
Delisa mengukir lukisan-lukisan abstrak di dada bidang Revano, ia enggan untuk bangun karena bergerak sedikit saja membuat diri nya tak nyaman.
"Sudah bangun sayang?" tanya Revano sedikit serak khas bangun tidur.
"Eum iya Mas."
"Aku mau mandi dulu, gendong Mas ... Masih sakit." rengek Delisa dengan malu-malu.
"Haha, iya sayang. Maafkan perbuatan Mas ya, jadi kamu seperti ini." ujar Revano kemudian dia mengangkat tubuh Delisa yang masih terbalut selimut, Revano tidak ingin membuka selimutnya karena takut tidak bisa terkontrol.
"Mau Mas mandikan, hm?" tanya Revano setelah mendudukkan istri nya di closet.
"Mas keluar saja," ujar Delisa sambil mendorong perut Revano.
"Baiklah, Mas hanya menonton kamu mandi dari dalam saja." ujar Revano memencet tombol dan benar saja tirai kamar mandi langsung tebuka lebar dan jelas dengan kamar tidur nya.
"Ah Mas!" teriak Delisa.
"Kenapa sayang? Mas hanya menonton kamu mandi, apa mau mengulang yang semalam, hm?" goda Revano saja karena kasihan melihat istri nya merintih kesakitan, untuk bergerak pun terbatas.
"Mas!"
"Bercanda sayang, Mas tunggu di luar ya. Kalau sudah selesai tinggal panggil Mas saja." ucap Revano kemudian memencet tombol nya kembali agar tirai nya tertutup dan sedikit buram.
Revano berdiri lalu keluar dari kamar mandi dan kembali berbaring di kasur, ia tersenyum kembali mengingat pertempuran semalam dengan istri kecil nya, padahal ingin sekali ia mengulangi kejadian yang semalam tetapi istri nya sudah merasakan sakit, jadi Revano mengurungkan niat nya.
Sedangkan di sisi lain, Aurel yang baru saja terbangun langsung meminta di temani bermain oleh Bi Aam dan juga Lilis, Bi Romlah sedang memasak dengan Bi Asih di dapur.
"Aurel mandi dulu ya?" ujar Lilis membuat bocah kecil itu mendelik sambil menggelengkan kepala nya.
"Aurel mandi nanti di temenin Bi Aam yok ... Bau acemm ih." ucap Bi Aam menambahi.
"Wangi Uni! Mau mandi sama Mommy, tunggu Mommy pulang." ujar Aurel memainkan kembali mainan nya.
__ADS_1
"Lama sayang, keburu gatel nanti. Ayok mandi di temani Oma." ujar Lilis mengangakat tubuh Aurel, sedangkan Bi Aam segera membersihkan mainan-mainan nya.
"Telepon Dady Oma, Mommy nya suruh pulang." ucap Aurel ketika dalam gendongan Lilis.
"Nanti Mommy dan Dady pulang, Aurel sama Oma dulu ya." ujar Lilis memberi pemahaman.
"Telepon, Oma!" ucap Aurel lagi karena Oma nya menjawab tidak sesuai pertanyaan yang di berikannya.
"Oh iya, nanti kita telepon ya ... Sekarang cucu Oma mandi dulu."
"Janji ya Oma?"
"Iya janji,"
***
"Mas!" seru Delisa yang memaksakan diri nya untuk berjalan walaupun masih terasa sakit dan linu.
"Sudah sana, Mas mandi dulu." kata Delisa mendorong tubuh Revano yang sudah nemplok memeluk nya.
"Nyaman sayang, wangi." Revano memeluk leher Delisa dan mulai memejamkan mata nya.
"Mandi Mas ..."
"Sarapan dulu sayang, Mas sudah lapar, dari malem kan belum makan, malah makan kamu." goda Revano terkekeh, langsung saja Delisa mencubit perut Revano bak kepiting yang sedang mencapit lawan menggunakan capit kokoh nya.
"Haha sorry sayang. Tapi bener kan?" tanya Revano lagi.
"Nggak." Delisa hanya menjawab nya cuek saja sambil memainkan rambut Revano.
"Dasar bidadari gengsi, merah tu pipi." Revano mengelus pipi Delisa dan mencium nya.
Cup!
__ADS_1
"Mas mau kemana?" tanya Delisa melihat Revano berdiri.
"Kamu nggak denger sayang? ada yang mencet bel loh ... Oh pasti kamu lagi mikirin yang semalam ya? Mau di ulang lagi yang?" tanya Revano dengan senyum usil nya.
"Mas!!" gerutu Delisa kesal plus malu.
"Bercanda sayang, Mas ambil sarapan dulu ya. Kamu duduk nya yang manis di sofa, apa mau Mas gendong?"
"Delisa sendiri saja."
"Sini biar Mas gandeng, supaya nggak oleng." Revano menarik tangan Delisa dan memapah nya.
Ting ... Ting ...
"Iya sebentar." sahut Revano bergegas membuka pintu kamar nya.
"Selamat pagi tuan, Saya membawakan pesanan anda, maaf kalau saya mengganggu." ujar pelayan pria dengan sopan.
"Silahkan masuk,"
Pelayan pun merapihkan meja nya terlebih dahulu dan mulai menurunkan beberapa piring, mangkuk, serta gelas yang sudah terpenuhi dengan berbagai macam isi yang berbeda-beda.
"Permisi tuan."
"Hm."
Pelayan tersebut menunduk sopan dan melenggang pergi.
"Mas banyak banget makanan nya, memang nya habis?" tanya Delisa yang begitu banyak macam makanan di hadapan nya.
"Mulai saat ini kamu makan yang banyak, biar badannya sedikit berisi."
"Hm iya Mas," Delisa pasrah saja, karena memang tubuh nya yang ringan dan menurut nya cocok saja, tetapi tidak dengan suami nya itu.
__ADS_1