
Sore ini Revano harus menjemput Delisa karena permintaan putrinya yang harus di turuti, Revano berangkat sore ini agar sampai di Jakarta pagi hari, padahal jarak antara Bandung-Jakarta tidak cukup jauh akan tetapi Revano sengaja karena takut rumah Delisa yang jauh nanti tidak ketemu-ketemu dan akan memakan waktu.
"Revano berangkat dulu, titip Aurel Mah ..." pinta Revano sambil mencium tangan Lilis.
"Hati-hati Van ... Jangan mengebut ... Apa mau di temani Anton saja?" Lilis menatap Anton yang sedang mengobrol bersama Sanjaya, Anton yang di sebut namanya pun menoleh.
"Boleh Bu ..." ujar Anton yang memang memanggil dengan sebutan 'Bu Lilis.'
"Tidak usah, Anton sedang sibuk dengan Papah." elak Revano.
"Kalau kamu mau ya tidak apa-apa Van, biar Papah sendiri yang mengurus nya besok." Timpal Sanjaya sambil mematikan Laptop nya.
"Tidak-tidak, Vano sendiri saja." ujar Revano.
"Tante ... Hiks ... Mau tante ... Hiks ... Eumm."Aurel mengingau di dalam tidur nya membuat hati Revano beserta yang lainnya teriris melihatnya.
"Iya nanti tante Delisa nya di jemput dulu ya sayang." ujar Revano sambil mencium kening Aurel cukup lama.
"Sudah sana berangkat saja, nanti Aurel minta ikut tambah rewel." ujar Lilis sambil mendorong badan Revano.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Revano pamit dulu, Assalamualaikum ..." pamit Revano sambil berlalu dan memasuki mobilnya.
Revano mulai mengemudi mobil BMW nya tidak di temani siapa-siapa. Hingga malam tiba, Revano menghentikan mobil nya di Rest Area Toll untuk merokok dan beristirahat, karena sudah jam 9 malam, Revano melanjutkan perjalanannya hingga jam 3 pagi barulah dirinya sampai di ibu kota, Jakarta.
"Lumayan juga nih pinggang." Revano mengurut pinggangnya dengan tangan sendiri.
Karena merasa tubuhnya sangat pegal dan capek, Revano beristirahat kembali di masjid yang searah dengan jalannya, ia tidur di dalam mobil hingga menjelang subuh barulah Revano keluar dan melaksanakan sholat subuh terlebih daulu, ia menyelipkan beberapa lembar uang merah lalu di masukkan kedalam kotak amal masjid tersebut.
Para bapak-bapak melihat Revano yang sangat sopan dan santun kepadanya membuat para bapak-bapak itu kagum kepada Revano, hingga ada saja salah satu yang meminta foto dengan Revano.
Setelah dirasa matahari mulai naik, Revano terlebih dahulu berhenti di restoran yang 24 jam untuk sekedar sarapan, setelahnya ia melanjutkan kembali perjalanannya sambil membuka alamat dengan Maps di Handphone nya yang telah di berikan oleh Sanjaya melalui aplikasi WhatsApp.
"Pagi pak ... Mau bertemu dengan siapa ya?" ujar Pak Satpam yang menghampiri Revano dibalik jendela mobilnya.
"Maaf tuan Revano jika saya kurang sopan, kalau boleh tahu, tuan sedang mencari siapa kesini? Biar saya antar." ujar Pak Satpam sopan karena melihat atasannya berada disini.
"Rumah bu Rosa." sahut Revano.
"Bu Rosa?" tanya nya tidak percaya.
__ADS_1
"Iya pak, segera tunjukkan dimana alamatnya." seru Revano kesal karena pak Satpam hanya melongo tidak jelas.
"Alamat bu Rosa, Rumah nomor 08 dan ber cat cream, kalau dari sini lurus nanti ada pertigaan belok kekiri ya tuan." jelas pak Satpam, Revano hanya melajukan mobilnya tanpa berpamitan.
"Loh rumah nya luas begini, Papah bisa saja investasi yang seperti ini, untung banyak." gumam Revano lalu turun dari mobil nya.
Di depan ada mang Endang sedang menyuci mobil di temani bi Romlah juga sedang menyapu halaman rumah yanv penuh dengan daun-daun berjatuhan.
"Permisi ..." Mang Endang dan bi Romlah segera menoleh kearah Revano, alangkah terkejutnya bi Romlah serta mang Endang melihat Revano ada di depannya.
"Ya tuan?" ujar mang Endang sambil berlari menghaampiri Revano yang masih berdiri di depan gerbang, bi Romlah juga menaruh sapu nya dan ikut menghampiri.
"Ada perlu apa tuan?" tanya mang Endang.
"Delisa ada disini?" bi Romlah mengangguk.
"Nona Delisa ada di dalam tuan, mari masuk." ucap bi Romlah.
"Terimakasih." Revano mengikuti langkah bi Romlah.
__ADS_1