
Pagi ini Delisa sudah rapih dengan memakai jeans serta baju blouse bermotif abstrak berwarna biru, Revano tak bosan memandang istri kecil nya yang semakin hari semakin cantik saja.
"Sayang, hari ini Mas akan terbang ke Kalimantan." Revano mencium kening Delisa dan mengelus rambut nya.
"Jauh sekali ya Mas, Eum tak masalah yang terpenting Mas harus selalu mengabari Delisa setiap harinya."
"Baiklah sayangku ... Kalau begitu ayo kita turun."
Delisa pun mengangguk, ia berdiri lalu mengapit lengan Revano dan berjalan menuruni tangga hingga duduk bersampingan di meja makan, tak hanya mereka saja, Aurel juga sudah rapih bersama Sus nya yang sudah siap untuk berangkat sekolah.
Jadwal Delisa sudah di ubah, yang tadi nya ia menjemput Aurel di sekolah, sekarang dirinya hanya fokus kuliah saja, saat ini urusan Aurel sudah di tangani oleh pengasuh nya. Bukannya Delisa sudah seenaknya, ia juga masih berusaha memberikan effort yang besar untuk keluarga kecil nya.
Seusai sarapan selesai, Revano dan Delisa terlebih dahulu melihat putrinya berangkat ke sekolah dengan di temani Sus dan supir barunya, kemudian pasangan suami istri itu pun memasuki mobil sport mewah, melajukan mobil nya kearah yang di tujunya.
"Ingat ya sayang, kamu tidak boleh terlalu deket sama teman cowok kamu, kalau Mas lihat seperti itu, lebih baik kamu kuliah privat di rumah saja." ancam Revano yang membuat Delisa tercekat.
"Iya Mas, tidak akan pernah terjadi."
"Bagus."
Di parkiran kampus, Revano tak langsung pergi begitu saja, ia mengantar Delisa bertemu dengan kedua kerabatnya yang mungkin akan mengajari Delisa nanti.
"Saya titip istri saya Bu Revi, Pak Miki."
"Saya Delisa bu, Pak."
"Siap Pak Vano, mari saya antar ke kelas." sahut Bu Revi dengan ramah.
"Ah terimakasih Bu Revi, kalau begitu saya pamit dulu ... Titip salam kepada yang lainnya juga." pamit Revano, ia mengelus rambut Delisa yang sudah di ikat satu sebelum meninggalkan Delisa ke luar kota.
"Nah kelas kamu disini, sudah ya saya tinggal dulu." ujar Bu Revi mengelus lengan Delisa pelan sambil tersenyum.
"Terimakasih Bu Revi," Bu Revi mengangguk dan melenggang pergi setelah mengantarkan Delisa ke kelasnya.
Para mahasiswa heboh dengan kedatangan mahasiswi baru, mereka sangat mengaguminya, mereka juga tidak tahu kalau Delisa istri dari mantan dosen nya.
"Buset, cantik banget tuh anak baru."
"Gemes banget senyum nya."
"Sadar dirilah, kita jelek mana bisa sama dia."
"Berusaha boys."
__ADS_1
Begitulah kira-kira seruan dari para mahasiswa di sekitarnya.
Selama kelas masuk, Delisa terus memperhatikan dosen yang ada di depannya, memahami dan mencatat poin-poin penting yang di jelaskannya.
"Halo Delisa, senang bisa bertemu denganmu, bisakah kita saling mengenal lebih dalam lagi?" tanya Affan yang merupakan teman sekelasnya.
"Hai saya Delisa, maaf kita hanya bisa berteman saja ya Affan. Saya sudah menikah hehe." jawab Delisa yang mengingat wajah suaminya.
Affan pun terkejut, lalu tersenyum kikuk.
"Boleh deh, saya juga mahasiswa baru disini." Affan tersenyum manis.
"Boleh gabung?" tanya perempuan cantik dengan anggunnya memakai jilbab menghampiri Affan dan Delisa.
"Boleh dong, halo saya Delisa" Delisa mengulurkan tangan nya.
"Saya Affan"
"Perkenalkan saya Melati, saya juga mahasiwi baru disini."
"Senang bertemu dengan kalian semua," ujar Delisa yang mulai mengakrabkan dengan teman kelas nya.
"Kantin yuk? Memang nya kalian tidak lapar? Bisa lah sambil sedikit bercerita, ayok .." ajak Affan, dia juga mengajak satu teman laki-laki yang bernama Kenzo.
"Ayo Melati," ajak Delisa, mana mungkin Delisa pergi sendiri dengan teman laki-lakinya, yang ada bisa habis oleh suami yang possesif itu.
