
Setelah kembali ke Bandung, Delisa terbangun karena Aurel mengusik diri nya menggunakan suara video yang keras dari Hp yang di mainkan Aurel.
"Sudah sampai Mas?" Delisa mengerjapkan mata nya melirik jalanan dan benar saja mereka sudah memasuki komplek perumahan.
"Aurel lapar nggak?" tanya Delisa kepada Aurel yang sudah pindah duduk di belakang.
"Nggak" jawab Aurel sambil berpindah tempat ke depan lagi bersama Delisa.
"Mas? maksud Mas yang tadi bagaimana? Kok Delisa sedikit ngelag ya?"
"Yang tadi? Yang mana sayang?"
"Katanya dua minggu lagi menikah nya, tapi kata Mas juga mau ngadain acara lamaran, nggak usah ada lamaran lagi ya Mas."
"Hm mau nya sih ada sayang, tapi nanti kita bicarakan dengan Mama dan Papa di rumah."
"Waktu nya juga Mas, kasian Opa kalau waktu nya mendadak takut ada acara penting."
"Nggak sayang, Papa pasti mau kapan aja kok, besok juga pasti mau."
"Ihhh Mas, Delisa bicara serius."
"Mas serius, lebih malah jadi dua rius." canda Revano.
"Sayang, kamu manggil Papa jangan Opa, masa kita nggak sefrekuensi sih." gerutu Revano kesal, kalau beda panggilan ke orang yang sama seperti nya aneh saja, apalagi mereka akan menjadi suami istri.
"Hehe iya Mas, tapi lebih enak begini kok."
"Tapi nanti kamu jadi seperti cucu nya, kan kamu nanti jadi istri Mas otomatis jadi menantu Papa."
"Iya Mas," Delisa menurut saja dari pada nanti percakapannya tidak selesai-selesai.
Tak lama kemudian, mereka sampai rumah Sanjaya di sambut hangat oleh Mang Eja dengan membukakan gerbang sembari menunduk sopan.
"Selamat datang kembali Tuan," ucap Mang Eja melangkahkan kaki nya mengambil barang-barang yang ada di mobil.
"Hm" Revano hanya menanggapi nya cuek.
"Selamat datang Nona Delisa, Nona kecil .."
__ADS_1
"Terimakasih Mang Eja, Oh ya, letakkan saja koper itu ke belakang ya, karena isi nya baju kotor semua hehe." perintah Delisa sambil menunjuk koper yang cukup besar.
"Baik Nona."
Delisa hanya menenteng totebag-totebag besar, Aurel dan Revano sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah karena Aurel merengek untuk meminta masuk kedalam kamar nya.
"Assalamualaikum Opa, Oma."
"Waalaikumsalam ..." jawab Sanjaya dan Lilis kompak. Delisa mencium tangan Sanjaya dan Lilis bergantian, Delisa kemudian menyerahkan oleh-oleh nya juga.
"Wahh terimakasih sayang, Oma suka." ucap Lilis ketika melihat oleh-oleh yang di berikan Delisa berupa makanan khas seperti Roti buaya, kue pancong/pukis dan lain-lain. Ada juga yang di belikan Revano untuk Mamah nya yakni baju atasan merek Prada Guci model terbaru.
"Hehe iya Oma," Delisa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, padahal semua oleh-oleh yang membayar nya Revano, Delisa hanya memilihkan saja.
"Del? Bagaimana keputusan para ART mu?" tanya Sanjaya mengalihkan arah pembicaraan.
"Alhamdulillah Opa, mereka setuju .. Asalkan Delisa mau mereka juga mau, begitu kata mereka." jelas Delisa.
"Delisa mau nya kapan? Nanti Opa dan Oma persiapkan acaranya," lanjut Sanjaya lagi.
"Ehm kata Mas Revano mau nya dua minggu lagi Opa, tapi kalau Opa sibuk bisa di majukan lagi."
"Kontrak apa Pa?" Lilis heran, pantas saja suami nya memberikan kado Disneyland karena diri nya akan kesana.
"Kontrak untuk kerjasama, Direktur utama Chiusoasz ingin melakukan perdagangan nya agar tetap stabil, makannya mereka ingin bekerjasama dengan perusahaan Papah."
Ya, perusahaan MS Group itu memperdalami dan memperkerjakan tentang keilmuaan berwirausaha elite seperti komplek perumahan-perumahan, PT PT yang akan di bangun pasti MS Group akan ikut bergabung juga untuk mendapatkan keuntungan yang lumayan cukup besar.
Apalagi sekarang, sudah banyak sekali Sanjaya terikat dengan PT terbesar di dalam negeri maupun luar negeri.
"Oh iya Pa, kirain, Mama pikir kita bakal full jalan-jalan, eh tau nya .. Ckck." dengus Lilis.
"Hehe maaf ya Ma, Papa janji bakal sebentar."
"Ya sudah deh, Mama mau mengajak Delisa saja,"
"Nggak, jangan dong Ma." rengek Revano sambil berjalan dan duduk merangkul Delisa.
"Kenapa? orang mau buat jadi temen Mama disana."
__ADS_1
"Mama kayak nggak paham saja, sudah benar kalau Aurel pergi jadi Revano tidak ada yang mengganggu." jelas Revano.
"Haha, iya Van bersenang-senang lah."
"Thanks Ma."
"Oh iya Van, bagaimana tentang acara pernikahan nya? Kata Delisa dua minggu lagi, Papa bisa kok, free untuk kalian." sahut Sanjaya.
"Vano mau nya sih ada acara lamaran gitu dulu Pa, tetapi jadwal nya mepet sekali, jadi nggak usah, langsung resepsi saja."
"Maharnya mau apa Del?" tanya Sanjaya kepada Delisa.
"Eum apa ya? Apa saja deh Opa, Delisa terserah Mas Revano saja." Delisa bingung, pasalnya sudah acara resepsi saja ia sudah bersyukur karena semua biaya di tanggung Revano.
"Ck, minta lah yang mahal-mahal Del, seperti kapal persiar, penthouse tingkat dua, porotin saja Del uang suami mu, dia sudah menduda dua tahun pasti-"
"Vano jadi kayak mau menikahi Mama ckck." ujar Revano memotong pembicaraan Lilis.
"Revano sudah beli penthouse harga nya 11M, sudah atas nama Delisa untuk mahar nya nanti, kurang nggak sayang? Mas mau belikan mobil tapi kamu nggak bisa nyetir mobil, menyusul saja ya beli nya, tapi Mas sudah belikan motor." jelas Revano membuat semua yang mendengarnya ternganga.
"Hah, Mas? 11 Miliar?"
"Iya sayang, kenapa?"
"Kurang itu Van, masih rendah." ejek Sanjaya.
"Ckck, Papa saja kalau naik pesawat suruh Anton pesan pakai tiket Online biar ada potongan nya." ejek Revano tak kalah.
"Haha, bercanda Van, cukup kok itu."
"Wah Van, good joob." Lilis mengacungkan dua jempol nya.
"Mas, nggak usah sampai Miliar-Miliar segala." sahut Delisa.
"Nggak apa-apa sayang, cukup kan?"
"Lebih dari cukup Mas." Delisa merintihkan air mata nya, ia sangat bersyukur sekali sekarang seperti memiliki keluarga yang utuh, Delisa juga berharap setelah menikah nanti ia dan Revano jangan sampai ada halangan apapun, walaupun tahu duri-duri dalam berumah tangga itu pasti ada.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...Omaygatt, 11 Miliar guyss ... 🤧🤧...