Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 88


__ADS_3

Sesampainya di Arion cafe, Delisa melangkahkan kakinya menghampiri Revano yang ada di lantai atas.


"Mas" panggil Delisa sedikit keras membuat Revano yang sedang menggunakan Hp langsung menoleh kearah Delisa yang berdiri di hadapannya.


"Hm, duduklah" ujar Revano,


Delisa pun duduk di hadapan Revano.


'Astaga aku lupa membawa bungkus test-pack nya, Mas Vano sih buru-buru!' kesal Delisa di dalam hatinya.


"Em Mas, langsung saja, sebenarnya ada apa?" Delisa menatap pria yang ada di hadapannya dengan serius.


"Tunggu sebentar," Revano menarik kursi nya hingga bersampingan dengan Delisa, kemudian merengkuh tubuh kecil Delisa ke dalam dada bidang nya.


"Sebenarnya, tidak ada apa-apa" Revano mengulum senyumnya, "Dan sebenarnya ..."


Duar ...


Duar ...


Duar ...


Delisa membulatkan matanya melihat danau tenang di depannya berubah menjadi ramai dengan lampu bekerlap-kerlip menghiasi sudut danau di tambah nama dirinya terpampang jelas disana dengan kata 'Happy Birthday sayangku, Delisa Pratama'.


"M-mas!" Revano hanya menganggukkan kepalanya.


"Mas ih! Kesel ah!"


Revano terkekeh "Sayang, Mas tidak pernah menyangka bahwa Mas akan menemukan harta paling berharga yaitu bertemu denganmu. Hidup Mas terus membaik sejak pertama kali kita bertemu. Hari ini, kita merayakan waktu kelahiranmu. Aku cinta padamu sayang. Happy birthday!"


"Mas ... Hiks ..." Delisa tak kuasa menahan tangisnya, dia pun menangis di pelukan suaminya.


"Maafkan perlakuan Mas yang kemarin ya sayang, Mas hanya bercanda saja, sungguh." Revano menghapus buliran air mata di pipi Delisa "Sudah jangan menangis lagi" tambah Revano, kemudian pria itu mencium bibir mungil istrinya, tak sampai disitu saja, Revano juga mel😋mat dan memperdalam ciumannya.


Dengan reflek, Bi Aam menutup wajah Aurel menggunakan tangannya agar gadis kecil itu tidak melihat kegiatan yang seharusnya tidak dilihat olehnya.


"Aduh bagaimana ini Pak!" sahut Bi Romlah kepada Roy yang sudah siap dengan membawa kue di tangannya.


"Sebentar Bu, Bos Revano belum memberikan kodenya" jawab Roy santai sambil mengamati adegan yang berlangsung.


Aurel langsung saja menepis tangan Sus nya dan berlari sambil berteriak menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bercumbu mesra.


"MOMMY, DADDY!" teriak Aurel dengan lantang membuat sepasang suami istri itu kaget, Delisa langsung mendorong dada Revano dan menyambut Aurel dengan memeluknya, sedangkan Revano sendiri terlihat kesal.


"Happy Birthday Mommy, Aurel sayang sama Mommy." ucap gadis kecil itu membawakan buket bunga yang berukuran sedang.


"Terimakasih sayang, Mommy juga sayang sama Aurel." Delisa memeluk Aurel dan menciumnya.


"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday to you ... Yeay ..."


Prok ... Prok ... Prok ...


Riuh suara dari belakang yang ikut merayakan hari ulang tahun Delisa, Delisa melihatnya begitu terharu, setelah meniup lilinnya lalu mereka berfoto bersama.


Citra dan Sani ikut merayakan pesta nya juga, mereka sangat antusias dengan membawakan kotak hadiah yang cukup besar.

__ADS_1


"Wah, terimakasih ya Citra, Sani." ujar Delisa sambil menerima hadiah dari kedua temannya.


"Sama-sama Bu," sahut Citra dan Sani bebarengan.


"Ini ada dari kami juga Nona," sahut Bi Romlah dan ikut menyerahkan kotak hadiah.


"Bibi tidak usah repot-repot," Delisa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, menurutnya hasil kerja keras mereka untuk mereka nikmati sendiri saja.


"Ya sudah tidak apa-apa sayang, nanti akhir bulan Mas akan berikan mereka bonus." sahut Revano sambil menggendong Aurel yang sedang memakan eskrim.


"Iya Mas," jawab Delisa senang.


"Wah ada yang ulang tahun nih," celetuk Roy sambil menyipitkan kedua matanya, pria itu pura-pura tidak tahu.


"Nah sayang, Roy yang merencanakan semuanya." ujar Revano.


"Jangan lagi-lagi deh! Bikin kesal saja" Delisa memberengutkan mukanya.


"Hahaha, maaf Bu, hanya kali ini saja" jawab Roy.


"Ya Roy, tidak apa-apa" sahut Delisa menghela nafasnya.


Setelahnya mereka semua ikut makan bersama-sama dengan view indah dan angin yang sepoi-sepoi menambah vibes pesta sederhana itu semakin hangat saja.


Tak lama kemudian mereka semua pulang, terkecuali Aurel, Revano dan Delisa, mereka bertiga tidak pulang ke rumah, melainkan pergi bermalam ke hotel.


Revano sengaja mengajak putri kecilnya, karena ia juga berpikir jarang sekali mengajaknya berkumpul bersama anak dan istrinya.


