Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 98


__ADS_3

"Bi Romlah, Bi Aam ... Kalian bahagia selalu ya, jaga cucuku serta jangan sampai membuat Delisa kelelahan." Kedua wanita itu yang di sebut namanya pun mengangguk paham. "Baik, Bu." jawabnya dengan kompak.


"Bu Lis, terimakasih atas semuanya, saya titip mereka, jaga mereka dengan baik, saya percaya kepada Bu Lis untuk menjaganya, titip Delisa. Setelah saya bebas nanti, saya harap saya boleh bertamu ke rumahmu. Sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya kepadamu, saya tahu saya salah dalam.masalah ini, saya juga tidak ingin kamu mencabut tuntutannya karena saya pantas disini untuk menebus semua kesalahan saya kepadamu." Rosa tersenyum.


"Baiklah, Rosa. Saya pasti menjaga menantuku dengan baik. Rumah saya terbuka lebar untukmu, datanglah ..." sahut Lilis ikut tersenyum "Tak perlu meminta maaf lagi, saya sudah memaafkan mu. Jadilah wanita yang saling menghargai sesama wanita." tambah Lilis, Rosa mengangguk.


"Terimakasih Bu Lis."


"Bu Rosa, waktu anda sudah habis, silahkan kembali ke dalam sel." ujar Polisi. Rosa hanya pasrah lalu mengangguk lemas, "Sebentar, Pak." tahan Rosa.


"Delisa ... Ibu sungguh menyesal atas semua perlakuan Ibu kepadamu dulu ... Tolong maafkan semua kesalahan Ibu, insyaAllah Ibu mulai memperbaiki ibu disini. Doakan Ibu sehat selalu ya Del ..." Rosa memeluk Delisa lagi, sungguh ini adalah hal terindah yang ingin Delisa mimpikan sejak Ayahnya masih hidup.


"Nanti Ibu pulang, anak mu pasti sudah lahir dan mungkin sekitar umur 1 tahun lebih ... Ibu tak sabar menantinya, jaga anak-anakmu dengan baik. Jangan contoh ibu yang kurang ajar ini, ibu masuk dulu ya? Kalian Hati-hati di jalan ... Assaamualaikum ..."


"Grandmi!" seru Aurel, Rosa menoleh ke belakang, kemudian ia tersenyum karena Aurel merentangkan tangannya tanda ia ingin di peluk olehnya.


Rosa memeluk tubuh gadis kecil itu erat, rasanya seperti mimpi, sedang tidur tiba-tiba bangun lalu bertemu dengan mereka semua. Di tambah Lilis memaafkannya, benar-benar terasa sedang di alam mimpi baginya.


"Cucu Grandmi yang cantik yang sholehah ... Grandmi nanti main ke rumah Aurel, apa boleh, hm?" tanya Rosa terkekeh.


"Boleh, Grandmi. Sekarang Grandmi? Ayo ikut Aurel pulang," Aurel menarik tangan Rosa, Rosa hanya menggeleng tak percaya.


"Tunggu Grandmi ya, nanti Grandmi ke rumah Aurel. Sekarang Aurel kan sudah ada Daddy, ada Mommy, ada Oma juga Opa Aurel ... Sama siapa lagi tuh ... Nenek Rom, Bi Aam ..." Rosa menunjuknya satu persatu.

__ADS_1


"Lama Grandmi?"


"Sebentar kok ..." Rosa mencium seluruh wajah Aurel "Grandmi masuk dulu ya, Aurel sama Mommy gih ..." Aurel mengangguk lalu menghampiri Mommy nya.


Delisa terharu begitu juga dengan lainnya, mereka tak menyangka Rosa sudah berubah 90° dari sebelumnya, mereka semua sangat bersyukur atas perubahan Rosa.


"Dadahh Grandmi!!" Aurel melambaikan tangannya.


Rosa juga ikut melambaikan tangannya "Dadahh!!" ucap Rosa lantang.


Setelah Rosa masuk ke dalam sel nya, Mereka semua keluar dan menaiki mobilnya masing-masing. Kali ini Revano hanya berdua saja dengan istrinya karena Aurel merengek meminta ikut dengan Nenek dan Oma nya.


Bukannya tenang, Delisa malah menangis. Membuat Revano bingung karena ia fokus menyetir.


"Delisa kasihan sama Ibu, Mas. Apa Mama nggak bisa mencabut tuntutannya, lalu kita hidup bahagia bersama ..." lirih Delisa.


"Tadi kan dengar sendiri, Ibu nggak mau cabutannya di tuntut, ibu mau menebus kesalahannya sendiri ... Sudah ya jangan menangi, Mas janji nanti setelah kamu melahirkan atau kapan-kapan kita sering main ke Ibu lagi." Revano menarik tangan Delisa lalu menciumnya.


"Sudah sayang jangan menangis, nanti adek ikutan sedih loh, iya kan sayang?" Revano berbiacara kepada janin yang ada di dalam perut istrinya.


"Iya, Daddy ... Mommy sudah nggak nangis lagi kok" sahut Delisa lalu mengelap air matanya yang sudah keluar serta ingus nya.


"Mas, Delisa laper. Tapi mau makan bebek geprek." Delisa membayangkan bebek goreng kering di campur dengan sambal hijau membuatnya menelan ludah seketika.

__ADS_1


"Memang ada? Mas nggak pernah dengar, ada juga ayam geprek."


"Ada, Mas. Delisa pernah makan pas dulu."


"Iya-iya kita cari ya sayang ... Telpon Mama dulu supaya supir mencarinya."


"Iya, Mas. Terimakasih ya!" sahut Delisa genit lalu dengan jail nya mencium bibi Revano dengan nakal.


"Astaga sayang! Lagi di jalan loh ini ..." Revano menyeringai licik "Mau main dulu di dalem mobil, hm? Mas dari malem nahan loh sayang, eh ada yang ganggu. Lagian kamu nggak peka."


"Hahaha, Delisa capek, Mas. Lagian Mas sama anak nya aja cemburu begitu." ledek Delisa.


"Hm, Mas nggak suka kamu jadi cuekin Mas kalau sudah bareng sama Aurel." kata Revano jujur.


"Kalo malem kan Delisa sama Mas, gimana sih ... Ya wajar kalau pagi sampai sore Aurel nempel terus sama Delisa, orang yang deket sama Delisa saja Aurel dulu, Mas cuek plus galak!" ledek Delisa lagi.


"Itu kan dulu, sekarang sudah berbeda, sayang." ujar Revano menautkan alisnya.


"Iya, Mas. Sudah ayo cari tempat makannya, Delisa sama adek laper ni, Mas."


"Iya sayang, sebentar Mas lihat lokasi Resto terdekat."


Delisa menurut saja, karena sesungguhnya ia ingin makan di pedagang kaki lima saja karena menurutnya rasanya nikmat di bandingkan di Hotel hotel mewah seperti itu, tapi Delisa kali ini menurut karena memang ingin sekali makan bebek geprek, mulut dan perutnya sudah tidak bisa di ajak berkompromi lagi, cacing-cacing di dalam perutnya sudah menjadi alasan bayinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2