada apa!' batin Delisa bingung, ia melangkahkan kakinya mengikuti langkah suaminya di depan.


"Mas?" panggil Delisa pelan, takut mengganggu Revano yang sudah merebahkan tubuhnya di samping Aurel yang tertidur nyenyak.


"Hm," sahut Revano berusaha memejamkan matanya.


"Mandi dulu Mas, kenapa malah masuk ke kamar Aurel?" tanya Delisa dengan wajah yang masih terlihat bingung.


"Aku ingin tidur bersama putriku dulu, keluarlah" jawab Revano memiringkan tubuhnya menghadap Aurel.


Tak banyak bicara, Delisa pun keluar dengan hati yang gusar karena saat ini Revano begitu dingin pada dirinya, entah mengapa Delisa pun saat ini tak tahu, dia memaklumi perlakuan Revano hari ini, takut jika banyak bicara, lebih baik diam saja, pikirnya.


"Baiklah Mas, Delisa tunggu di kamar saja ya?"


Tak ada balasan yang keluar dari mulut Revano, Delisa menepis angan-angan buruk pada pikirannya yang saat ini sudah beterbangan di otaknya.


Huhhh ...


Delisa lebih baik mengalah, ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk pada hatinya.


Revano duduk dan terkekeh sendiri atas perlakukannya sekarang "Astaga, maafkan Mas ya sayang" gumam Revano.


"Ih kenapa sih Mas Vano hari ini!" gerutu Delisa kesal, ia menatap dirinya dalam pantulan cermin.


"Mending aku dandan yang cantik dan bermanja padanya malam ini, sayang bantu Mommy ya!" Delisa berbicara pada janin yang di kandungnya.


"Ah aku harus bersiap!" ujar Delisa lagi.


Makan malam tiba, Revano sudah segar, ia mandi di kamar Aurel, ia juga sudah memberitahu kepada putrinya bahwa akan merayakan ulang tahun Mommy nya besok dan harus merayakannya dengan cara berpura-pura cuek kepada Mommy nya, tanpa pikir panjang Aurel pun mantap setuju dengan penuturan sang Daddy.


"Delisa kemana Bi? Apa belum turun?" tanya Revano, ia mulai membalikkan piring untuk diisi nasi serta lauk pauk.


"Iya Pak, Nona masih di atas" sahut Bi Romlah, lalu ia meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


"Hm, Aurel susulin Mommy buru," Revano menatap Aurel.


"Itu Mommy Dad" tunjuk gadis kecil kepada Delisa yang baru datang.


Penampilan Delisa malam ini benar-benar membuat Revano menelan salivanya begitu kasar, bagaimana tidak? Ia di suguhkan dengan buah dada Delisa yang menonjol dan paha yang mulus.


'Astaga! Godaan apalagi ini!' jerit Revano sambil memalingkan wajahnya ke bawah.


"Aurel makan di suapi Daddy saja, biarkan Mommy mu makan" ujar Revano, karena Aurel merengek meminta untuk di suapi Delisa.


"Biar Delisa saja Mas, Mas makan duluan saja" sahut Delisa lembut.


"Aurel ingin di suapi Daddy saja!" Aurel menyerahkan piringnya kepada Revano, perlahan Revano menyuapi Aurel dengan penuh kasih sayang.


"Sudah!" seru Aurel menahan sendok yang sudah menempel pada bibir kecilnya.


Revano hanya mengangguk dan melanjutkan makannya setelah menyuapi putrinya.


Delisa hanya melihat perlakuan yang ada di depannya. Tak ingin banyak bicara, Delisa pun menyudahi makannya karena malas sang suami belum juga memperhatikan dirinya.


'Hiks ... Hiks ... Kamu kenapa Mas?' Delisa berjalan masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


"Sudahlah tidak usah memikirkan yang tidak penting, aku harus memikirkan dia juga"


Delisa menghapus air matanya dan mengelus pelan perutnya,


"Adek sehat-sehat ya! Maaf mommy belum memberitahu Daddy mu, hari ini ingin sekali memberitahu kalau sudah ada adek di dalam perut Mommy, tapi sepertinya lain waktu saja," Delisa kembali menangis sambil berbaring diatas tempat tidur, hingga tak terasa ia sudah larut dalam mimpi indahnya.


