Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 78


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu siang berganti malam, malam berganti siang. Tak terasa pernikahan Revano dan Delisa sudah berlalu dua pekan yang lalu, kini saat nya Delisa bersiap melengkapi kebutuhan apa saja yang akan ia gunakan untuk kuliah nanti.


Ya, Revano sudah berbicara kepada istrinya mengenai resign dari kampus beserta alasan nya, Delisa tak masalah mengenai hal itu, yang terpenting adalah ia tak sabar untuk berkuliah dan kumpul bersama teman-teman baru nya.


Delisa juga sebisa mungkin harus melayani suami nya serta putri kecil nya yang masih butuh kasih sayang dari diri nya, walaupun terbilang hal yang cukup sulit bagi nya, akan tetapi Delisa dengan mudah begitu saja untuk melewati nya. Dengan di bantu oleh sang suami, membuat diri nya tak repot mengurus putri nya, di tambah Aurel yang sudah di asuh oleh Bi Aam membuat Delisa semakin santai.


Dengan di temani black card milik suami nya, siang ini Delisa berbelanja sepuas hati nya, tak lupa ia juga membelikan beberapa snack kesukaan suami dan anak nya. Setelah membayar belanjaan nya, Delisa langsung pulang ke penthouse baru milik nya menggunakan taxi, karena supir pribadi nya masih belum beroperasi.


Setelah sampai di rumah, ada bi Aam yang sedang bergurau dengan ART baru nya yang bernama bi Rami, janda yang sudah berumur dan sudah memiliki anak serta cucu.


"Assalamualaikum Bi ..." seru Delisa.


"Waalaikumsalam Nona ..." sapa bi Aam dan bi Rami bersamaan.


"Ini buat bertiga ya Bi, di bagi saja. Delisa masuk dulu." ujar Delisa menyerahkan tote bag besar yang berisi buah-buahan, kue kering serta makanan lain nya.


"Masyaallah terimakasih Nona, banyak sekali Ram." ujar bi Aam mengintip kantong plastik yang ia pegang di tangannya.


"Iya, Nona kalau beli tidak tanggung-tanggung ya ... ini kelengkeng juga mungkin ada sekitar lima kilo nya Am." jelas bi Rami sambi mengangkat kresek putih yang berisi buah kelengkeng.


"Sudah, mari kita masuk saja, takut ada apa-apa dengan Nona." ajak bi Aam sambil membawa tote bag besar yang di berikan oleh majikannya.


Delisa mengganti pakaian nya karena sudah bau keringat setelah beraktivitas. Berganti menggunakan pakaian santai serta mencepol rambut panjang nya. Ia berinisiatif untuk menelpon suami nya,


Dua dan ketiga kalinya sudah Delisa coba, sambungan telepon masih saja belum terangkat, Delisa memakluminya karena memang jam-jam Revano sibuk dengan laptop nya saja.


Setelah menaruh Hp nya, Delisa memasukkan buku binder dan beberapa peralatan belajar nya seperti pulpen, pensil dan lainnya kedalam tas yang baru saja ia beli.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 13.00, hati Delisa risau karena Aurel tidak kunjung pulang, sudah lebih dari setengah jam dari bel sekolah Aurel, belum juga datang mobil Revano atau Roy di halaman nya, Delisa melihat nya dari atas balkon.


"Ya ampun, Mas Revano kemana sih, di telpon juga nggak di angkat." kesal Delisa.


**


Di sisi lain, Revano baru saja keluar dari ruangan meeting, setelah para client berpamitan untuk pulang, Revano segera menghampiri meja Roy yang hanya ada Citra saja.


"Citra, Roy belum datang juga?"


"Maaf pak, setahu saya mereka belum datang juga." jelas Citra sambil berdiri dari tempat duduk nya.


"Kalau sudah datang, suruh lah Roy masuk ke ruangan saya."

__ADS_1


"Baik Pak."


Revano tersenyum melihat layar Hp nya yang sudah banyak notif pesan yang masuk, terutama pada istri nya yang sudah dia sematkan si atas dengan nama "My wife❤".


Dengan cepat Revano menelpon balik istri nya dengan video call, ia bahagia melihat Delisa mengangkat nya.


"Halo sayang"


"Hm iya Mas, kenapa dari tadi nggak di angkat? Sibuk Mas?"


"Iya sayang, hari ini jadwal banyak sekali, mungkin nanti Mas akan pulang sore atau malam, entahlah."


"Iya Mas nggak apa-apa, sudah makan?" tanya Delisa, ia melihat backround Revano yang masih di dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.