Delisa turun dari tangga cafe dan duduk bersama Aurel untuk menunggu Revano membayar seluruhnya di kasir.


"Ngantuk?" tanya gadis kecil itu lagi.


"Em tidak sayang, hanya sedikit pusing saja" jawab Delisa sambil tersenyum dan mengelus pipi Aurel lembut.


"Apa Aurel harus memberikan Mommy obat? Kata Oma kalau ada yang sakit harus minum obat, pusing sakit juga kan Mommy?"


"Iya nanti Mommy minum obat,"


"Sayang ayo, Maaf ya Mas sedikit lama" Revano mengangkat tubuh Aurel dalam gendongan nya dan menuntun Delisa di sebelah tangan kirinya yang kosong.


Baru saja beberapa langkah, Delisa langsung merasakan pusing yang semakin menyerangnya, langsung saja tubuh Delisa lemas dan ambruk di lantai cafe.


Revano panik, dia langsung menurunkan Aurel dan membopong tubuh Delisa untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya menuju rumah sakit.


"Tolong bantu saya Suster!" seru Revano dengan paniknya sampai-sampai Aurel bingung sendiri, gadis kecil itu hanya diam saja sambil mengikuti langkah Daddy nya.


"Baik Pak," sahut kedua Suster dengan membawakan brankar, Revano segera merebahkan Delisa dan ikut mendorong brankar tersebut dari belakang.


"Bapak tunggu disini saja, pasien akan segera kami tangani." ucap Suster memohon agar Revano tidak ikut masuk ke dalam ruangan.


"Baiklah Suster," jawab Revano menunduk lesu.


"Baik Pak, silahkan Bapak tunggu di ruang tunggu terlebih dahulu, nanti saya panggil Bapak jika pasien sudah di periksa" perintah Suster membuat Revano mengangguk.


"Daddy ..." Aurel menarik baju Revano, wajahnya nampak sedih kala melihat Mommy nya masuk ke rumah sakit.

__ADS_1


"Sayang! Astaga maafkan Daddy, Daddy lupa kalau ada Aurel, kemari nak" Revano membawa Aurel ke dalam pelukannya dan duduk bersama di ruang tunggu.


"Mommy kenapa Dad? apa Mommy sakit?"


"Iya Mommy sakit,"


"Kenapa bisa Dad?"


"Daddy tidak tahu sayang, nanti coba kita tanya kepada Dokter ya ..."


"Ya, Dad."


Percakapan pun terhenti, Revano segera berdiri dan menghampiri Suster yang tadi, Suster itu sudah keluar dari dalam ruangannya.


"Silahkan masuk Pak, Pasien sudah siuman"


"Terimakasih Sus" sahut Revano dan menerobos masuk ke dalam diikuti Aurel di belakangnya.


"Sayang!" Revano tersenyum melihat istrinya sudah bangun dari pingsannya, kini pria itu sudah menatap Dokter seolah meminta penjelasan.


"Mas, Aurel," Delisa tersenyum kikuk, bagaimana tidak, wanita itu juga takut apabila nanti Revano marah karena menyembunyikan berita kehamilannya.


"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Revano serius.


"Janin nya sehat, hanya saja istri bapak harus bedrest hingga keadaannya benar-benar pulih total, dan hindari beban pikiran kepada istri bapak, karena istri bapak saat ini sedang mengandung." jawab Dokter, membuat Revano mengerenyitkan wajahnya bingung.


"Janin? Hamil?" Revano kembali mengucap apa yang di katakan Dokter tadi.


Sedangkan Delisa hanya terdiam saja sambil pura-pura sibuk dengan putrinya.


"I-istriku hamil Dok?" tanya Revano tidak percaya "Sayang?" Revano menatap Delisa dengan penuh tanda tanya.


"Iya istri bapak sedang hamil, dan usianya sudah berjalan 3 minggu" ucap Dokter lagi.


"Sayang! Terimakasih!" Revano terharu, ia langsung memeluk Delisa yang masih tidur di atas brankar dan mencium seluruh wajahnya dari mulai kening, pipi dan bibirnya.


"Eeuumttt! Mas!" Delisa mendorong dada Revano, ia malu di saksikan Aurel dan Dokter secara langsung.


"Tidak apa-apa Bu, saya buatkan resep untuk Ibu dulu, permisi" pamit Dokter lalu melenggang pergi.


"Daddy, Mommy ..." Aurel masih bingung.


"Kemari sayang," Revano mengangkat tubuh Aurel dan meletakannya untuk duduk di atas brankar.


"Aurel sebentar lagi jadi kakak, apa Aurel suka?" tanya Revano membelai rambut Aurel.


"Aurel mau punya adik Dad? Yeayy ... Aurel mau punya adek kayak Ayisa ... Yeayy." Aurel berjingkrak senang.


"Iya sayang, Doakan Mommy dan adek sehat selalu ya?" sahut Delisa.


"Adek nya dimana Mommy? Apa Aurel bisa melihat adek nya?" tanya Aurel yang masih belum mengerti.


"Di perut Mommy sayang, Aurel bisa lihat nanti setelah Mommy melahirkan, nggak lama, hanya 9 bulan lebih 10 hari saja." jelas Revano membuat Aurel mengangguk paham "Adek nya disini Dad?" tunjuk Aurel ke perut Delisa.


"Ya sayang, Adek nya ada disini." Revano mengelus perut Delisa halus sambil tersenyum manis menatap istrinya.

__ADS_1


__ADS_2