Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 99


__ADS_3

Mereka sudah selesai makan, Delisa merasa senang karena Revano menuruti makanan keinginan nya. Sekarang mereka semua sudah berada di dalam satu mobil yang sama, karena sore ini mereka akan kembali lagi ke rumah.


Jet pribadi milik Sanjaya itu sudah boarding di bandara, tak perlu menunggu lama, mereka semua langsung menaikinya.


Karena cuaca sore ini lumayan mendung, mereka semua menunggu di dalam Jet sampai cuaca kembali membaik dan siap terbang.


Di dalam Jet, Aurel merengek kepada Delisa meminta turun untuk membeli es krim.


"Mommy ... Ayo ..." Aurel duduk di pangkuan Delisa, Revano langsung mengangkat tubuh kecil itu dan menaruhnya di atas pangkuannya.


"Mommy ayo, sekarang ..." ujar Aurel sambil memainkan tali jaket pada leher Revano.


"Kita beli di rumah saja ya, nanti Daddy belikan yang banyak untuk Aurel." bujuk Revano seraya mengelus rambut putri nya.


"Ah nggak mau, Dad. Aurel mau nya sekarang!"


"Ya sudah Aurel beli nya sama Sus saja, nggak usah ajak Mommy."


"Nggak mau, mau nya sama Mommy, Dad!" ujar Aurel, ia hanya mau di temani Mommy nya saja.


Bi Aam dan Bi Romlah hanya tertawa kecil melihat kelakuan gadis kecil itu. Sedangkan Lilis sedang menelpon Anton agar di jemput tepat pada waktunya.


"Ya sudah kalau begitu, nggak mau belikan. Kasihan Mommy harus jalan jauh lagi,"


"Mas ..." sahut Delisa.


"Mommy belikan deh, ayo sayang ..." Delisa bangkit karena melihat Aurel sudah terdiam dan menunduk.


Revano langsung menahannya.


"Tidak usah, sayang. Jauh banget loh itu, di depan dekat parkiran mobil." ucap Revano.


"Mas, dari pada Aurel nanti menangis ... Tuh lihat dia saja sudah merajuk ..."


"Biarkan saja, tidak usah terlalu di paksakan sayang. Biar saja mau nangis atau apa terserah, tadi di tawarin es krim sekalian lewat bilang nya tidak mau, sekarang sudah mau terbang baru bilang mau." ujar Revano sedikit kesal.


"Aurel sayang, beli nya setelah kita turun saja ya? Nanti Mommy belikan, tuh lihat sudah gerimis, Aurel mau nanti sakit, hm?" Delisa berkata pelan.


Lilis yang mendengarkan nya lalu menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Lilis, ia melihat cucu nya diam sambil memegang kedua tangannya.

__ADS_1


"Biasa, Ma. Minta beli es krim." jawab Delisa, Lilis hanya tertawa pelan.


"Nanti Oma belikan di rumah, sekarang sini Aurel duduk sama Oma, kita videocall Opa yu ..." bujuk Lilis, tetap saja Aurel diam di pangkuan Daddy nya.


"Huwaa ... Huwaa ... Huwaa ... "


Aurel lalu menangis kencang, ia turun dari pangkuan Revano dan berdiri sambil memeluk Delisa dari depan.


Delisa mendelik ke arah Revano lalu mencebikkan bibirnya.


Lilis yang sudah tahu akhirnya pasti bakal menangis, ia biarkan saja lalu kembali duduk karena Jet nya sebentar lagi akan terbang.


"Sini, Aurel ... Sini sama Sus" panggil Bi Aam sambil melambaikan tangannya ke atas. Tangis Aurel sudah sedikit melemah, tanda ia mengantuk.


Aurel duduk di antara kedua Daddy dan Mommy nya, Revano dan Delisa tak masalah asalkan putrinya sudah berhenti menangis, membuat telinga nya adem.


Yang di panggil hanya menengok, gadis kecil itu lalu turun dan menghampiri Sus nya. Bi Aam langsung menimang Aurel untuk mengajaknya tidur.


Tak lama kemudian benar saja, Aurel tertidur pulas, Revano menyuruh Bi Aam agar Aurel taruh di kasur belakang saja karena perjalanan masih jauh. Bi Aam menurut lalu membawanya ke belakang dan meletakkan Aurel pada kasur empuk di dalam Jet.


Bi Aam tak meninggalkan Aurel, ia juga ikut berbaring di samping sambil memeluknya.


