Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 117 -END-


__ADS_3

Setelah memutari perjalanan kota yang cukup ramai, Revano dengan putranya tampak menikmati suasana yang ada. Selesai membeli banyak makanan, Athala belum tertidur, bahkan bocah kecil itu sangat senang bisa memegang setir mobil dengan sang Daddy.


"Athala sayang, cepatlah tidur, nanti Mommy marah jika Athala belum tidur." Revano mencium kening Athala dan mengelus dada Athala menggunakan tangan kirinya. Beruntung Revano menaiki mobil matic, mudah lah ia untuk mengendarainya di situasi seperti ini.


Bagaikan sihir, mata Athala yang tadi masih membola sempurna, kini sudah tertutup dengan rapat. Revano mengecilkan volume musiknya, dan melajukan mobilnya pelan menuju rumahnya.


Mang Endang membukakan pintu gerbangnya, Revano langsung turun dan meminta mang Endang untuk memarkirkan mobilnya di dalam bagasi.


Revano menggendong Athala di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa banyak makanan.


"Van?" panggil Lilis. Revano meminta agar Mama nya diam, karena Athala tertidur. Revano menaruh makanan di atas meja.


Rosa berdiri, ia mengadahkan tangannya ke depan, "Sini, Biar Ibu saja yang menidurkan Athala di kamarnya." ucapnya. Revano mengangguk cepat, ia memberikan Athala pada Rosa.


"Terimakasih Bu," ucap Revano pelan takut membangunkan putranya.


Rosa mengangguk sambil menganggukkan kepalanya.


"Ma, Vano ke kamar dulu ya?" pamit Revano, sebelumnya ia mengambil bungkusan pesanan istrinya.

__ADS_1


"Pergilah ..." jawab Lilis yang sedang menata makanan yang sudah Revano beli.


Revano menaiki anak tangga dengan sedikit berlari, ia tak sabar menemui istri kecilnya.


Ceklek~


Revano menghela nafasnya pelan ketika melihat Delisa dan Aurel sudah tertidur di atas kasur dengan posisi yang saling memeluk satu sama lain.


Revano mendekati mereka lalu mencium keningnya satu persatu sambil berkata, "Selamat malam kesayangan-kesayanganku, sehat selalu ya kalian."


Ternyata setelah memiliki anak lagi dengan suaminya, Delisa juga tidak pernah membedakan Aurel dengan Athala, karena menurut Delisa mereka adalah sama-sama anaknya, dan tidak ada yang harus di bedakan.


Lagi pula, Aurel sudah dekat dengan Delisa sejak dulu, bocah kecil itu lah yang menyatukan keduanya dari rival menjadi orang yang saling mencintai.


Revano pun merasakan hal yang sama, ia sebisa mungkin membagi waktunya untuk keluarganya dan pekerjaannya. Biasanya wekeend mereka berkumpul entah di taman belakang rumah atau berjalan-jalan keluar, tergantung mood istrinya saja.


Revano saat ini sangat-sangat mencintai istri kecilnya, walaupun istrinya terlahir dari keluarga yang terbilang cukup kaya raya, tetapi hati dan pikirannya sangatlah sederhana. Pria itu menyesal telah menyia-nyiakan waktunya untuk menikahi Delisa dari awal bertemu.


Tok ... Tok ... Tok ...

__ADS_1


"Sebentar Bu," Revano membuka pintunya, padahal tidak terkunci, tapi Rosa mengetuknya pelan.


Revano menggendong Athala yang sedang menangis tetapi matanya masih tertutup rapat.


"Ibu turun dulu ya Van, setelah Athala lelap, panggil Ibu saja. Malam ini biar Ibu yang menemani Athala tidur di kamarnya." pesan Rosa sebelum melenggang pergi turun kebawah.


Revano menimangnya dengan ciri khasnya, yaitu menempelkan kepala Athala pada ceruknya, tak lama kemudian tangis pun mereda, dan Athala kembali terlelap dalam tidurnya.


Dengan hati-hati Revano meletakkan Athala di samping Aurel. Revano memandangi wajah mereka yang hampir mirip, Delisa dan Aurel seperti kakak beradik, wajahnya jika dilihat sekilas sangat mirip sekali, namun tidak dengan Athala yang justru wajahnya lebih berpihak pada Revano, untung tampan.


Revano memandangi wajah istrinya serta kedua anaknya yang tertidur pulas. Hatinya bergetar dan terenyuh menatap wajah polos mereka bertiga yang sedang tertidur.


Di cium keningnya satu persatu cukup lama. Tak hanya kening, di wajah cantik Delisa pun pria itu melabuhkan ciuman hangatnya, ********** sedikit tapi tidak sampai membangunkan sang empuh nya.


"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untukku, dan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku. Ketahuilah, banyak wanita di dunia ini namun hanya kamu yang Mas cintai, semoga cinta kita selalu bersinar di setiap harinya, dan tidak ada yang mengusik di dalam hubungan kita." Revano mengelus pipi Delisa.


"Daddy sayang kalian, apapun untuk kalian pasti Daddy akan lakukan. Sekarang tidurlah, mimpi indah my boy and my girl." Revano beralih memandangi kedua anaknya.


"Love you more sayang-sayangku." ucap Revano sambil tersenyum manis. Bahagia sekali rasanya melihat pemandangan indah ini. Saat ini, istri dan kedua anaknya adalah prioritas utamanya.

__ADS_1


...~TAMAT~...


...Hai, terimakasih yang sudah mengikuti Author dari awal merintis novel ini ... Semoga kalian sehat selalu ya, aminnn🙏🏻 Author sayang para readers😍😍 Terimakasih juga yang sudah meng-gift hadiah untuk Auhtor, tak hanya gift, bagi Author like dan komen juga cukup Masyaallah, apalagi komen yang positif hehe😘🤗...


__ADS_2