Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 46


__ADS_3

"Mau lagi?" Delisa melihat mangkuk nya yang sudah habis tak tersisa.


"Mau." Aurel menganggukkan kepalanya.


"Pak?" panggil Delisa.


"Pak?" panggil Delisa lagi kepada Revano, Tidak ada sahutan untuk yang kedua kalinya.


"Hihi ... Daddy bobo." Aurel tertawa kecil sambil menunjuk Revano yang tetidur di sofa.


Mungkin Revano kecapekan karena perjalanan jauh yang memang dirinya dari subuh belum tidur sampai sekarang membuat dirinya tertidur di sofa.


"Aurel mau lagi bubur nya?" tanya Delisa lagi, pasalnya Delisa takut Aurel kesakitan karena memakan porsi yang terlalu banyak.


"Iya tante, Aurel mau lagi."


"Oke, Tante panggil Suster dulu ya, Aurel tunggu disini sebentar." Delisa mengelus pipi Aurel kemudian ia berjalan keluar, baru saja Delisa ingin membuka pintu nya sudah duluan di buka oleh Lilis dari depan.


"Delisa ... Sayang ..." Lilis langsung saja merengkuh badan Delisa sambil terisak, tentu saja Delisa bingung.


"Ya Tante?" Delisa sekarang memanggilnya Tante karena ia tidak boleh memanggil Lilis dengan sebutan Oma karena larangan oleh Lilis sendiri.


"Oma minta maaf ya Delisa, Oma mohon maafkan Oma." Lilis memohon sambil memegang kedua kaki Delisa di bawah.


"Eh Tante ... Bangun, Jangan seperti ini." Delisa menyamakan tinggi badannya lalu membawa Lilis duduk di depan Revano yang sedang tertidur.


"Delisa maafin Oma ya? Oma salah, Oma-"


"Sttt, Sudah Tante... Delisa sudah memafkan Tante, yang terpenting Delisa juga meminta maaf kelakuan atas Bu Rosa kepada Tante." Delisa menundukkan kepalanya.


"Terimakasih." Lilis memeluk Delisa dengan erat.


"Tapi maaf, Oma belum bisa memaafkan sepenuh nya kelakuan Rosa walaupun sampai sujud di kaki ku juga tak sudi rasanya." sambung Lilis.


"Ya Tante, Delisa mengerti."

__ADS_1


"Del jangan panggil Tante, panggil lah Mamah atau Oma seperti Revano dan Aurel." pinta Lilis sambil tersenyum.


"Ya Oma ... " ujar Delisa kikuk.


"Tantee!" pekik Aurel yang sudah cemberut di atas rajang sambil melipat kedua tangannya.


"Oh astaga! Iya sayang sebentar, Tante ambilkan. Aurel disini sama Oma ya?" Delisa buru-buru keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Aurel mau apa nak?" tanya Lilis mendekati Aurel.


"Makan bubur." jawab Aurel acuh.


"Tadi kan sudah."


"Aurel mau lagi Oma." Aurel memanyunkan bibirnya.


"Oh sudah ada Tante Delisa jadi nya mau deket-deket terus ya ..." Lilis menciumi seluruh wajah Aurel.


"Nggak." ujar Aurel yang masih marah, karena tadi Delisa tidak mengambilkan buburnya pada saat Lilis datang.


"Ya sudah deh nanti Oma suruh Tante Delisa pulang lagi saja." ujar Lilis menggoda cucu nya.


"Ada apa." Revano menghampiri Aurel dan Lilis di ranjang.


"Oma galak Dad! Huaa ... Aurel tidak mau ..." Aurel menangis dan merentangkan tangannya kedepan Revano, Revano menggendong Aurel dengan sangat hati-hati.


"Mama hanya ingin menggoda anakmu saja Van. Lagi pula Mama juga sudah minta maaf kepada Delisa, Yaa sekarang Mama tau, Mama sudah sadar." ucap Lilis.


Lilis yang menyebut nama Delisa, Membuat Revano langsung sadar bahwa ia telah menjemput Delisa tadi pagi.


"Oh iya Delisa sekarang kemana Ma?" tanya Revano sambil menepuk-nepuk punggung Aurel di gendongannya.


"Anak mu minta nambah makan buburnya." ujar Lilis.


"Loh anak Daddy nambah lagi makannya? Kemarin-kemarin kenapa nggak habis malah masih utuh buburnya." Revano meledek sang anak.

__ADS_1


"Lapar." Aurel menjawab lalu memeluk leher Revano.


Delisa datang dengan bubur baru di tangannya, Revano segera menghampiri Delisa yang duduk di sofa sedang menata makanan Aurel.


"Nih Tante bawain bubur baru buat Aurel, Tante suapi lagi ya?"


"Ya Tante." Aurel mulai makan bubur kedua kalinya, tetapi kali ini Aurel makan berada di pangkuan Revano.


"Pak, Nggak apa-apa?" tanya Delisa kepada Revano.


"Nggak apa-apa, apanya Del? Kalau ngomong yang jelas."


"Aurel makan banyak nanti takut kesakitan perut kecilnya." ujar Delisa.


"Nggak apa-apa, memang sudah 3 hari ini dia belum masuk nasi, kemarin-kemarin muntah terus." ujar Revano menjelaskan.


Delisa hanya mengangguk paham dan mulai menyuapi kembali putri kecil yang ada di depannya.


"Sudahh Tante, Aurel sudah kenyang." Aurel merasakan perutnya yang sudah sedikit menggembung karena terlalu banyak memakan bubur.


"Tanggung tiga atau empat suap lagi," ujar Delisa sambil menatap Aurel.


"Buat saya saja," sahut Revano.


"Ya sudah nih." Delisa meletakkan bubur di depan Revano.


"Del, kamu nggak lihat aku susah makan sendiri dengan menggendong Aurel di depan seperti ini." Revano tersenyum penuh arti.


"Terus?" tanya Delisa yang memang belum mengerti arah pembicaraan Revano.


"Suapin saya seperti Aurel tadi." kata Revano sambil membuka mulutnya.


"Bapak sama anak sama saja." Delisa mendengus kesal, akan tetapi ia tetap menyuapkan Revano seperti Aurel tadi di depan Lilis.


"Modus banget kamu Van." seru Sanjaya dari ambang pintu melihat kelakuan anak tunggalnya.

__ADS_1


"Cihh, Papa kaya nggak pernah muda saja." Revano melirik Sanjaya.


"Papa muda nya Sebelas-Dua belas sama kamu Van." sambung Lilis, membuat Delisa terkekeh melihat perdebatan keluarga Sanjaya.


__ADS_2