Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 37


__ADS_3

Sesampai nya di rumah Aurel tidak mau turun dari mobil nya dan masih menangis kala ia tidak di turuti permintaan nya, berbagai macam bujukan telah di lakukan oleh Revano tapi tak membuat Aurel berhenti menangis.


"Ayo sayang sudah sore ... Turun yuk ... Kita telpon tante Delisa di dalem, ayok ..." Dengan cepat Revano menggendong tubuh Aurel walaupun Aurel memberontak di gendongannya tetap saja Revano berjalan memasuki rumah nya tanpa mengubris teriakan dan tangisan dari putri nya.


"Astaga Van! Kamu apa kan Aurel ha!" ujar Sanjaya emosi sambil mengambil Aurel dari gendongan Revano.


"Aurel minta ketemu sama Delisa Pa-"


"Tinggal turutin saja apa susah nya." Sanjaya memotong omongan Revano.


"Masalah nya Delisa udah gak disini lagi, dia udah ke Jakarta lagi." jelas Revano datar.


"Beneran Van?" Revano mengangguk dan berjalan mendekati Sanjaya.


"Sudah ya sayang nangis nya ... Aurel makan dulu ... Yuk Daddy temenin." Dengan kasar Aurel menepis tangan Revano. "Daddy jahat!" teriak Aurel menggema di rumah besar itu membuat Lilis yang sedang mengobrol dengan para ART lalu mendengar tangisan sang cucu ia segera berlari ke arah depan.


"Loh ko cucu Oma menangis ? Kenapa? Sini sama Oma." Lilis menggendong Aurel dan memeluknya.


"Daddy jahat Oma Hikss ... Hiks ... Aurel benci Daddy Hiks ... Hiks ... " Aurel menunjuk Revano yang sedang terdiam.


"Kenapa Van?" tanya Lilis


"Aurel minta ketemu Delisa, tapi Delisa udah gak ada disini lagi." terang Sanjaya.


"Ah tidak mau berurusan dengan Delisa itu." sahut Lilis.


"Sudah ya jangan menangis lagi ... Sekarang Aurel mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Lilis mengelap air mata Aurel.


"Gak mau makan Oma hiks ... Mau ketemu tante Delisa dulu hiks ..." Permintaan Aurel tetap sama.


"Tante Delisa sudah pulang ke rumah nya, jangan minta ketemu sama tante Delisa lagi ya? Sudah jauhhhh sekali." kata Lilis.


"Sekarang Aurel makan biar Oma temani ya?" sambung Lilis membuat Aurel menutup mulut nya menggunakan tangan nya.


"No Oma ... Hiks ..." Aurel menggeleng pelan.


Aurel beringsut turun dari pangkuan Lilis lalu berlari ke kamar nya dan langsung menutupi seluruh badannya menggunakan selimut.


"Arghh ... Gimana Ma? Susah kalau Aurel sudah tantrum begitu, bikin emosi saja." kata Revano menghela nafasnya.

__ADS_1


"Sudah lah namanya juga anak kecil nanti berhenti sendiri." jelas Lilis.


"Tapi tahu sendiri kan Aurel bagaimana? Argghhh gatau lagi, Revano pusing." ujar Revano sambil berdiri dan menyusul putri nya.


"Kasihan Aurel Ma, sepertinya sudah dekat sekali dengan Delisa." kata Sanjaya sambil menyeruput kopi nya.


"Iya Pa, biarin ah jangan sampai dia deket-deket lagi sama Aurel."


"Memangnya kenapa?" tanya Sanjaya heran.


"Sifat nya ihh bikin geleng-geleng kepala, takut nya seperti Rosa, kan sudah lumayan lama tinggal dengan si Rosa itu pasti sudah ada nempel-nempel dikit." kata Lilis membuat Sanjaya geleng-geleng kepala sendiri mendengarnya.


"Kan setiap orang beda-beda Ma ..." Sanjaya berucap.


"Harusnya dari dulu Mama ikutin kata Papa pas itu suruh di pecat, Kenapa sih Papa nggak bilang dari awal kalo si Delisa anak nya Guntur? Lagian Papa juga ngapain bisa-bisa nya mabuk untung ada Anton jadi nggak kejadian." Lilis berbicara panjang lebar.


