
"Sayang ... Delisa ku!" seru Revano dari arah pintu memasuki rumah nya, Revano tersenyum manis melihat ada Bi Romlah, Bi Aam dan Mang Endang yang sudah duduk rapih di temani Delisa dan Lilis.
Revano sudah tahu mereka saat ini sudah datang sejak kemarin. karena pada saat kemarin, Revano yang menyuruh Roy untuk menjemput mereka di stasiun.
Revano menghampiri dan mencium tangan Bi Romlah, Bi Aam, Mang Endang serta Lilis secara bergantian.
"Salim yang." Revano menjulurkan tangan nya kearah Delisa, sedikit lama tidak di balas oleh Delisa, dengan jahil nya Revano mengetuk kening Delisa lembut menggunakan jari nya.
"Van!" ancam Lilis.
"Haha. Oke Mah." Revano mendudukkan diri nya di samping Delisa dan menyandarkan bahu nya kearah belakang.
"Untuk Bi Romlah, Bi Aam dan Mang Endang, saya mau mengajak kalian semua untuk bekerja dengan saya untuk tinggal di rumah baru ..." jelas Revano membuat para pria dan wanita paruh baya menyunggingkan senyuman nya serta menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Pak Revano, saya bersedia untuk bekerja di rumah bapak nanti." sahut Bi Romlah.
"Tapi untuk Bi Aam, hanya mengurus Aurel saja ya. Bagian dapur urusan Bi Romlah, mungkin nanti saya juga akan memperkerjakan ART yang lain. Tidak mungkin hanya Bi Romlah saja pasti nanti capek hehe apalagi ruangan di dalam nya bisa dibilang cukup besar-besar." lanjut Revano lagi.
"Baik Pak ..." sahut Bi Romlah.
"Mas, Pak Muh kerja juga ya, boleh?" bisik Delisa tepat di telinga Revano.
"Nggak sayang, Pak Muh hanya mengabdi di perusahaan saja." bisik Revano.
"Ishh."
"Ada apa Del?" tanya Lilis yang melihat muka Delisa sedikit cemberut.
"Eh nggak Mah, nggak ada." Delisa tersenyum kembali menatap calon mertua nya.
"Tolong jaga cucu ku dengan baik Ya Bi Am." ujar Lilis mengelus tangan Bi Aam yang berada di sebelah nya.
"Iya Nyonya, pasti. Saya bakal menjaga cucu anda dengan baik." jawab Bi Aam cepat.
"Bi Romlah nanti besok kita berangkat jam 5 pagi, usahakan semua nya sudah siap."
"Iya Nyonya." Bi Romlah mengangguk pelan.
Bi Romlah dan Lilis asyik mengobrol berdua tentang acara pernikahan Delisa dan Revano besok agar semuanya teratur sesuai jadwal, karena besok juga Bi Romlah dan Mang Endang akan berperan sebagai wali dari Delisa tentunya.
Delisa pamit untuk ke kamar sebentar, dia menaiki tangga dan akan beristirahat di ruang tengah atas tepatnya di depan kamar Revano, Delisa meluruskan kaki nya, diikuti Revano yang duduk sambil membuka iPad nya, kali ini Revano duduk di depan Delisa.
"Mas."
"Iya kenapa sayang? sebentar." Revano menutup kembali iPad nya kemudian menatap Delisa dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa hm?"
__ADS_1
"Besok? Beneran nggak sih?" tanya Delisa ragu.
"Iyalah sayangku ... Masa bohongan." sahut Revano terkekeh.
"Nggak nyangka sih Mas, kita bisa secepat ini."
"Alhamdulillah sayang, emang mau di gantung biar tiga tahun lagi gitu? Mas punya uang banyak, nganggur lagi ..." ujar Revano narsis dengan mengedipkan sebelah mata nya.
"Ah! Kamu mah kalau lagi serius suka di bikin candaan!" ujar Delisa mengambil bantal yang ada di pangkuannya dan melemparkan nya kearah Revano yang ada di hadapannya saat ini.
"Eits nggak kena, haha." Revano dengan sigap menangkap bantal yang di lemparkan oleh Delisa.
"Aurel kemana sih sayang? Kok dari tadi nggak kelihatan, tidur kah?" Revano membenarkan posisi duduk nya.
"Sama Papah tadi keluar,"
"Loh, ada bilang mau kemana nggak?"
"Tadi dia merengek mau beli ikan buntal seperti temennya yang ada di sekolah, jadi tadi Aurel menangis ke Papah karena kepengen." jelas Delisa sambil menhembuskan nafas nya sedikit berat.
