
Hari ini adalah hari kebahagiaan Bi Romlah, Bi Aam serta Mang Endang. Pagi-pagi sekali Delisa sudah mengabari mereka bahwa dia akan mengunjungi mereka dengan Revano di Jakarta besok minggu.
Dengan sedikit kesal, Delisa dari tadi menuruti Revano yang sekarang sudah berada di Mall untuk berbelanja kebutuhan dirinya. Padahal sekarang jadwal mereka untuk pergi ke kantor.
"Mas ... kita berangkat ke kantor dulu, nanti saja berbelanja nya sehabis kita pulang dari kantor." ujar Delisa memohon sambil menggandeng lengan Revano.
"Sebentar saja sayang, ayo ikut aku." Revano menarik tangan Delisa dan membawanya memasuki Mall.
"Sayang ... pilih baju untuk Aku, kamu dan Aurel." ucap Revano ketika sudah sampai di dalam butik.
"Mas? Harga nya mahal-mahal semua kalau kita belanja disini." bisik Delisa membuat Revano menggeleng kepala.
"Nggak apa-apa, ayo aku temani."
30 menit kemudian, Delisa sudah memilih baju untuk Revano dan putri kecil nya, dia memilih dengan motif yang elegan. Delisa mendengus kesal alasan Revano membelinya baju couple untuk acara lamaran nanti, padahal tidak tahu kapan acara nya.
"Masih lama juga Mas, nanti kan Bisa beli sama Oma." ujar Delisa yang terlihat masih kesal kepada Revano.
"Ya nggak apa-apa, ayo sekarang kita ke kantor." pungkas Revano dan menggandeng tangan Delisa keluar.
'Astaga! Bapak nya Aurel random banget sih.'
25 menit kemudian, sampailah mereka di kantor MS Group di waktu siang.
"Aku ke dapur ya Mas." ucap Delisa.
"Ya sayang, semangat ya kerjanya ... aku keatas dulu." Delisa pun mengangguk sedangkan Revano yang sudah duluan menaiki lift untuk sampai di ruangan kerja nya.
"Selamat pagi Bos ..." sapa Roy melihat atasan nya yang baru datang.
"Pagi Roy, tolong bawa kerjaan saya kedalam."
"Sebelum bos menyuruh pun, saya sudah melaksanakan nya." ujar Roy sambil menampakkan deretan gigi nya.
"Terimakasih, saya memang tidak salah pilih asisten plus sekertaris serbaguna sepertimu." puji Revano, lalu ia masuk kedalam ruangan nya, ruangan yang ber marmer putih di tambah jendela ruangan yang besar-besar langsung menunjukkan pemandangan kota Bandung.
Revano langsung mendengus menahan ke pusingannya melihat menumpuk nya berkas yang akan ia kerjakan.
Dengan ketelitian, Revano membuka lembar demi lembar berkas dengan mencatat nya satu persatu di laptop nya.
Sedangkan di dapur, Delisa yang akan memakai celemek di kagetkan dengan Pak Muh yang tiba-tiba berteriak kencang di tambah dentingan piring membuat Delisa berlari ke arah belakang.
"Astagfirullahaladzim, Pak Muh!" Delisa serta rekan nya memapah Pak Muh untuk duduk, dilihatnya Pak Muh yang bajunya sudah basah karena tertimpa basahan air teh panas.
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai seperti ini Pak?" tanya Citra yang mengelap lantai dan membersihkan pecahan beling-beling kecil di lantai.
"Tiba-tiba kepala bapak pusing sekali Neng ..." jawab Pak Muh yang masih terkulai lemas di kursi.
"Bapak kalau sedang sakit beristirahat lah di rumah, cuti dulu ... Delisa kalau lihat Pak Muh kayaknya weekend juga harus on time." sahut Delisa yang sudah membawa baju ganti untuk Pak Muh.
"Ganti dulu Pak, takut masuk angin."
"Terimakasih Neng ..."
"Ya lagian Pak Revano nggak ngasih Pak Muh cuti, kalau dia ada acara pasti Pak Muh harus selalu ada." ujar Citra menghela nafasnya.
"Nanti Delisa bilang sama Ma- Pak Revano." Delisa hampir keceplosan.
"Ya Del, kamu kan sudah jadi chef pribadi Pak Revano ... jangan lupa sampaikan." ujar Citra sambil tersenyum.
