Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 71


__ADS_3

Setelah selesai makan, Revano segera berkemas kembali untuk check out dari hotel ber cap bintang lima itu.


"Mas," panggil Delisa yang sedang memoles muka nya dengan make up seadanya di atas lemari hias mewah yang merupakan bagian dari fasilitas hotel nya.


"Sudah sayang? ayo turun, Roy sudah di bawah." ujar Revano kemudian ia menghampiri Delisa dan menggandeng tangan nya.


"Sakit nggak? mau Mas gendong lagi, hm?"


"Sedikit, tapi nggak mau di gendong. Malu ada Roy." ujar Delisa sambil tersenyum.


Revano pun mengangguk paham dan mereka turun menghampiri Roy yang sudah duduk manis di lobby depan, dilihat nya Roy yang sedang membaca majalah dengan kacamata hitam nya.


"Roy." ucap Revano sekilas dan melewati Roy begitu saja.


"Hah, oh iya Bos, siap laksanakan." sahut Roy buru-buru menaiki mobil di bagian pengemudi.


"Langsung pulang atau bagaimana bos?" tanya Roy melirik Revano dan Delisa di kursi bagian belakang.


"Sayang?" Revano menatap Delisa.


"Pulang saja Mas, Delisa sudah rindu dengan Aurel." ujar Delisa terkekeh karena ekspresi wajah Revano yang cemberut.


"Baru juga ditinggal semalaman, yang."


"Pulang saja Mas," kata Delisa lagi.


"Ikuti apa kata istri ku saja Roy." ujar Revano.


"Baik bos." ujar Roy sopan, kali ini ia benar-benar sudah tidak berani walaupun hanya sekedar menatap Delisa saja.


Keheningan pun melanda, Roy hanya fokus kepada jalanan luas dan lebar diiringi pepohonan tua dan besar di sampingnya yang saat ini ada di depannya. Sedangkan di belakang, Revano dan Delisa keduanya sedang asyik bermain handphone yang sejak dari malam di silent agar tidak mengganggu keduanya.

__ADS_1


Banyak ucapan-ucapan selamat untuk keduanya dari teman-teman jauh nya yang tidak bisa hadir dalam acara pernikahan kemarin.


Setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan, Revano tanpa basa basi lagi langsung turun dan mengapit lengan Delisa keluar untuk turun dari dalam mobil dan memasuki rumah mewah nan megah.


Revano sementara waktu membawa Delisa untuk tinggal di rumah kedua orangtua nya terlebih dahulu, setelah ini mereka akan pindah ke penthouse baru yang telah di berikan Revano sebagai kado pernikahan untuk Delisa, istri kecil nya.


"Selamat datang Delisa, menantu Mamah yang cantik ..." seru Lilis menyapa dan berdiri menghampiri Delisa yang sedang di tuntun oleh Revano dengan langkah yang kecil dan terpapah.


Lilis tersenyum melihatnya,


"Sayang sama Mamah dulu ya, Mas mau ke kantor sebentar sama Roy." ujar Revano kemudian mengecup kening Delisa sekilas, Delisa pun mengangguk paham dan langsung mengecup punggung tangan Revano.


"Hati-hati ya Mas."


"Iya sayang."


Lilis menuntun Delisa untuk duduk bersama sembari menonton TV,


"Ah Mamah! Stopp, Delisa malu." Delisa tertawa cekikikan.


"Haha astaga, kamu kayak sama siapa saja."


"Nggak pa-pa jangan malu, yang penting Revano nggak nakal sama kamu kan?" tanya Lilis.


"Nggak Mah, Mas Vano baik banget Mah hehe..." ujar Delisa tersenyum.


"Aurel kemana Mah?" tanya Delisa yang melihat rumah nya sudah bersih dan rapih seperti semula dan tidak seperti kemarin yang berantakan karena hiasan.


"Oh iya Bi Aam, Bi Romlah sama Mang Endang juga kemana Mah?" tanya Delisa berturut-turut.


"Aurel ada di belakang lagi mainan ikan sama Opa nya. Kalau Bi Aam, Bi Romlah dan Mang Endang sudah ke penthouse kalian, di suruh suami mu."

__ADS_1


Delisa hanya mengangguk paham.


"Mommy!!" teriak Aurel berlari mendekati Delisa.


"Jangan berlari sayang," sahut Delisa merentangkan tangan nya untuk menggapai tubuh kecil Aurel.


"Gimana Del? aman nggak?" tanya Sanjaya dan ikut duduk di samping Lilis. Delisa hanya tertunduk malu mendengarnya.


"Aman dong Pa, apalagi putra kita sudah pernah menikah dan pasti nya sudah tau cara membujuknya." ucap Lilis membuat Delisa tambah malu saja.


Delisa menyibukkan diri dengan menanggapi celotehan-celotehan dari mulut Aurel.


Sanjaya dan Lilis pamit ke kamar untuk beristirahat sebentar karena cuaca nya sedikit mendung membuat nyaman untuk tidur siang.


Delisa sedikit menggerutu kepada Revano karena membuat diri nya tak nyaman, bergerak pun susah, apalagi untuk berjalan.


Dengan di bantu Aurel berjalan, Delisa sedikit memaksakan agar terlihat normal dan biasa-biasa saja di depan putrinya itu, karena jika tidak, bisa-bisa putri kecil nya sudah bertanya meleber kemana-kemana hingga Delisa kesusahan untuk menjawab nya.


"Mommy kemarin kenapa nggak bobo sama Aurel di kamar? Memang nya Mommy sama Dady tidur dimana sih?"


"Mommy ketiduran di kamar hotel sayang ... Daddy nggak kuat gendong Mommy jadi tunggu sampai Mommy bangun deh ..." jawab Delisa sambil mengelus kening Aurel menelusurinya hingga hidung.


"Kirain Mommy mau kerja."


"Enggak sayang. Sekarang Aurel bobo ya ... Baca doa dulu." ujar Delisa memberi perintah.


Aurel pun menuruti nya dan mengangkat kedua tangannya lalu mereka berdua membaca doa tidur bersama-sama.


Setelah Aurel sudah tertidur cukup nyenyak, barulah Delisa bangun dan menuju kamar Revano diatas yang sudah resmi menjadi milik nya juga.


Sampai di kamar, Delisa langsung saja membaringkan badan nya di kasur, lama kelamaan membuat Delisa tak tersadar dan kini ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2