
Dengan memakan waktu yang cukup lama, sampai lah mereka di kawasan komplek mewah Jakarta. Aurel gadis kecil itu sudah terlelap di pangkuan Delisa setelah lelah ikut-ikutan menyetir mobil dengan Dady nya, begitu juga Delisa yang sudah ikut terlelap sambil memeluk Aurel di depan tubuh nya.
Mang Endang melihat mobil Revano datang, ia segera membuka lalu mendorong gerbang besar nya hingga mobil Revano terparkir di halaman rumah mewah itu.
Revano tidak berani membangunkan dua sejoli kesayangan nya karena baru saja tertidur. Dia keluar dan menghampiri mang Endang yang sedang menutup kembali gerbang besar nya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Mang Endang menghampiri Revano yang berteduh di depan pos satpam.
"Delisa dan Aurel sedang tertidur di dalam, saya tidak bisa membangunkan mereka karena mereka baru saja tertidur." ucap Revano.
"Iya Pak, mari masuk saja dulu, biar saya yang menunggu mereka disini." ujar Mang Endang mengajak Revano masuk kedalam rumah.
"Saya disini saja."
Setelah Mang Endang mendengar penuturan Revano, dia segera masuk untuk memberitahu istri dan Bi Aam yang masih di dalam.
"Mereka sudah datang Bu!" seru Mang Endang hanya dari batas pintu karena ia memakai sepatu.
"Iya Pak, ayo Am!" Bu Romlah dan Bi Aam terpogoh berlari ke depan untuk menyambut nona cantik nya.
"Pak Revano, mari masuk ..." ujar Bi Romlah.
"Iya Bi, tunggu 5 menit lagi nanti saya bangunkan mereka." sahut Revano.
Lima menit kemudian Revano sebenarnya tak tega membangunkan Delisa yang sudah nyenyak mengarungi alam mimpi nya, jika di rumah sendiri mungkin Revano akan membopong tubuh Delisa dan meletakannya di dalam, ia mengurungkan niat nya karena bukan waktu yang pas.
"Sayang, bangun ... Sudah sampai, nanti lanjut lagi tidur nya di dalam." Revano menggoyangkan bahu Delisa pelan dan mengelus pipi nya.
"Emm iya Mas, tolong angkat Aurel dulu." Revano segera mengangkat tubuh Aurel yang masih tertidur.
Bi Romlah dan Bi Aam tercengang melihat Revano juga membawa anak nya ikut kemari.
"Mari Pak, di tidurkan saja di dalam." ujar Bi Aam dan langsung berjalan di ikuti Revano di belakang nya.
Sedangkan Delisa yang masih mengumpulkan nyawa nya di dalam mobil, dia menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan agar tidak kaku setelah tertidur di dalam mobil dengan durasi cukup lama.
"Bi Romlah ..." Delisa turun dari mobil dan mencium tangan Bi Romlah serta memeluk nya, Mang Endang sendiri yang sibuk menurunkan barang-barang dari bagasi mobil Revano dan memasukkan ke dalam kamar yang akan mereka tempati.
"Nona ... Mari masuk, Pak Revano sudah masuk dengan putri nya, siapa nama nya, cantik sekali dia." Bi Romlah menggandeng Delisa membawa nya masuk ke dalam.
"Namanya Aurel Bi .. Iya cantik orang dia juga keturunan bule hehe ..."
"Mirip seperti Nona, sama-sama cantik."
__ADS_1
"Ah Bibi bisa saja." Delisa mendudukkan diri nya di kursi ruang tamu sembari menunggu Revano datang.
"Mirip Non ..."
"Mirip dari mana Ya Allah ... Ya Robbi ..." Delisa menggelengkan kepala.
"Sebenarnya Delisa kesini ada yang ingin Delisa sampaikan kepada kalian, tapi sebelum nya tunggu Pak Revano datang dulu, biar dia yang menjelaskan." kata Delisa terkekeh.
"Nona bikin kepo saja,"
"Nah tuh orang nya datang ..." lanjut Bi Romlah yang sudah tak sabar.
"Bilang Mas" ujar Delisa berbisik.
"Ekhm Maaf Bi ... Pak ..." Revano mulai memposisikan diri nya agar terasa nyaman, baru kali ini Revano merasa meminta restu melebihi meeting dengan client manca negara.
"Ya Pak? Ada apa ..." Bi Romlah bertanya.
"Saya ingin meminta restu kepada kalian bertiga khusus nya Pak Endang dan Bi Romlah sebagai pengasuh Delisa sedari kecil mungkin sampai saat ini, yang sudah tau seluk beluk serta enak dan tidak enak hidup yang di jalani Delisa sampai sekarang. Saya Revano Akashy Malik meminta restu untuk menikahi Delisa Pratama." Revano menahan jantung nya yang sedang ber ketipak-ketipuk di dalam.
Bi Romlah memandang suami nya seolah menyutui nya, "Saya dan suami saya merestui kalian berdua untuk menikah, karena menikah merupakan salah satu ibadah, untuk Nak Revano tolong jaga Delisa, saya dan suami saya sudah menganggap Delisa sebagai putri kami, dari lahir dia sudah di urus oleh saya sendiri." Bi Romlah terisak, tidak tega dari dulu melihat Delisa yang sudah dewasa sebelum umur nya, walaupun sekarang Delisa masih berumur 19 tahun, Bi Romlah menyutujui Delisa untuk menikah muda.