Revano berdecak "Ck, ikan di belakang besar-besar malah mau beli yang kecil."
"Nama nya juga anak-anak Mas. Yang penting jangan ikan hiu apalagi paus, kasian Papa nanti haha." Delisa terkekeh.
"Cucu nya itu merepotkan kakek nya terus." ujar Revano.
***
"Coba Aurel pegang, nanti ikannya melendung." sahut Sanjaya yang masih asyik memainkan dagu nya.
Aurel pun mencoba mengikuti instruksi dari sang kakek, dan benar saja, ikan itu langsung mengembungkan perut nya dan mengapung layaknya kertas.
"Yes Opa! Dia jadi gendut, haha!" Aurel mengocok wadahnya lagi dan lagi, tak peduli kalau ikan yang ada di dalam nya kepusingan, yang terpenting adalah dia bisa melihat ikannya melendung kembali.
"Nanti ikan nya mabok Aurel, hentikan." ujar Sanjaya memperingati.
"Mabok? Emangnya ikan bisa mabok juga Opa?"
"Iya nanti mati, Opa tidak mau membelikan lagi kalau ikannya mati."
"Hm, oke Opa. Ikannya lucu seperti Om Zack." ujar Aurel sambil menunjuk Zack yang sedang menyetir.
"Ah iya, Nona kecil." Zack hanya tersenyum kearah spion di atas kepala nya.
"Gendut seperti Oma." lagi-lagi Aurel memperlihatkan ikan nya yang sudah melembung besar.
"Tidak boleh seperti itu sayang, nanti Oma mu marah." ujar Sanjaya membawa Aurel dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Sory Opa. Tapi benarkan Opa? kalau Oma itu gendut seperti ikan ini." ujar bocah kecil itu lagi.
"Tidak," jawab Sanjaya menahan tawanya.
"Haha, tapi ikan nya keriput seperti Opa juga." ujar Aurel yang masih melihat seluruh badan ikan kecil milik nya itu.
"Itu bukan keriput sayang, itu sisik."
"Iya Opa." ujar Aurel menurut.
Setelah sampai di halaman rumah Sanjaya, Aurel turun dan berlari memasuki rumah nya untuk mencari Dady dan Mommy nya untuk memamerkan ikan pemberian sang Opa.
"Daddy! Where are you?" teriak gadis kecil itu menggema di dalam rumah.
Dengan langkah kecil nya, Aurel terus berlari menaiki tangga, tak peduli Bi Aam dan Bi Romlah menyapanya dari bawah, ingin sekali Bi Aam mengejar Aurel dan menemani nya keatas tetapi ia tahu betul kalau di atas sudah ada kedua orang tuanya.
"Daddy!"
"Mommy!"
Aurel tersenyum simpul ketika melihat Dady dan Mommy nya sedang bersantai sembari melihat tayangan televisi.
Langsung saja Aurel duduk di pangkuan Delisa, membuat Revano sedikit beringsut ke pinggir karena posisi tangan Delisa terbuka untuk memeluk putri nya yang sudah bertengger di depan.
"Wah cantik sekali ikan nya," respon Delisa.
"Jelek," respon Revano membuat sang putri memprotes Dady nya.
"Jelekan Daddy, iya kan Mom?"
"Cih, anak siapa sih kamu hm?" Revano mengangkat badan Aurel dan meletakannya ke sofa kosong, Revano mulai menggelitiki badan Aurel hingga gadis kecil itupun mencoba menahan serangan dari sang Dady.
"Haha! Stop Dad!"
"Ini hukuman untuk Aurel yang sudah berani bilang Daddy jelek." ujar Revano.
"Sudah-sudah! Mas sudah hentikan, kasihan Aurel."
Revano mendelik kearah Delisa dan tersenyum, "Oke sayangku, laksanakan."
Dan Aurel begitu antusias menceritakan kembali ikannya dan mengajarkan kepada Delisa agar ikan itu kembali melembung, padahal Delisa sudah tahu, tapi ia biarkan saja dan sesekali meresponnya dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji kemampuan dasar Aurel.
***
Malam hari.
'Ya Allah lancarkan lah hari esok, jauhilah kami dari semua yang menghambat acaranya, berikan lah kami kebahagiaan dan kesejahteraan untuk bahtera keluarga kecil kami dan jauhilah semua perbuatan-perbuatan buruk yang ingin di lakukan suami ku begitu juga dengan diriku, aminn ...'
__ADS_1
Do'a Delisa sebelum tidur,
Sedangkan Revano saat ini sudah terlelap di kamar nya karena seharian cukup menguras tenaga nya, ia juga tak sabar untuk menanti hari esok.