"Sebenarnya pas itu Papa suruh jauh-jauh biar dia nggak buka suara aja, eh malah dia nggak tau apa-apa, Gadis polos dia." ucap Sanjaya jujur.


"Ya sudah intinya dari kejadian kemarin Mama jadi tahu kalau mana orang yang baik mana yang nggak." jelas Lilis kesal.


"Tapi menurut Papa, si Delisa anak yang baik sama seperti istri pertamanya pak Guntur." Sanjaya menimpali.


"Udah ah, tuh denger cucu kita masih menangis ... mama mau kesana dulu." kata Lilis sambil berlari mendengar tangisan di campur teriakan yang histeris.


Huaaaa ....


Huaaaa ....


"Sekarang anak cantik Daddy mau apa hm?" Revano bertanya dengan lembut sambil memangku Aurel.


"Kue ... Hiks ..." Aurel kembali mengingat kue milik nya.


"Oh Aurel mau kue? Nanti minta dibikinin bi Asih ya?"


"Bukannya Aurel sudah bikin kue kemarin ya?" sahut Lilis masuk mendekati Revano dan Aurel.


"Kue ... Buat tante Delisa ... Tapi tante Delisa nya tidak ada huaa ... Huaaa ..." Aurel menendang nendang kaki nya.


"Oke sekarang kita telpon tante Delisa ya? Video call oke? Tapi Aurel diam, berhenti menangis." Aurel mengangguk. Kemudian Revano mencari nomor Delisa lalu memencet memulai panggilan telepon.

__ADS_1


Di sana, Delisa yang sedang bersantai di temani bi Aam mendengar handphone nya berdering, ada telepon dari nomor asing yang ia tidak kenal.


"Siapa non?" ujar bi Aam yang ikut-ikutan memanggil Delisa dengan sebutan 'nona'.


"Tidak tahu bi ... Tidak ada nama nya." kata Delisa sambil mereject sambungannya.


"Angkat saja Non ... Kali saja ada perlu dengan Nona kan kita tidak tahu." ujar bi Aam menasehati, "Iya bi ... Nah orang nya telpon lagi bi." Delisa menunjukkan layar nya.


"Angkat dulu saja Non." Delisa mengangguk dan menempelkan handphone nya di telinga nya.


"Halo Del? Ini saya Revano." kata Revano di dalam telepon.


"Eh iya pak Revano ada apa ya?" Delisa mengerlingkan mata nya melihat sambungan teleponnya di ubah menjadi video call.


"Angkat Del, sebentar saja please ..." seru Revano, membuat Delisa memencet tombol berwarna hijau itu.


Dilihat dalam layar ada Aurel dengan muka yang penuh dengan air mata dan ingus nya.


"Loh Aurel kenapa?" tanya Delisa.


"Tante kenapa pergi jauh? Aurel mau kasih ini." ujar Aurel menunjukkan toples nya.


"Buat Aurel saja ya, dimakan oke?"


"Nggak, Aurel mau nya makan bareng sama tante." pinta Aurel.


"Ehm Aurel makan sama Dady dulu aja ya? Tante nanti kapan-kapan main lagi sama Aurel terus kita bikin bareng ya kue nya?" Delisa membujuk Aurel karena tidak enak ada Lilis yang menatap diri nya yang sedang berdiri di belakang Aurel.


"Janji ya tante?" Aurel terlihat sangat bahagia bertemu dengan Delisa walaupun sebatas layar handpone.


"Iya tante janji, sekarang Aurel mandi dulu nanti makan malem yang banyak terus bobo yang nyenyak ya?" Delisa melihat baju yang di kenakan Aurel masih baju Less nya.


"Iya tante okeyy " ucap Aurel sambil menunjukkan kedua jempol nya. Lilis yang melihat Aurel sudah tidak menangis lagi jadilah ia keluar dan menemani Sanjaya yang masih di ruang keluarga.


Layar handpone berpindah menjadi seluruh wajah Revano.


"Del?"


"Ya Pak?"

__ADS_1


"Ahh Dady tidak mau ... Aurel mau sama tante Delisa ... Sini handpone nya Dad!" terdengar Aurel yang meminta handphone milik sang Dady.


Ayah dan anak itu sedang memperebutkan HP, Delisa diam saja sambil mendengar kerusuhan di seberang, terlihat layar HP nya yang gambar nya tidak jelas menandakan hp itu sedang melayang-layang tidak jelas.


__ADS_2