Delisa pun sama, ia meletakkan kepalanya di dada Revano, lama kelamaan ia juga ikut tertidur. Revano menggosokkan minyak terapi ke perut, dan hidung Delisa, ia tak mau istri nya kedinginan. Setelah selesai mengolesi minyak terapi, lalu pria itu menyelimuti istrinya kemudian memeluknya erat.


Jet pun turun pada malam hari, mereka semua berjalan dan membawa barang seperlunya saja, selebihnya Revano menyewa taxi bandara untuk mengantarkan barang-barang lainnya ke rumah.


Aurel masih tertidur di dalam stroller nya, Bi Aam hanya mendorong nya saja dari belakang, tidak membuat wanita itu keberatan dan kesulitan.


Lilis menyuruh mereka semua keluar bandara karena jemputan sudah datang, Revano menolaknya, ia lebih memilih mengajak istrinya untuk mampir dulu ke supermarket yang ada di bandara.


"Mang Karman sedang kesini, Mah. Mama dan yang lain duluan saja." ujar Revano.


"Ya sudah deh, Mama pulang dulu ya ... Kalian hati-hati disini." lalu Lilis mengajak Bi Romlah dan Bi Aam agar mengikutinya.


"Memang nya kita mau kemana, Mas?" tanya Delisa bingung karena ia baru saja terbangun dari tidurnya.


"Mas mau membelikan es krim untuk Aurel, ayo jangan lama-lama, sudah malam." Revano menggandeng tangan istrinya lalu memasuki supermarket yang lumayan besar.


Delisa mengambil jinjingan lalu mendekati arah bagian es krim-es krim. Ia mengambil banyak es krim sesuai perintah suaminya.


"Sudah Mas nanti Aurel kebanyakan makan es krim." Delisa menutup fleezer es krim.

__ADS_1


"Ya sudah deh, cukup sepuluh bungkus saja. Yang terpenting jangan berikan semuanya." Revano merogoh saku celananya dan mengambil dompet nya.


"Nih sayang bawa saja, Mas ingin ke kamar mandi dulu." Revano menaruhnya di tangan Delisa lalu berlalu meninggalkan Delisa.


Delisa menghela nafasnya pelan, ia langsung mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah, ia juga bahagia karena suaminya menyimpan foto dirinya di dalam dompetnya.


Di kasir, tidak terlalu ramai, Delisa hanya mengantri di belakang dua orang saja. Setelah selesai membayar, Delisa menunggu Revano di kursi depan supermarket.


Dua puluh menit berlalu, Delisa mendengus kesal karena suaminya baru memunculkan batang hidungnya dari jauh.


"Sayang, maafkan Mas, maaf terlalu lama." Revano membelai kepala Delisa lembut lalu mencium keningnya.


Sambil berjalan keluar, Revano menceritakan bahwa ia bertemu dengan Fadil, teman SMA yang bekerja sebagai pilot. Fadil bercerita baru saja telah bertunangan dengan soerang wanita.


Revano bahagia, akhirnya teman SMA nya sudah menikah, sedangkan Rizal si dokter hewan itu belum ada kabar sama sekali.


"Yang mana sih Mas orang nya?" tanya Delisa.


"Jelek sayang, gantengan Mas" potong Revano membuat Delisa menghembuskan nafasnya berat.


"Ya terserah," ujar Delisa, Revano hanya tertawa.


"Bercanda, sayang. Itu loh yang dateng ke nikahan kita." Revano merangkul istrinya.


"Tamu mah banyak. Delisa nggak ada yang kenal sama mereka semua." Delisa mendengus kesal.


"Hahaha ... Ya itu rekan kerja Papa semua, sayang. Teman Mas hanya 40% atau 30% nya saja." jelas Revano.


Delisa tak menjawab, ia langsung memberikan bungkusan plastik nya kepada Revano, dan masuk ke dalam mobil, Mang Karman sudah stay disana.


"Ayo, Mang. Kita jalan." ucap Revano setelah menutup pintu mobilnya.


"Sayang, kamu mau kemana dulu? Makan dulu nggak?"


"Hmmm ..." Delisa hanya bergumam saja karena ia fokus dengan ponsel yang ada di genggaman tangannya.


"Mau? Mau makan apa?"


"Nggak, mau pulang saja." sahut Delisa membenarkan.


"Ya sudah kita makan di rumah saja." pungkas Revano.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sudah malam juga." Delisa tersenyum.


Mang Karman hanya menatap kedua majikan nya yang sedang mengobrol dari kaca depan, ia tak berani berbicara ataupun menoleh, ia hanya fokus pada jalanan depan saja.


__ADS_2