Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 111


__ADS_3

Satu tahun kemudian ...


Aurel sedang bermain bersama Athala di halaman belakang rumahnya, Athala yang baru bisa berjalan masih sering terjatuh tetapi tak membuat Athala menangis, ia kembali berdiri dan berlari mengejar Kakaknya.


"Mommy, Kakak capek!" keluh Aurel lalu duduk di dekat Delisa, Athala pun mendekati Kakaknya. Aurel sudah menyebut dirinya sebagai Kakak dan semua orang harus memanggilnya dengan sebutan Kakak Aurel.


"Minum dulu, Kak." sahut Delisa. Aurel berlari ke dalam rumah untuk minum, Delisa menarik baju Athala agar Athala tidak mengikuti Aurel.


"Aaa, Tata! Tata!" seru Athala memanggil Aurel.


("Aaa, Kakak! Kakak!")


"Athala disini saja dengan Mommy, Kakak mau minum dulu. Athala mau Nen?" Delisa menawarkan.


"No, Au Tata!"


("No, Mau Kakak!")


"Iya, Nah itu Kakak dengan Daddy ..." Delisa menunjuk Revano yang sedang menggendong Aurel, Athala menangis dan meminta gendong pada Daddy nya.


"Wlee, Kakak sama Daddy! Athala tidak boleh ikut gendong sama daddy" ejek Aurel.


Huaa ....


Huaa ....


"Sini-sini Athala sama Daddy, Kakak turun dulu ya ..." ujar Revano berjongkok. Aurel turun lalu mencubit pipi Athala dengan keras hingga menangis kembali.


"Kakak!" pekik Delisa kaget.


"Sory Mommy, habisnya pipi adek luber." Aurel terkekeh.


"Kak, kasihan dong sama adek jadi kesakitan kan. Tuh ada bekasnya, merah." Revano menimang Athala dan mengelus pipi bekas cubitan Aurel.


"Nanti Opa tahu, biarin." sambung Revano.


"Jangan Daddy," senggal Aurel cemberut.


"Ya sudah jangan usil sama Athala. Adek pasrah saja ya kalau di jailin Kakaknya ..." Revano mencium pipi Athala dengan lembut.

__ADS_1


"Mas, apa Ibu pulang sekarang?" tanya Delisa yang tak sabar menanti Ibu nya pulang, karena Rosa berencana pulang hari ini.


"Sepertinya besok deh, Sayang. Sekarang sudah sore. Mas sudah transfer ke rekening Ibu, supaya ada ongkos untuk ke sini nya ... maafkan Mas ya sayang, Mas tidak bisa jemput Ibu." ujar Revano lalu duduk di samping Delisa, membiarkan anak anaknya main bersama di hadapannya.


"Tak apa, Mas. Ibu pasti mengerti. Apa Ibu sudah tahu alamat rumah kita, Mas? ... Sementara alamat rumah kita saja cukup privasi." tanya Delisa kepada suaminya.


"Sudah sayang. Bi Romlah sudah kasih tahu Ibu. Nanti Ibu datang mungkin langsung kesini. Kita tunggu saja ..." jawab Revano lalu merangkul istrinya sambil melihat putra dan putri nya bermain pasir.


Baju dan celana mereka berdua sudah sangat kotor. Bagaimana tidak, mereka bermain pasir di campur dengan air kolam, mereka mengaduk-aduk pasir itu menggunakan tangannya. Athala pun hanya mengikuti kegiatan sang Kakak, ia ikut bermain pasir juga.


"Astaga, Mas. Mereka kotor sekali ..." Delisa menghembuskan nafasnya berat.


"Biarkan saja, nanti di bersihkan sekalian mandi."


"Kakak, Adek ... Ayo mandi sayang ..." seru Delisa merentangkan tangannya. Keduanya hanya melirik sekilas lalu melanjutkan kegiatannya.


"Masuk cepat, sudah sore. Daddy kunci dari dalam ya kalau tidak mau masuk." ancam Revano ikut berdiri.


"Daddy ..."


"Ejii"


Ujar Aurel dan Athala sambil berdiri menghampiri Revano. Delisa di cuekkan.


"Huhh" Delisa mendengus kesal.