Mereka berempat menikmati makanan yang di sediakan di kantin kampus, dengan berbagai macam makanan yang ada, Delisa hanya memesan bakso serta jus jeruk saja.
Sambil menikmati makanan nya, mereka mengobrol santai tentang kehidupan mereka masing-masing, sampai tak percaya bahwa Delisa sendiri sudah menikah bahkan lebih kaget nya lagi ketika Delisa menyebutkan nama suaminya, membuat mereka menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Hebat Del, kamu terlalu beruntung." sahut Affan mengacungkan kedua jempol nya.
"Alhamdulillah Fan, jika kita bersyukur maka semua kehidupan kita akan merasa tercukupi ... Sebaliknya jika kita tidak merasa beryukur maka kamu akan merasa kurang dan tidak tercukupi, padahal di bawah kita masih banyak orang yang lebih susah dari pada kita, bahkan mereka saja sampai-sampai memakan makanan sisa dari tong sampah," ujar Delisa menasehati.
Ketiga teman nya hanya mendengar dengan seksama penuturan dari mulut Delisa.
Setelah mentraktir teman-temannya, Delisa kembali ke kelas dan belajar materi kedua nya, ia sudah tidak canggung seperti tadi lagi, Delisa juga sebisa mungkin mengaktifkan dirinya di dalam kelas agar bisa menjadi mahasiswi terbaik jika wisuda nanti.
***
Revano yang sedang menikmati perjalanan di atas awan, ia sudah mengabari istri nya dengan memfoto dirinya dan mengirimkan nya lewat aplikasi yang tersedia.
[Ya Mas, hati-hati ya ... Delisa saat ini juga sedang ada materi kedua, tetapi dosen nya tidak masuk.]
__ADS_1
Revano tersenyum melihat notif pesan balasan dari istrinya.
[Iya sayang, belajar yang rajin ya ... Love you😘]
[Love you to Mas😘]
"Bos, mungkin perjalanan kita masih lama sekali," sahut Roy membuat Revano menyimpan Hp nya.
"Lalu?" tanya Revano heran menatap Roy yang duduk di seberang nya.
Ya, Revano memakai jet pribadi nya untuk perjalanan ke luar kotanya kali ini.
"Apakah Bos tidak ingin makan? atau Minum?" tanya Roy.
"Tidak, saya hanya ingin tidur saja Roy" ujar Revano, ia mulai merebahkan tubuhnya
"Baik Bos,"
***
Hari mulai petang, Delisa sudah sampai di halaman rumah, ia turun dari mobil yang di jemput oleh supir pribadi nya, panggil saja Mang Karman, jadi seluruh satpam yang di pekerjakan oleh Revano ada tiga yaitu Mang Endang, Mang Karman dan Mang Jaja, Mang Jaja hanya khusus menjaga rumah saja, sedangkan Mang Endang dan Mang Karman sekaligus menyupir majikannya.
"Mommy!" teriak Aurel begitu bahagia melihat Mommy nya datang.
"Hai sayang, sedang apa hm?" sambut Delisa hangat memeluk tubuh kecil Aurel.
"Sedang belajar bersama Sus Uni." ujarnya.
"Sus Uni? Hahaha ... Ada-ada saja anak Mommy ini, panggil Sus ya Sus saja, kalau Uni ya Uni saja." jelas Delisa.
"Tapi Aurel ingin panggil Sus Uni, boleh kan Sus?" tanya Aurel kepada Bi Aam, Bi Aam hanya mengiyakan sambil tersenyum.
"Terserah Aurel saja, Mommy keatas dulu ya sayang ... Saya keatas dulu Bi Aam," pamit Delisa.
"Baik Nona,"
"Ayok Aurel, kita susun lagi puzzle nya, setelah ini kita cuci tangan lalu ambil wudhu untuk sholat maghrib." sebisa mungkin Bi Aam mengajarkan kebaikan kepada majikan kecilnya.
"Yes Sus, tapi puzzle nya sangat susah sekali." keluh Aurel melihatkan puzzle nya yang masih banyak berceceran di lantai, lebih tepatnya diatas karpet bulu yang tebal.
"Mari Sus bantu, kita tidak boleh menyerah sebelum berhasil, ayo-ayo pasang ..."
Aurel mengikuti perintah dari Sus nya, ia mulai menyusun puzzle dan meletakkan sesuai ukuran nya sampai membentuk gambar yang sempurna.
__ADS_1
"Yeayy ... Sudah jadi"
"Aurel pinter!" Bi Aam bertepuk tangan dan mencium wajah Aurel, kemudian dia membawa Aurel ke kamar Aurel untuk melaksanakan sholat magrib.