***


Keesokan harinya, Delisa bangun sedikit siang karena lelah menangis di sepanjang malam akibat suami nya yang marah tanpa alasan.


"Astagfirullah, kepala ku ..." Delisa memejamkan matanya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Sshhh astaga, kok pusing sekali" desis Delisa berat, ia berusaha berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah salam, Delisa segera membuka pintu kamarnya yang sudah di ketuk dan sudah pasti suami tampannya.


"Mas?" ujar Delisa senang, ia ingin memeluknya tetapi apalah daya Revano yang sudah menghindar dan menyelonong masuk ke dalam kamar.


Huhh ...

__ADS_1


Lagi-lagi Delisa di buat kesal, dengan cepat Delisa melepas mukenah nya dan membantu menyiapkan pakaian Revano.


"Tak usah, biarkan aku sendiri saja, kamu urus saja keperluan Aurel di bawah" sinis Revano.


"Mas! Kamu kenapa sih?! Apa salah Delisa hingga Mas seperti ini? Coba ceritakan dulu baik-baik, Delisa tidak tahu letak salahnya Delisa dimana" Delisa menangis, membuat Revano berbalik badan yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Biar aku ceritakan, kamu datanglah di Arion cafe siang nanti, aku tunggu disana." sahut Revano datar dan masih memalingkan wajahnya.


Sebenarnya Revano tak tega melihat istrinya menangis, tapi ia mengingat ucapan Roy kemarin bahwa hanya mengerjainya saja itu pun hanya sehari saja.


"Hiks ... Hiks ... Ba-baik Mas" sahut Delisa dengan suara yang bergetar dan menahan kepalanya yang sudah berat.


Delisa turun dari kamar untuk menemui Aurel, ternyata gadis kecil itu sudah rapih dengan memakai baju sekolahnya,


"Aurel sayang, Mau Mommy antarkan ke sekolah, hm?" tanya Delisa, ia menghapus air matanya tak ingin putrinya dan pelayan melihatnya.


"No Mommy, Aurel dengan Sus saja, Ayo Sus" Aurel menarik tangan Bi Aam mengajaknya untuk cepat berangkat ke sekolah.


"Mommy! Aurel sekolah dulu ya, Assalamualaikum ... Dadahh Mommy!" Aurel mencium dan memeluk Delisa setiap pagi yang sudah menjadi rutinitas mereka sebelum berangkat ke sekolah.


"Kami berangkat dulu Nona, Assalamualaikum ..." pamit Bi Aam.


"Ya Bi, Waalaikumsalam." sahut Delisa, dia kemudian tersenyum melihat Revano turun dari tangga dan sudah siap berangkat kerja dengan memakai jas berwarna silver membuat pesona Revano semakin tampan saja.


"Mas?" panggil Delisa lirih,


"Ya? Ada apa?" tanya Revano.


"Mas berangkat pagi? Apa ada meeting pagi Mas?" tanya Delisa mendekatkan diri dengan Revano dan duduk di samping Revano yang sedang memakai kaos kaki dan sepatunya.


"Nggak" jawab Revano cepat.


"Lalu?" tanya Delisa lagi.


"Nggak ada, sudahlah kamu nggak perlu tahu." tambah Revano lagi membuat hati Delisa teriris mendengarnya.


Revano melenggang pergi begitu saja setelah memakai sepatunya tanpa berpamitan kepada istrinya terlebih dahulu.


"M-Mas?" panggil Delisa terbata-bata melihat suaminya pergi tanpa peluk dan cium seperti biasanya, tanpa aba-aba air mata pun kembali menetes di pipinya.


'Ya Tuhan apa salahku?' batin Delisa menjerit.

__ADS_1


__ADS_2