
Kini, di dalam kamar inap Delisa, sudah banyak orang yang ingin menjenguk Delisa. Hanya saja Mang Endang, Bi Romlah dan Bi Aam masih menunggu di luar, karena Sanjaya memerintahkan agar bergantian saja.
Bi Asih, Bi Rina dan Aurel sudah ada di dalam kamar, Aurel yang melihat Mommy nya masih belum sadar, bahkan sudah menangis ketakutan di gendongan Opa nya.
"Mommy, hiks, hiks ..."
"Opa, Mommy ... Hiks ..." Aurel menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sanjaya.
"Hey, Mommy Aurel tidak kenapa-kenapa, sini sama Oma!" ujar Lilis melambaikan tangannya.
"Opa!" pekik Aurel.
"Iya, berhenti menangis, kita keluar saja ya? Kasihan Mommy nanti terganggu." ucap Sanjaya mengelus rambut cucu perempuannya, mengajaknya untuk keluar dari kamar.
"Loh, Aurel kenapa menangis? Sini sama Sus ..." Bi Aam merentangkan tangannya ketika melihat majikan kecilnya menangis.
Aurel menggeleng pelan.
"Sudah, biar dengan saya saja." sahut Sanjaya tersenyum, dan menjauh dari area itu.
"Kamu nggak sopan sekali, Am! Ada Pak Sanjaya ... Biarkan saja." tegur Bi Romlah menatap Bi Aam.
"Hehehe, maaf, Rom ..." sahut Bi Aam cengengesan.
***
"Eughh ... Eummh ... Mash-h!" Delisa mulai membuka matanya, rasanya ingin bergerak saja sangat sakit dan kaku.
"Sayang, pelan-pelan!" Lilis perlahan ikut membantu Delisa agar tidak terlalu banyak bergerak.
"Ma, Delisa ada dimana?" Delisa mengerjapkan matanya melirik kearah Lilis, ia juga melihat ada Bi Asih dan Bi Rina di dekatnya.
Delisa baru sadar karena tangannya di impus, ia cepat-cepat membuka matanya lebar-lebar, mengelus perut yang sekarang sudah mengempis.
"Ma?! Bayi Delisa?" tanya Delisa dengan lirih.
"Ada sayang, Mama sudah lihat, dia sangat tampan sekali seperti Daddy nya." ujar Lilis mengelus bahu Delisa pelan.
"Ya Tuhan, apa Delisa bisa lihat, Ma?" tanya Delisa dengan mata berbinar.
"Besok akan di bawa kesini, sayang. Sebentar, Mama panggil Dokter dulu agar kamu segera di periksa."
Lilis memencet tombol Nurce Call Bell di atas bed Delisa agar Dokter segera datang.
Hanya menunggu 2 menit saja, Dokter dan Suster langsung datang, Dokter memeriksa tubuh Delisa dengan pelan.
"Bu Delisa sudah boleh makan karena sudah lebih dua jam setelah operasi berlangsung. Ibu hanya boleh makan asupan tinggi serat seperti nasi merah, roti gandum, sayur dan buah. Serat penting untuk meningkatkan asupan energi dan mencegah sembelit pasca operasi." jelas Dokter dengan ramah.
"Baik, Dok." sahut Lilis semangat.
__ADS_1
"Nanti pagi saya akan bawa bayi nya kesini ya, Bu. Sambil cek Asi nya juga ya, Bu."
"Iya, Dokter." jawab Delisa pelan.
"Baik, Bu. Kalau begitu kami keluar dulu, Permisi." Dokter keluar dari dalam kamar diikuti suster di belakangnya.
Revano masih tertidur di atas sofa, Lilis tidak tega membangunkannya karena melihat Revano sangat lelah sekali.
"Sehat-sehat ya Nona ... Kami permisi dulu, biar bergantian dengan yang lainnya." ucap Bi Asih, Bi Rina hanya ikut mengangguk saja.
"Baik, Bi Asih, Bi Rina. Terimakasih sudah datang hehehe ..." sahut Delisa dengan senyum yang manis.
"Iya, Nona. Nyonya, kami langsung pulang saja, rumah masih gelap, lampu belum di nyalakan, Nya." ujar Bi Rina menatap Lilis.
"Iya-iya, hati-hati." sahut Lilis.
"Apa Mama bangunkan Revano saja, Del?" tanya Lilis melirik putranya.
"Jangan, Ma. Biarkan Mas Vano beristirahat dulu saja, nanti dia juga bangun sendiri, Ma." ujar Delisa.
"Mau makan, sayang? Mama ambilkan." Delisa mengangguk.
"Minum dulu saja sayang." Lilis memberikan botol air mineral kepada menantunya.
"Terimakasih, Ma."
***
"Bagaimana bisa terjadi, Nona? Bibi sangat khawatir mendengarnya ..." Bi Romlah memijit kaki Delisa pelan. Delisa masih merasakan kebas pada bagian perut kebawah, jadi ia biarkan saja Bi Romlah melakukannya, ingin menolak pun Bi Romlah tetap memaksa untuk melakukannya.
Lilis pun menceritakan semua kejadiannya, Bi Romlah mendengarnya sambil bernapas dengan tersenggal senggal.
"Lain kali, Nona harus lebih berhati-hati lagi ..." ujar Bi Romlah menasehati.
"Iya, Bi. Kaki Delisa tiba-tiba tersangkut oleh kaki satunya, ya begitulah ..." sahut Delisa tersenyum, ia sudah menyelesaikan makan nya, suaminya masih tertidur nyenyak.
