
"Sebentar Dady bicara dulu sama tante Delisa."
"Bareng-bareng saja Dad! Handphone nya taruh disini di tengah ... Jangan rakus Dad!" Aurel memberengut.
"Oke oke disini ya?"
Terlihat kembali muka Aurel serta Revano di layar handphone milik Delisa.
"Del muka mu jadi bengkak begitu ... gara-gara Mamah kemarin ya? Maaf del saya minta maaf atas perbuatan mamah kemarin." ucap Revano merasa sangat bersalah melihat muka Delisa yang sedikit lebam dan di bibir nya sedikit biru.
"Pasti sakit sekali ..." sambung Revano.
"Nanti saja kita ngobrol nya, sekarang ada Aurel ... Tadi Aurel mau ngasih kue bikinan nya buat kamu tapi kamu nya pergi, jadi dari pulang kantor sampai sekarang masih menangis untung nya sekarang udah nggak." jelas Revano, Delisa hanya menganggukkan kepala nya.
"Bilang sama anak saya, suruh makan ... Dia dari siang belum makan, Dari tadi hanya menangis." bisik Revano di handphone nya.
"Aurel makan dulu ya? di temani Dady, Opa dan Oma ..." bujuk Delisa, Aurel pun mengangguk.
Heh ini anak nya siapa? Bisa-bisa nya nurut sama orang lain di banding Dady nya sendiri. Gerutu Revano dalam hati.
"Ya sudah Aurel sekarang makan ya? Tante juga mau makan sama bi Aam, nih bi Aam ..." ujar Delisa sambil menunjukkan wajah bi Aam, Bi Aam pun melambaikan tangan nya sambil tertawa.
"Dek Aurel makan yang banyak ya ..." sahut bi Aam.
"Iya bi Aam, Aurel mau ketemu sama bi Aam." Bi Aam hanya tertawa menanggapi.
"Kalau begitu telepon nya matiin dulu ya? Aurel makan dulu sama Dady, Tante juga makan sama bi Aam oke?" Aurel mengangguk setuju, lalu Delisa mematikan sambungan telepon nya.
"Dek Aurel mirip kamu non." celetuk bi Aam.
__ADS_1
"Masa sih bi? Nggak deh ... Beda jauh ..." elak Delisa.
"Iya non dari mata nya sama bibir nya, kalau tertawa apalagi ... tambah mirip non." jelas bi Aam
"Ada-ada saja bi Aam ini ... Mana mungkin mirip." Delisa terkekeh.
"Hey Am ... Nona Delisa ... Cepat masuk, jangan di luar ..." teriak bi Romlah dari kejauhan, Delisa dan Aam pun segera bangun dari duduk nya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Makan dulu non ... " ujar bi Aam sambil membuka tutup wadah berisi berbagai makanan yang sudah tersedia di meja makan, rata-rata makanan yang disukai oleh Delisa.
"Wah sepertinya lezat sekali eumm ... Jadi laper hehehe." kata Delisa sambil tersenyum.
"Sebentar ... Bibi panggil mas suami dulu hehehe." ujar bi Romlah sambil berlalu.
Mang Endang masuk dengan baju yang sudah ganti begitu juga yang lain, hanya saja bi Aam yang belum mandi karena merasakan badannya sedikit meriang.
Setelah makan selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga tanpa ada mang Endang, karena mang Endang berjaga di depan sampai pagi hari tiba.
Tak terasa sudah 2 jam mereka mengobrol panjang lebar, Delisa yang di kelilingi mereka merasa sangat beruntung karena bisa menjadi teman sekaligus keluarga bagi nya.
Delisa pamit masuk kamar karena sudah merasa mengantuk, Delisa mengecek HP nya dan ternyata sudah banyak panggilan dari nomer Revano dari 1 jam yang lalu, Delisa tersenyum mengingat wajah Aurel yang menggemaskan, membuat diri nya langsung menelpon balik nomor Revano.
Baru saja Revano menidurkan Aurel, tiba-tiba saja HP nya berdering, ia tersenyum melihat siapa yang menelponnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Aurel sayang?" kata Delisa ketika panggilannya tersambung.
"Iya ada apa tante Delisa malam-malam menelpon? Saya Dady nya Aurel." kata Revano sambil menirukan suara Aurel.
"Eh Pak Revano hehehe sory ..." Revano langsung saja menggantikan panggilannya ke video call.
__ADS_1
"Ah bapak gak mau!" sahut Delisa dalam telepon nya.
"Oh Ayolah Del sebentar saja, saya mau lihat luka mu yang sakit." ujar Revano beralasan.
"Ayolah Del." sambung nya.
"Tidak pak, tidak mau ... " Delisa berseru.
"Please ayo angkat Del, sebentar saja ... Janji hanya sebentar." rengek Revano membuat telinga Delisa bosan mendengarnya.
"iya pak ..." kata Delisa yang langsung menampakkan wajah dirinya, begitu juga Revano yang langsung melihat wajah Delisa di layar HP nya.
"Nah gini kan enak Del." ujar Revano terkekeh.
"Bibir nya bengkak habis nyium apa?" tanya Revano sambil tertawa.
"Nyium lantai pak." jawab Delisa sambil berdecak, Revano suka sekali menggoda diri nya.
"Mending juga nyium saya." kata Revano membuat Delisa tercekat.
"Ah bapak gombal, sudah ah matikan saja ya? mau ketemu Aurel malah yang angkat Dady nya." kata Delisa malu-malu walaupun pipi nya sudah memerah.
"Ya kalau tidak ada saya mana ada Aurel, Aurel kan benih saya, Ada-ada saja kamu ini." Revano berbicara seenaknya saja.
"Ya maka dari itu mending sekarang di matikan, besok saja kalau ada Aurel sambung lagi." kata Delisa.
"Memang kenapa kalau sama saya?" tanya Revano membuat Delisa gelagapan menjawab nya dan langsung mematikan sambungan teleponnya, dengan cepat Delisa mematikan data HP nya lalu merebahkan tubuhnya agar segera tidur dengan nyenyak.
Sementara itu, Revano tertawa geli melihat Delisa yang malu-malu kucing, untung saja kamar nya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar suara dirinya.
__ADS_1