
Mereka melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam, Revano menggenggam erat tangan Delisa, Bi Romlah memimpin jalannya di depan bersama Polisi.
"Mas?" gumam Delisa.
"Iya, sayang?"
Delisa hanya diam saja, tak menjawab, ia lebih memilih melihat ke arah kanan dan kiri yang memang jalanannya sangat luas, di tengah-tengahnya ada taman bunga dengan air mancur yang mengalir deras.
Aurel ketakutan di saat melihat Polisi, ia sempat menangis, karena Lilis juga ingin masuk ke dalam akhirnya Lilis membujuk Aurel hingga gadis kecil itu mau mengikutinya. Dengan mata yang sembab, Aurel mengalungkan tangannya di leher Bi Aam, ia tak mau turun dan beralih ke gendongan yang lain.
"Tunggu sebentar, saya panggilkan Bu Rosa nya terlebih dahulu, silahkan duduk ..." ujar Polisi menunjuk kursi yang saling berhadapan.
"Terimakasih, Pak." sahut Bi Romlah.
Mereka semua pun duduk bersama sambil menunggu Bu Rosa keluar.
***
"Bu Rosa ..." seru Polisi, membuat Rosa yang sedang tidur di lantai terbangun karena di bangunkan oleh temannya.
"Bangun lo, di panggil tuh!" ketus wanita yang satu sel dengan Rosa, Rosa enggan menjawab, ia lebih memilih berdiri dan melongos pergi dari hadapan temannya.
"Iya, Pak? Ada apa ya?" Rosa bingung, ia menautkan kedua alisnya heran.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda, silahkan ..." Polisi membuka pintu sel nya dengan lebar dan mempersilahkan Rosa untuk keluar.
'Siapa ?' batin Rosa heran, tetapi ia terus mengikuti langkah Pak Polisi yang ada di depannya.
"Ibu!" cicit Delisa berseru lirih membuat Rosa yang tadinya menunduk ke bawah, ia mendongakkan kepalanya, hatinya bergetar dan tak kuasa menahan air matanya.
Delisa melepaskan tangan Revano yang merengkuhnya dan sedikit berlari sambil berderai air mata dari pelupuknya, Delisa merentangkan kedua tangannya, Rosa pun sama ia lantas menyambut kedua rentangan tangan Delisa dan memeluknya hangat.
"Delisa, hiks ... Hiks ..." Rosa menangis dalam pelukan Delisa, ada rasa penyesalan yang amat dalam di hatinya.
__ADS_1
"Ibu ... Delisa rindu ..." lirih Delisa, Rosa mendengar lalu menjawab "Iya sayang, ibu juga sangat rindu Delisa, maafkan ibu ... Maafkan ibu yang biadab ini ... Hiks ... Hiks ..."
"Nggak bu, ibu nggak boleh ngomong seperti itu, hiks ..." Delisa melonggarkan pelukannya.
Kemudian Delisa meletakkan tangan Rosa di perutnya, "Sekarang Delisa hamil, Bu. Ibu bakal punya cucu ..."
Rosa memeluk Delisa dengan erat, menumpahkan rasa bahagia di dalam hatinya. Rosa terdiam, ia mengingat semua perlakuannya kepada Delisa, ia sangat bersyukur karena Delisa mau menjenguk dirinya.
"Ya Tuhan ..." Rosa mengelus perut Delisa pelan, "Kamu jaga kesehatan, Del. Jangan egois ya selama hamil ..." ujar Rosa mengingatkan.
"Iya, Bu." sahut Delisa pelan.
"Nyonya ..." panggil Bi Romlah, Rosa pun menoleh ke belakang Delisa, tubuh Rosa menegang karena melihat Lilis dan putra tunggalnya yang sudah pasti suami dari anak tirinya, Rosa menundukkan kepala nya lagi.
"Panggil saja saya Bu Rosa, seperti Delisa memanggilku Bi ..." pinta Rosa sambil menatap penuh arti.
Bi Romlah dan Bi Aam bergantian memeluk Rosa tetapi hanya sekilas saja.
Revano bersalaman dengan Rosa. Rosa heran, ia menatap Revano dengan hati-hati.
"Kenapa, Bu? Ini Mas Vano, yang menghamili Delisa, hahaha ..." Delisa tertawa, Revano hanya tersenyum malu.
"Saya Revano, Bu. Suami Delisa." Revano tersenyum lalu menyentil dahi istrinya.
"I-iya, saya Rosa." sahut Rosa, Revano mengangguk menanggapi nya.
"Malu-maluin saja kamu, Yang." bisik Revano di telinga Delisa. Delisa hanya memutar bola matanya sambil manyun.
"Ehm" Lilis berdeham.
"B-bu ... Lilis, saya saya minta maaf ..." ucap Rosa kaku seraya mengulurkan tangannya ke depan.
Lilis pun menerima uluran tangan dari Rosa "Saya memaafkan kamu, Ros. Bagaimana pun juga tidak semua salah ada pada diri kamu sendiri. Tetapi saya tidak lupa dengan kejadian yang kamu lakukan terhadap suamiku, maafkan saya." Lilis memeluk Rosa dan mengelus bahu nya pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah bahagia mendengar Ibu memaafkan saya." ujar Rosa lirih.
"Ini, siapa? Cantik sekali ..." tambah Rosa, lalu ia mencubit pelan pipi Aurel, Aurel menepisnya sedikit kasar.
Revano yang melihat itu hanya melongo kemudian mendengus kesal. Bagaimana bisa Aurel seperti itu, takut di tuduh mengajari putrinya yang tidak-tidak.
"Ini Aurel, cucu kita Ros ..." jawab Lilis memberitahu.
"Aurel, Nak. Salim sama Nenek." Delisa menaruh tangannya ke pundak Rosa dari belakang, bermanja-manja dengan sang Ibu.
"Salim pinter." ujar Revano.
Aurel menggeleng, ia takut menatap Rosa.
"Ini, Nenek Aurel." ujar Lilis lagi.
"Nggak, Aurel cuma punya Nenek Rom!" Aurel cemberut.
"Iya, Aurel punya nenek dua ... sini kenalan dulu sama Nenek Rosa." Lilis menarik tangan Aurel hingg badan itu mencondong ke depan.
"Ish ... Jangan di panggil nenek dong ... Panggil aku Granmi oke?" Rosa berjongkok lalu mengelus rambut Aurel pelan "Cantik, mirip seperti Mommy mu" Rosa mengecup pipi Aurel lalu memeluknya.
Grandmi, tidak hanya menjadi panggilan yang manis dan penuh kasih sayang, Nama Grandmi juga mudah difalkan untuk cucu-cucunya.
"Nggak apa-apa jangan takut, Aurel anak cantik harus nurut sama Daddy sama Mommy dan semuanya ya ... Harus rajin sekolah juga Oke ? ..."
"Yes, Granmi ..." Aurel mengangguk.
"Tunggu Granmi keluar dari sini ya sayang, nanti Granmi ajak Aurel jalan-jalan ..." Aurel lantas mengangguk senang.
"Revano, saya titip anak saya ya. Jaga dia dengan baik." Rosa menatap Revano yang sedang memeluk Delisa.
"Iya, Bu. Saya bakal jaga Delisa dengan sebaik mungkin." Revano mencium rambut Delisa dengan sayang.
__ADS_1