'Bukan chef pribadi nya lagi, tapi udah mau jadi istri nya.' Delisa terkekeh dalam hati.
"Terimakasih ya Neng Delisa, Neng Citra." sahut Pak Muh.
"Iya Pak Muh .." ujar Delisa dan Citra kompak.
"Mommy!" pekik Aurel menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Eh ..." Delisa salah tingkah, Pak Muh dan Citra menatap nya heran.
"Mommy ... Ayo kita ke Daddy!"
"Maksud nya apa ya Del? Jangan bilang kalau kamu sama Pak Revano? Astaga! Nggak nyangka Del sumpah hahaha selamat ya ... " teriak Citra yang begitu heboh dan memeluk Delisa erat.
"Hehehe ... Ya begitulah, do'ain kami ya Cit .."
"Siap Bu Bos ..." ujar Citra sambil bercipika-cipiki di pipi Delisa.
"Beneran Neng? Ya Allah ... Pak Muh sama seperti Citra, sama-sama bingung hehehe ... selamat Neng ..." seru Pak Muh.
"Ssttt tutup mulut ya ... Cukup kita bertiga saja yang tahu." Delisa mengedipkan mata nya dan berlalu keluar karena Aurel merengek meminta ke Revano dengan di temani Delisa, padahal jika dia pergi sendiri juga dia tahu letaknya.
"Mommy ..."
"Ya sayang? Ada apa? Kok cemberut begitu .. Sudah seperti bebek." Delisa terkekeh sambil mencium pipi gembul Aurel.
"Aurel ingin beli coklat tapi nggak di bolehin Oma." adu nya pada Delisa.
"No ... No ... No." Delisa mengangkat jari telunjuk nya dan bergerak ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Ahh- Mommy ..." ucap Aurel manja.
"Aurel kemarin makan apa?"
"Kue"
"Kue Aurel kemarin rasanya coklat, isi nya juga coklat kan?"
"Yes Mom ..."
"Jadi ... Aurel jangan makan coklat dulu, nanti kalau kebanyakan makan coklat gigi Aurel sakit ... Terus perut nya jadi mual ..." Delisa menggelitiki perut rata Aurel.
"Geli Mom haha ..."
"Jadi anak Mommy yang cantik ini, nggak boleh makan coklat dulu ya ... Nurut sama Mommy oke?"
"Okey Mommy ... Aurel mau ketemu Dady." pinta Aurel sambil menunjuk ruangan Dady nya.
"Nanti ya sayang ... Dady Aurel lagi sibuk sekali, tuh lihat Om Roy saja pasti masih ada di dalam." ujar Delisa menunjuk meja Roy dari jauh.
"Aurel kesini sama siapa? Kenapa nggak pulang hm? Memang nggak capek habis sekolah langsung kesini hm?" tanya Delisa mengalihkan pembicaraaan.
Ya, saat ini Aurel sudah bersekolah masih baru kelas 1 Sekolah Dasar, di dekat tempat Les nya yang dulu. Kali ini tidak ada drama seperti kemarin-kemarin yang menangis tidak mau Les karena sering di ledeki tidak mempunyai Mommy.
"Aurel mau sama Mommy dan Daddy."
"Mommy ayok kita pulang saja." lanjut Aurel karena terlalu lama menunggu jadilah dia bosan.
"Nah tuh lihat Om Roy keluar sama Om Jay, Aurel mau Mommy antar pulang atau bertemu Daddy?" tanya Delisa kepada Aurel di gendongannya, dengan tubuh Delisa yang kurus membuat tenaga nya cepat terkuras.
"Daddy." jawab nya pelan.
"Oke Mommy antar ke Dadxy, nanti setelah ini Aurel makan ya ... Nanti Mommy ambilkan."
"Sama telur orak-arik Mom."
"Ya sayang nanti Mommy bikin ya ..."
Delisa melangkahkan kaki nya menghampiri meja Roy, karena meja kerja Roy tepat sekali di samping ruangan Revano.
"Halo Nona kecil ... Delisa ..." sapa Roy.
"Om Roy dimana Daddy ku?!"
"Ada di dalam Nona ... mari saya buka kan pintu nya." ujar Roy berdiri dan membuka pintu ruangan agar Delisa tidak susah payah untuk membukanya karena dirinya yang masih menggendong Aurel.
__ADS_1
"Terimakasih Aa ..."
"Sama-sama ... Kalau begitu Aa lanjut kerja dulu." Delisa hanya mengangguk paham.