Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 93


__ADS_3

Di pagi harinya, selepas keberangkatan sang suami ke kantor, Delisa membersihkan kamarnya, dan bersiap untuk berkuliah pagi ini lewat online.


Sanjaya dan Lilis sudah pulang kemarin malam, jadi rumah mewah itu kembali sepi lagi, hanya ada tiga pelayan dan tiga satpam saja yang menemani Delisa di rumah itu.


Delisa turun dari kamarnya, ia menuju dapur untuk mengambil beberapa snack dan minuman untuk menemani dirinya belajar.


"Nona ..." sapa Bi Rami sambil mengiris daun polong dan beberapa sayuran lainnya.


"Bi Rami?" tanya Delisa karena biasanya Bi Romlah lah yang memasak untuk makan siang dan malam nanti, tapi kali ini Bi Rami yang menggantikan Bi Romlah memasak.


Bi Rami sudah tahu bahwa majikannya akan pergi liburan, tetapi ia juga harus masak sedikit untuk dirinya dan juga para satpam. Revano dan Delisa membolehkan para pelayan maupun satpam nya makan bersama, walaupun terkadang mereka menolak karena tak enak jika di ajak untuk makan bersama majikannya.


"Iya, Nona. Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Rami dengan tangan yang masih mengiris sayuran yang di pegangnya.


"Tidak usah, Bi. Delisa hanya mau ambil cemilan saja di kulkas." sahut Delisa sambil membuka pintu kulkas.


"Oh ya, Bi. Apa Bibi semalam menginap?" tanya Delisa heran karena biasanya Bi Rami pulang ke rumahnya dan akan kembali ke rumah majikannya pada jam 10 pagi atau lebih, tapi kini wanita tua itu jam 9 pagi sudah datang.


"Ya, Nona. Bibi kasihan sama Bi Romlah, dia lagi sakit pinggang." ujar wanita tua itu.


"Loh pantas saja dari pagi belum kelihatan, jadi tadi pagi kalian kemana semua?" tanya Delisa lagi.


Memang pagi tadi, Bi Romlah memasak untuk sarapan di bantu Bi Rami, setelah mereka berdua sudah selesai menyiapkannya, mereka berdua langsung pergi ke kamarnya masing-masing.


"Ada di kamar, Nona." jawab Bi Rami.


"Baiklah, Bi. Tolong suruh Bi Romlah untuk beristirahat saja. Nanti saya lihat dia setelah selesai kelas nanti, maaf ya Bi, tolong sampaikan."


"Baik, Nona." jawab Bi Rami.


Delisa mengambil beberapa potong buah, kripik pisang, dan satu gelas penuh jus jambu instan.


Setelah berpamitan kepada Bi Rami, Delisa buru-buru ke atas dan membuka laptopnya untuk belajar daring dengan bimbingan dosennya. Sebenarnya kelas daring lebih enak, karena bisa santai di rumah sambil mendengarkan dosen nya berbicara, tak ada suara riuh di kelas dari ocehan para teman-temannya.

__ADS_1


Delisa menutup Laptop nya setelah zoom meeting selesai di laksanakan, ia juga sedikit rindu kepada teman-teman kampus nya, mungkin nanti Delisa juga akan mengajak mereka sekedar makan di luar untuk berkumpul bersama.


Sampai saat ini, Melati masih sering menanyakan keadaan Delisa, Melati juga ingin sekali berkunjung ke rumah sahabatnya tapi apalah daya ia tak berani sebelum Delisa mengajaknya untuk datang ke rumahnya.


"Assalamualaikum, sayang." panggil Revano seraya menuembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum manis.


"Waalaikumsalam, Mas." jawab Delisa, ia meluruskan kakinya karena terasa kesemutan.


"Sayang, belum siap?" Revano melirik ke arah koper dan benar saja masih tersusun di bawah lemari transparannya.


"Hehe, belum Mas. Maaf ya ... Delisa baru selesai kuliah online, Mas."


"Iya sayang, tak apa." Revano mencium kening Delisa.


"Nanti Delisa siapin semuanya, Mas. Mamah saja belum kesini kok."


"Ya mungkin sebentar lagi kesini sayang, kamu siapkan saja baju Aurel yang lebih banyak, tahu sendiri anaknya suka boros baju."


"Nanti Mas makan sama kamu, sekarang Mas mau rebahan dulu sayang, capek." Revano merubuhkan dirinya di samping istrinya dan memeluknya erat hingga pria itu tenang di dalam ceruk leher sang istrinya.


Delisa tersenyum geli, suaminya ini selalu saja bermanja kepadanya. Di usapnya lembut ubun-ubun suaminya sambil bergumam yang entah melafalkan ucapan apa membuat Revano semakin manja saja seperti bayi koala.


"Daddy sama putrinya sama saja," gumam Delisa yang dapat di dengar oleh Revano.


"Aurel yang ikutan seperti aku, Yang." jawab Revano membuat Delisa menggeleng pelan.


"Sama saja, Mas malah lebih manja dari Aurel." Delisa mengetuk dahi Revano pelan.


"Biarin." sahutnya pelan, pria itu mendusel kan kepalanya ke dada Delisa "Semakin besar saja, empuk, Yang." tambahnya membuat Delisa langsung mencubit perut Revano gemas.


"MAS MESUMM!!"


Sedangkan Revano hanya menyahutnya dengan tertawa.

__ADS_1


Revano tidak melepaskan pelukannya karena Delisa menjauh dari dirinya. Pintu kamar di ketuk membuat kedua insan yang sedang bermaja ria langsung berdiri menyambutnya.


Delisa merapihkan bajunya setelah di buat kusut oleh suamin tampannya. Sedangkan Revano membuka pintu, ketika pintu terbuka, nampaklah wajah Bi Rami di depan pintu.


"Maaf, Pak. Anu Pak, di depan ada tamu, sepertinya ingin bertemu dengan Bapak."


"Siapa? Suruh masuk dan suruhlah dia untuk duduk dulu saja," jawab Revano.


"Tapi-Pak, dia perempuan."


"Hah, perempuan? Siapa?"


"Maaf, Pak. Saya kurang tahu, tapi dia sedikit tua."


"Suruh dia duduk saja, Bi. Nanti saya temui dia,"


"Baik, Pak." tak mau menunggu lama, Bi Rami buru-buru turun tangga untuk mempersilahkan tamu nya masuk, karena sampai saat ini tamu nya masih saja berdiam di halaman rumah.


Revano menutup pintu kamarnya pelan, ia masuk ke dalam walk in closet untuk menemui istrinya yang sedang berkemas. "Sayang!" panggilnya.


"Ya, Mas? Ada apa?"


"Ada tamu sayang,"


"Siapa, Mas? Mas sholat duluan saja lalu temui dia, Delisa masih belum siapin pakaian Mas nya."


"Entahlah sayang, Mas juga nggak tahu dia siapa ... Kalau pun iya ingin bertamu juga harus kirim pesan lewat email jangan mendadak seperti ini." keluh Revano.


"Nggak boleh seperti itu, Mas. Mungkin saja dia ada perlu penting dengan Mas."


"Baiklah sayang, Mas duluan sholatnya ya?"


"Iya, Mas." sahut Delisa, wanita itu juga menjadi penasaran.

__ADS_1


__ADS_2