"Awas saja ya, Adek. Mommy gak mau kasih Nen lagi." gumam Delisa kesal.


"Sayang, kamu bawa jas, Mas saja. Mas ingin mandi bersama dengan mereka." ujar Revano lalu menggendong Aurel dan Athala pada tangan kanan dan kirinya. Baju yang Revano kenakan pun ikut kotor, Delisa menggelengkan kepalanya pelan.


***


Di pagi harinya, Revano sudah siap berangkat kerja, Aurel sudah berangkat sejak tadi ditemani Bi Aam.


Athala tidak mau turun dari gendongan sang Daddy, ia menangis ketika sudah berada di gendongan Mommy nya.


"No Eji, No."


("No Daddy, No.")

__ADS_1


"Daddy kerja, sayang. Nanti Daddy pulang cepat, oke ..." ujar Revano mengelus rambut Athala lalu mencium kening Delisa dan Athala bergantian.


"Mommy punya coklat, kita makan coklatnya ya ... Ke dalam yuk ..." Delisa mengibaskan tangannya menyuruh Revano untuk segera pergi.


"Cotat, Mi?" tanya Athala yang sudah berhenti menangis mendengar Mommy nya akan memberinya coklat.


("Cokelat, Mommy?")


"Iya, Adek Mau?" tanya Delisa sambil membuka pintu kulkas.


"Au" jawabnya mengangguk.


("Mau")


"Mommy beri coklat, tapi Adek cium Mommy dulu" Delisa menunjuk pipinya, Athala yang mengerti langsung mencium pipi Delisa. Delisa tersenyum senang, ia juga langsung mencium pipi Athala.


"Makan nya sama Bi Rami dulu ya ... Mommy ingin ke kamar dulu." Delisa menurunkan Athala, Bi Rami mengajaknya keluar agar tidak mengganggu Delisa belajar.


Delisa sampai detik ini masih mengambil kuliah online nya, ia terkadang sering mendatangi kampus jika ada masalah penting mengenai pelajaran untuk memperbaiki nilai nya.


Setelah mengerjakan beberapa tugas nya, Delisa langsung turun dan mencari Athala dan Bi Rami.


Delisa keluar membuka pintu rumahnya, ia terkejut karena Rosa sudah datang, ada Bi Romlah disana. Rosa juga menggendong Athala, Athala hanya diam saja karena dia sedang fokus dengan makan cokelatnya.


"Ibu!!" Delisa terharu, ia berlari menghampiri Rosa dan memeluknya.


"Delisa, sayang ..." Rosa memberikan Athala kepada Bi Rami, ia segera menyambut Delisa dengan pelukan yang hangat.


"Ibu, hiks ... Delisa kangen ..." Delisa mengelap air matanya, lalu mengajak Rosa untuk masuk ke dalam. Rosa merentangkan tangannya agar Athala mau di gendong olehnya, Athala langsung jatuh kepelukan Granmi nya.


"Athala kamu tampan sekali sayang ..." puji Rosa dan betubi-tubi mencium seluruh wajah Athala.


"Ibu ingin makan sekarang atau nanti?" tanya Delisa menatap Rosa yang sedang bermain lego bersama Athala.


"Nanti saja, Ibu ingin menemani Athala." ujar Rosa sambil tersenyum menatap Delisa.


"Baiklah. Delisa titip Athala dulu ya Bu, Delisa ingin ke kamar mandi dulu sebentar." ujar Delisa, Rosa pun mengangguk saja.


Rosa sangat senang sekali bermain dengan cucunya. Tak terasa genangan air sedikit-sedikit keluar dari pelupuk matanya. Bagaimana tidak, ia bahkan sedikit pun tidak pernah membayangkan kehidupan seperti ini di masa depannya. Memang betul ya takdir tuhan itu tidak ada yang tahu, entah itu hal kesenangan atau pun sebaliknya.

__ADS_1


Delisa datang menghampiri Rosa dan Athala. Delisa mengajak Ibunya untuk makan terlebih dahulu, mau tak mau Rosa pun mengiyakannya dan berjalan mengikuti langkah Delisa sambil menggendong Athala di tangannya.


__ADS_2