"Tapi kami apa kata Delisa saja, tidak memaksa kan dia untuk menikah, jika neng Delisa sudah siap maka lakukan lah .. Kami bahagia sekali, Delisa sudah menemukan pendamping hidup nya, semoga kalian selalu di berkahi Allah hingga jannah Nya." lanjut Mang Endang.
"Amin ... Terimakasih Bi Romlah, Pak Endang, saya lega mendengar nya." jawab Revano sambil tersenyum.
"Ganteng itu bonus Bi ... Alhamdulillah rejeki anak sholehah ..." sahut Delisa tertawa kecil.
Mereka semua beralih ke meja makan, mereka asyik makan besar sambil mengobrol dari sabang sampai merauke, Revano juga sekarang lebih mudah tersenyum karena tidak enak untuk menunjukkan wajah datar dan dingin nya.
Setelah mereka kenyang, Bi Romlah mengajak Delisa dan Revano untuk berbicara di taman belakang, sedangkan Bi Aam membersihkan meja makan dan setelahnya akan menjaga Aurel, takut jika Aurel menangis dari bangun tidur nya.
"Nona .." Bi Romlah memegang tangan Delisa, saat ini Bi Romlah menurunkan ego nya demi majikan, semoga saja hal baik mendatangi nya untuk kali ini.
Revano hanya menatap intens Bi Romlah di depan nya, serius mendengar nya.
Walaupun sebenarnya tidak enak untuk berbicara hal ini kepada Delisa, tapi terpaksa sedikit Bi Romlah melakukan nya.
"Bu Rosa,"
"Hm? Iya Bi kenapa?" tanya Delisa, sekilas ia melihat Revano yang masih santai mendengarnya.
Bi Romlah menceritakan hal kemarin tentang diri nya membesuk Rosa si lapas hingga akhir nya Delisa ikut merintihkan air mata nya.
__ADS_1
"Bibi kasihan hiks .."
"Mas?" Delisa beralih menatap Revano.
"Iya sayang, nanti kita bicarakan ini di rumah ya .. Nanti Mas bilang sama Mamah dan Papah, semoga saja mereka mengiyakan." Revano mengelus rambut Delisa dan mencium kening nya.
"Semoga ya Mas .. Kasihan Bu Rosa, walaupun dia banyak salah, tapi nama nya juga manusia nggak semua nya sempurna Mas .. Hiks ..." Delisa membenamkan diri di badan Revano.
"Iya sayang,"
"Mommy, Daddy!" teriak Aurel di ambang pintu yang sedang di gendong Bi Aam. Delisa melepaskan diri nya dari Revano dan membawa Aurel untuk duduk.
"Aurel suka? Ini Bi Aam, ini Bi Romlah ..." Delisa menunjuk untuk memperkenalkan nya.
"Hust jangan gitu sayang, panggil nya Nenek Romlah sama Nenek Aam." Revano pikir agar sopan saja.
"Ah iya sayang, ini Nenek Romlah .. Ini Nenek Aam" ralat Delisa.
"Aurel jadi punya dua Nenek dan satu Oma, iya kan Mom?"
"Iya sayang ..." Delisa menyeka air mata nya,
Mendengar gadis kecil memanggil nya Nenek, spontan Bi Romlah merintihkan air mata nya, ia terharu sudah memilik cucu sekarang.
"Sini Nenek cium ..." Bi Romlah mencium pipi gembil Aurel, "Aurel tinggal disini saja ya sama Nenek."
"Iya Nenek."
"Saya nggak mau di panggil Nenek, saya masih muda ..." elak Bi Aam, memang dia masih berumur 32 sedangkan Bi Romlah sudah memasuki kepala empat. Tidak ada yang tahu kehidupan Bi Aam, tidak tahu juga Bi Aam sudah menikah atau belum karena Bi Aam benar-benar privasi untuk menceritakan kehidupan nya.
"Uni ... panggil Uni saja, Uni kan sama seperti 'bibi' tapi lebih modern saja." ujar Bi Aam terkekeh.
"Uni hihi ..." Aurel menunjuk Bi Aam.
"Daddy ayo kita berenang ..." Aurel tergiur melihat kolam renang disini lebih besar di banding di rumah Oma nya.
"Dingin sayang, besok lagi ... Sekarang sudah mau sore, kita mandi di dalam saja ya ... Nanti Mommy mandikan, ayo ..." ajak Delisa, cuaca hari ini memang sangat dingin dan takut Aurel sakit karena kelamaan bermain air.
"Ayo Mom, Aurel gerah sekali ..."
"Delisa pamit dulu ya Bi ... Mau memandikan Aurel dulu .."
"Iya Del ... Nanti malam turun ya untuk makan malam di jam biasa, kalian beristirahat dulu saja." ujar Bi Romlah.
__ADS_1
"Dadah nenek ... Uni ..."
Revano ikut masuk kedalam kamar dan merebahkan badan nya yang memang sudah sangat lelah dan belum sama sekali tertidur, sambil menunggu putri kecil nya mandi, ia memanfaatkan waktu nya untuk tidur sebentar saja dan bergantian agar diri nya juga mandi.