Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 104


__ADS_3

Setelah mandi bersama, Revano membantu istrinya mengoles minyak terapi pada punggung sang istri. Tak hanya mengoles saja, sedikit-sedikit Revano memijatnya lembut.


"Sudah, Mas. Cukup ..." Delisa berbalik badan, ia tak enak jika menyuruh suaminya untuk memijatnya.


"Tak apa, Sayang. Sini Mas pijit lagi." Revano hendak membuka baju milik istrinya, Delisa menggeleng pelan dan menahannya.


"Sudah cukup, Mas. Kan Delisa hanya menyuruh Mas untuk mengoleskan minyak terapi saja karena tangan Delisa tak sampai jika harus ke punggung ..."


Revano tersenyum "Beneran hm?"


"Iya, Mas. Mas buru ambil wudhu lalu kita sholat berjamaah."


"Baiklah sayang, Mas wudhu dulu ya ..."


Delisa mengangguk pelan.


Revano pun berjalan kearah tempat khusus wudhu yang ada di sebelah kamar mandi nya.


Di tengah-tengah kegiatan wudhu nya, Delisa ikut mendekati suaminya dan wudhu bersama di sampingnya.


Setelah selesai berwudhu, mereka melaksanakan sholat dengan Revano yang memimpin sholat nya.


Kemudian mereka berdua berbaring di atas kasur dengan kesibukannya masing-masing, Revano memangku laptop nya sedangkan Delisa asyik bermain ponselnya sambil sesekali tersenyum membacanya.


"Lagi apa sih, sayang?" tanya Revano, matanya masih fokus menatap layar laptopnya.


"Ini, Mas. Lagi chatan sama Melati ..." Delisa menunjukkan ponselnya kearah Revano.


"Hm" gumam Revano setelah mendengar jawaban dari Delisa.


"Mas, Aurel kok tidak ke kamar sih ... Delisa kangen Aurel, Mas. Turun yuk ..." ajak Delisa.


"Mas lagi revisi laporan dari karyawan dulu, sayang. Nanti saja, tunggu Mas selesai lalu kita turun, sekalian makan malam, Yang." Revano menatap Delisa sambil tersenyum.


"Baiklah, Mas."


Delisa bangun, wanita itu masuk kedalam walk in closet untuk berganti pakaian baju tidur. Sehabis mandi, Revano lah yang memilih baju untuknya, cuaca sangat tidak mendukung, suaminya memilih baju yang sangat tebal sementara cuaca sangat panas membuat Delisa ingin segera menggantinya saja.


Revano hanya menatap punggung istrinya, ia melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.

__ADS_1


***


Di dapur, Aurel si gadis kecil imut ikut membantu pekerjaan pelayannya, dari menyusun piring hingga sendok dan garpu nya.


"Aurel, sudah Aurel duduk saja ..." ujar Bi Aam menggeleng pelan.


"Aurel mau bantuin Sus sama Nenek Romlah." ucap Aurel.


"Sudah selesai sayang. Aurel panggil Daddy dan Mommy saja ..." sahut Bi Romlah membawakan lauk yang terakhirnya.


"Aurel malas naik tangga, Bi. Aurel tunggu Daddy dan Mommy disini saja." jawab Aurel.


Bi Aam menghela nafasnya berat, Aurel yang di asuh dirinya sudah besar dan berubah semakin pintar saja.


Benar saja, Revano dan Delisa turun dari tangga dan menghampiri Aurel yang sudah duduk manis di tempat makan. Revano masih menggunakan kolor pendeknya, Delisa sudah berganti memakai daster yang dapat dari kado pas di hari ulang tahunnya.


"Mommy, Daddy, selamat malam." seru Aurel.


"Malam juga sayang." jawab Revano dan Delisa bersamaan.


Kedatangan kedua majikannya, Bi Aam beringsut mundur perlahan menjauh dari mereka, ia memilih kearah dapur untuk membantu Bi Romlah mencuci peralatan-peralatan yang kotor usai di pakai.


"Terimakasih, Mommy."


"Terimakasih, sayang."


Mereka bertiga makan makanannya masing-masing, lauk pauk yang masih tersisa Delisa tutup kembali agar bisa di makan kembali, namun Revano tidak mengizinkan Delisa dan Aurel untuk makan makanan yang sudah di hangatkan kembali.