"Syukurlah semuanya baik-baik saja, Bayi nya sangat tampan sekali, wajahnya dominan mirip Pak Revano, mereka nampak seperti kembar ... Bibi sudah lihat dia." kata Bi Romlah mendeskripsikan.
"Oh ya? Delisa tidak sabar menimangnya, Bi. Hehehe ..."
"Untuk sementara waktu, Delisa tinggal di rumah saya dulu, Bi. Tolong jaga rumah Delisa disana, setelah pulih, Delisa boleh pulang kembali ke rumah."
"Baik, Nyonya ... Apakah saya boleh mengunjungi tempat nyonya? Saya ingin melihat Bayi tampan nya, hahaha ..." sahut Bi Aam.
"Boleh, silahkan kalian datang saja ..." jawab Lilis.
"Wah, terimakasih atas kebaikan anda, Nyonya." ujar Bi Romlah dan Bi Aam dengan wajah yang sumringah.
"Saya yang harusnya berterimakasih kepada kalian, karena kalian sudah menjaga anak dan menantuku dengan baik sampai detik ini." Lilis mengelus bahu Bi Romlah.
__ADS_1
"Ini pekerjaan saya, Nyonya ... Kalian lebih berhak untuk segalanya ..." ucap Bi Romlah lirih lalu memeluk Lilis. Delisa melihatnya sangat terharu.
Bi Romlah, Bi Aam pun akhirnya berpamitan untuk pulang, mereka juga berpesan agar bertemu Delisa jika Delisa sudah pulang ke rumah saja agar tidak repot karena jarak dari rumah ke Rumah sakit sangatlah jauh sekali.
***
"Mas!" panggil Delisa sedikit keras, ia ingin minum tapi tidak ada siapa-siapa disana, Lilis sudah di telepon oleh Sanjaya lalu keluar mungkin untuk menemuinya atau ada keperluan lain yang Delisa tidak tahu.
"Mas Vano!" panggil Delisa lagi, ingin berteriak tetapi ia tidak memikili tenaga.
Delisa dengan usilnya menggulung kertas yang tergeletak di atas laci lalu melemparnya tepat di atas wajah Revano.
"Apa?" tanya Revano mulai menggeliatkan tubuhnya.
"Delisa ingin minum, Mas."
"Sayang?" Revano membuka matanya lebar, ia langsung mendekati istrinya dan mencium seluruh wajahnya.
"Mas, bau!" Delisa menghentikan kegiatan suaminya itu.
"Bau apa sih sayang, masih harum begini di bilang bau." Revano mengambil air mineral dan meminumkannya untuk istrinya.
"Sayang, terimakasih ya ... Kamu sudah mengandung dan melahirkan bayi untuk Mas, Mas sangat bahagia sekali mendengar bahwa bayi kita berjenis kelamin laki-laki, rasanya sudah lengkap."
"Kamu juga sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Mas bangga sama kamu, sayang." Revano memeluk tubuh kecil istrinya.
"Mas, hiks ... Jadi melow kan ..." Delisa menangis sambil sedikit tertawa.
"Delisa juga bangga sama kamu, Mas. Kamu sudah menjadi suami yang bertanggung jawab dan sudah menjadi bagian penting di dalam kisah hidupku, dan terimakasih sudah selalu ada di samping Delisa, selalu mensupport Delisa apapun yang Delisa inginkan."
"Mas juga sudah menjadi Daddy yang baik untuk Aurel, dan semoga Mas pun begitu dengan adek nya ... Jangan bandingkan mereka ya, Mas. Karna pada dasarnya anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mas jangan selalu membedakan mereka ya, Mas. Delisa tak mau jika salah satu dari mereka kurang kasih sayang dari kita yang berperan sebagai orang tuanya, Mas."
"Pasti sayang, Mas pastikan tidak akan terjadi, jika Mas melakukannya, tolong ditegur ya, sayang." sahut Revano lalu mencium kilat bibir ranum istrinya.
"Iya, Mas. Begitu pun sebaliknya." ujar Delisa merapihkan rambut Revano yang berantakan.
"Kita berdua selalu berusaha menjadi kedua orang tua yang baik untuk mereka ya sayang, kita belajar bersama-sama." ujar Revano mengecup tangan Delisa.
"Iya, Mas. Karena sejujurnya, Delisa juga kadang masih bersifat kekanak-kanakan." ujar Delisa jujur.
"Tapi kamu sangat hebat sayang. Di usia kamu yang masih muda, sudah menjadi Mommy yang hebat untuk Aurel." Revano menarik kursi dan duduk di dekat istrinya.
"Mas pun sama, sudah menjadi superhero yang tampan, baik, rendah hati dan tidak sombong untuk istri dan anak-anaknya." ucap Delisa memencet kedua pipi Revano lalu tertawa.
"Aurel belum kesini ya sayang?" tanya Revano.
"Sudah, Mas. Kata Mama, dia tadi menangis karena melihat Delisa masih belum sadar, jadi dia di bawa Papa keluar dari kamar. Tapi Mama tadi di telepon Papa ..."
"Mungkin sebentar lagi mereka datang." potong Revano cepat.
__ADS_1
"Ya mana Delisa tahu ..." Delisa mengangkat bahunya keatas.
"Hm" sahut Revano tersenyum simpul. Ia bahagia sekali mendengar suara istrinya lagi dan melihat bagaimana ekspresi senang dari istri kecilnya itu.