"Belum sayang, mau makan di rumah saja." jawab Revano.


"Masih lama Mas, makan lah dulu nanti lemas."


"Iya sayang, nanti habis ini Mas telpon Pak Muh." jawab Revano yang tak mau istri nya gelisah memikirkannya.


"Mommy!" teriak Aurel di belakang dan langsung menampakkan wajah nya di layar Hp, "Daddy belum pulang?" tanya gadis kecil itu sambil melepas tas nya.


"Happy, Eum tapi Om Roy lama jemput Dad!" kesal Aurel.


"Oh ya?"


"Ya."


"Sudah dulu ya Mas, Delisa mau ngurusin Aurel dulu." sahut Delisa dari belakang, karena di layar hanya ada wajah Aurel nya saja.


"Bye bye Dady!"


"Bye bye sayang! Mmuach!"


Klik ...


Jemari kecil Aurel mematikan sambungan telepon antara dirinya dan juga Dady nya.


"Mom, Aurel ingin mandi lalu makan." pinta Aurel yang jarang sekali ia minta mandi setelah pulang sekolah.


"Oke, air hangat saja ya nanti Mommy siapkan, setelah makan nanti Aurel bobo siang oke?"

__ADS_1


"Ya Mom, ayok ..." Aurel menarik tangan Delisa kearah kamarnya sendiri.


Selesai menidurkan putri kecil nya, giliran Delisa yang mandi, ia masuk kedalam kamar nya, setelah itu ia mengganti pakaian nya yang baru di dalam walk in closet yang cukup luas dan mewah, Delisa juga sedikit menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar terasa fresh bagi siapa saja yang menciumnya.


Ceklek~


Pintu kamar terbuka, Revano menampakkan diri nya dengan menenteng tas hitam serta masih memakai jas lengkap dengan dasi nya. Delisa tersenyum dan menghampiri suaminya kemudian mencium punggung tangannya serta mengambil tas dari tangan Revano. Revano menahan tangan Delisa, ia mencium dahi, pipi, serta bibir Delisa.


"Mas kangen banget sayang, apalagi nanti kalau kamu sudah fokus kuliah." celetuk Revano yang melihat istrinya sedang meletakkan tas kerja nya di atas meja bundar.


"Tiap hari kan ketemu Mas, Delisa nggak ngontrak juga ckckc," sindir Delisa yang menurut nya suaminya ini lebay sekali.


"Mas yang tiap hari ngontrak, kan ini rumah milik kamu sayang." ujar Revano menarik tangan Delisa hingga wanita itu terjatuh tepat diatas tubuh Revano.


"Wekeend besok bagaimana kalau kita berlibur sayang?" tanya Revano meminta pendapat istri kecilnya.


"Kemana Mas?" tanya Delisa sambil memainkan jakun Revano yang naik turun di barengi ucapan yang di lontarkannya.


"Eh lupa sayang, Mas mau ada perlu kalau tidak salah ke luar kota, paling lama tiga hari itu pun kalau tidak ada yang mengulur waktu sayang." jelas Revano lesu.


"Lain kali saja Mas, lagi pula Aurel juga masih masuk sekolah nya."


"Mas hanya mau kita berdua saja yang berlibur sayang, Aurel biar sama Sus nya saja." usul Revano.


"Aurel sama Bi Aam masih butuh adaptasi Mas, tadi Aurel saja tidak mau di kelonin Bi Aam, masih harus sama Delisa."


"Lain kali saja kita bicarakan tentang liburannya, sekarang Mas ingin disini sudah ada calon adik nya Aurel, muach" Revano mengelus perut Delisa dan mencium nya.


"Sejauh ini si belum ada tanda-tanda nya Mas," Delisa mengelus rambut Revano.


"Baiklah, Mas akan mencoba lebih giat lagi." ujar Revano mengunci pintu serta jendela kamar menggunakan remot control, ia juga mematikan lampu kamar sehingga sedikit remang-remang.


"Mass!!" teriak Delisa.


"Satu ronde tak masalah sayang."


Cup!


Lagi-lagi mereka berdua meneguk nikmatnya syurga dunia, berdansa dan menari-nari diatas kasur mewah, tak lupa cucuran keringat membasahi peluh dari kedua insan yang sedang merasakan kenikmatan yang tiada duanya.


Semoga saja adik kecil yang Revano inginkan segera hadir dan menambah kelengkapan dari keluarga kecil nya.

__ADS_1


__ADS_2