Setelah makan selesai, tumben sekali Aurel merengek meminta tidur di temani sang Mommy. Revano mengizinkan asalkan Delisa kembali ke kamar setelah Aurel tertidur nyenyak, Delisa hanya mengiyakan saja keinginan suaminya itu.


"Iya-iya Mommy tidur dengan Aurel, oke ..."


Bi Aam hanya mendengarkan percakapan Aurel dan Delisa dari dekat, walaupun begitu ia tetap harus menunggu Aurel tertidur.


"Horeee ... Ayo Mommy kita tidur sekarang ..." Aurel menarik tangan Delisa agar masuk kedalam kamarnya.


Revano melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya, sambil menunggu Delisa kembali ke kamar, ia mencoba menonton film di Tv lebarnya, film romantis dengan adegan-adegan dewasa di dalamnya membuat pria itu mengingat permainan tadi sore bersama istrinya, ia tersenyum mengingatnya.


Revano berencana untuk meminta hak nya kembali setelah istrinya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Film sudah selesai Revano tonton, sekitar 1 jam lebih, dan dalam waktu itu juga Revano tak melihat istrinya masuk ke dalam kamarnya lagi.


Revano mengecilkan volume Tv nya walaupun film masih tetap berjalan. Baru saja Revano ingin membuka pintu, tetapi Delisa lebih dulu membuka handle pintunya hingga keduanya sama-sama terkejut.


"Sayang!"


"Mas! Ya Tuhan!" Delisa memegang dadanya.


"Ya ampun, Mas. Delisa kaget, kirain hantu!" Delisa cemberut, ia menggerai rambutnya dan naik keatas kasur. Revano mengejarnya.


"Film apa sih, Mas. Cerita anak SMA ini mah yang di hamilin sama Om-Om." Delisa terkekeh "Seperti aku sama kamu, Mas. Hahaha ... Nih liat aku sama dia sama-sama bunting." Delisa menunjukkan perutnya.


"Tapi Mas hamilin kamu sudah halal kan, hm? sementara dia belum, jadi kamu harus banyak-banyak bersyukur sayang ..." Revano mendekati Delisa, mencari kenyamanan dalam ceruk lehernya.


"Hm ... Tapi kasihan juga kan, Mas. Jadi dia nggak tamat sekolah SMA nya ..."


"Sudahlah sayang, itu hanya film saja." Revano semakin posesif, ia mengeratkan pelukannya.


Delisa memainkan rambut milik Revano, menarik-narik, menggulungnya sampai menciumnya.


"Hm" gumam Revano seraya memejamkan matanya, padahal ia ingin bermain malam bersama istri kecilnya, tetapi matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi.


"Tidur, Mas. Kamu besok harus kerja lagi ... Delisa ikut ya, Mas? Delisa ingin bertemu Pak Muh ..." ujar Delisa.


"Hm, lihat besok saja ya sayang. Sepertinya Mas besok harus lihat proyek keluar kota, pagi berangkat, siang pulang lagi ..."


"Kalau begitu lain kali saja ..." Delisa mengelus punggung lebar milik suaminya.


"Hm" Revano tak kuasa menahan kantuknya, ia tidur dalam posisi memeluk leher istrinya.


Delisa hanya takut jika Revano menendang perutnya saja. Anak yang ada di dalam kandungan nya jika Revano datang akan diam saja dan tidak akan aktif menendang, sepertinya jealous dengan sang Daddy nya.


Delisa mengelus perutnya, tangan sebelahnya ia gunakan untuk mengelus kepala suaminya. Delisa mematikan Tv nya, kemudian ia juga menggantikan lampu kamar dengan lampu tidur yang remang-remang menggunakan remot control, jadi ia hanya memencet tombol nya saja, tak perlu berdiri.


Perlahan Delisa melepaskan pelukan suaminya, memindahkan kepala Revano pada bantal di sampingnya. Wanita itu memudian menyelimuti tubuh suaminya juga dirinya dengan selimut tebal.


...🌹🌹🌹...


...Maaf Author lg sibuk bgt jadi jarang up, kalau terburu-buru nanti ceritanya gak nyambung. Mohon di maklumi😀🙏🏼 Btw, baca novel Author yang satu nya ya, klik aja profil ku, terimakasih bestie🥰❣...

__ADS_1


__ADS_2