
"Del bangun ..." Revano terpaksa membangunkan Delisa di situasi seperti ini.
"Eughh ..." Delisa mulai mengerjapkan matanya dan melirik Revano di sampingnya.
"Bapak? Sudah sampai?" tanya Delisa dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Belum, kitaa masih di tol, kamu mau makan dulu nggak?" tanya Revano, Delisa menggeleng.
"Kenapa?" tanya Revano lagi.
"Nanti saja, kita ketemu Aurel dulu saja Pak." ujar Delisa yang masih memikirkan keadaan Aurel terbaring di rumah sakit.
"Baiklah, temani aku menyetir, dari tadi saya bosan tidak ada teman." Revano beralasan.
"Baiklah, maaf tadi Delisa ketiduran Pak." kata Delisa kikuk.
"Ya tidak papa."
Selama di sepanjang perjalanan Delisa tak henti-hentinya berbincang dengan Revano dan memberitahu bahwa ia akan bekerja lagi di PT. Danuarta Jaya.
Revano tertunduk lemas mendengarkannya, padahal ia ingin sekali Delisa bekerja dengannya lagi seperti dulu.
Pukul 15.45 sore, Revano langsung memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Delisa mengikuti Revano yang berjalan di depannya menuju ruangan Aurel.
Ceklek ...
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, hanya ada Roy saja di sana dengan Aurel yang sedang tertidur pulas di ranjang.
"Aa?" Delisa tersenyum ada Roy disana.
"Cihh ..." Revano mendengus lantaran kesal melihat Delisa dan Roy yang begitu dekat, Ditambah Roy yang pernah cinta dengan Delisa membuat Revano semakin kesal saja.
"Del lihat Aurel, kasihan dari tadi terus saja mengingau memanggil namamu." ujar Roy melihat Aurel yang memakai baby fiver pereda panas di keningnya.
"Maaf A, Delisa benar-benar salah." ujar Delisa sambil berdiri di samping Aurel dan mengelus pipi Aurel.
"Bos saya pamit dulu, Kan sudah ada bos disini jadi saya pulang dulu," ujar Roy pelan.
"Bos jangan lama-lama libur di kantornya, pekerjaan saya semakin banyak saja." Roy memutar bola matanya malas.
"Doakan saja anakku agar cepat pulih kembali." Revano berdiri dan berhenti di samping Delisa.
Roy pergi keluar dari ruangan perawatan, sekarang hanya tersisa Revano, Delisa dan Aurel saja sudah seperti keluarga kecil bahagia.
"Del duduk dulu disitu, Ayo." ajak Revano menunjuk sofa kosong.
"Emm tidak Pak, Delisa disini saja menunggu Aurel sampai terbangun." ujar Delisa sambil terisak.
"Loh kok nangis? Ada apa?" Revano dengan reflek memeluk badan Delisa, Delisa hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya.
"Aurel kasihan di impus seperti ini Hiks ... Ini juga ... Ini juga ... Hiks ..." Delisa tak kuat melihat Aurel dengan tubuh kecilnya di penuhi dengan berbagai macam alat rumah sakit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, justru karena ini nanti Aurel sembuh." Revano memeluk Delisa lagi, Delisa membenamkan kepalanya di perut Revano karena posisi Delisa duduk sedangkan Revano berdiri di sampingnya.
"Tante ..." Aurel tersenyum lalu menarik baju Delisa. Revano dan Delisa langsung melepaskan pelukannya,
'Astaga kamu nggak punya malu banget Del!' Delisa terkekeh dalam hatinya, walaupun muka nya sekarang mungkin sudah seperti kepiting rebus karena kepergok Aurel dirinya sedang memeluk Dady nya.
"Aurel sayang ..." Delisa berganti memeluk Aurel yang masih berbaring di ranjang.
"Aurel seneng nggak? Dady yang jemput tante loh." Revano bertanya kepada sang anak, karena Aurel hanya fokus kepada Delisa saja.
"Aurel senang banget tante Delisa ada disini, Terimakasih Dad." ujar Aurel senang.
"Sama-sama sayang." Revano memilih duduk sambil menunggu makanan yang akan di bawakan suster karena jam sudah menunjukkan jadwal makan Aurel.
"Tante naik sini." Aurel menepuk sebelahnya.
"Aurel mau bobo sama tante." ujar Aurel manja sambil memegang tangan Delisa, Delisa mengangguk dan menaiki ranjang, berbaring di samping Aurel, Revano yang melihat kelakuan mereka hanya menyunggingkan senyumannya.
Senyum Aurel sedari tadi masih belum memudar di bibirnya, Aurel memiringkan badannya dan memeluk Delisa sambil mencari kenyamanan di bagian badan Delisa, Delisa memegang tangan kanan Aurel agar tidak bergerak.
"Tante ... Ini sakit ... Ini sakit ..." Aurel menunjuk kepala dan perutnya, Delisa langsung mengelus pucuk kepala Aurel dan sesekali menciumnya.
"Sabar ya sayang, Nanti Aurel juga sembuh kalau pintar makan dan minum obatnya." jawab Delisa mengelus pipi Aurel.
"Aurel sudah pintar minum obat, tadi pagi di suruh minum obat sama Oma, Aurel langsung minum. Enak obatnya manis, rasanya strawberry." Aurel bercerita kepada Delisa sedangkan Revano berjalan menghampiri suster yang membawakan bubur untuk Aurel.
__ADS_1
"Pintar sekali putri Dady, sekarang makan dulu ya? Mau di suapin-"
"Di suapin tante Delisa." ucap Aurel memotong omongan Revano, "Baiklah, sini biar tante suapi, habis ini minum obat lalu istirahat ya anak manis." Delisa mengambil bubur di tangan Revano dan mulai menyuapi Aurel sedikit demi sedikit.