
Makan malam telah selesai, Delisa dan Revano kembali ke kamar setelah berpamitan kepada Bi Romlah, Bi Aam dan Mang Endang. Aurel masih enggan beranjak dari duduk nya, ia lebih memilih bermain bersama Nenek dan Uni nya.
Bi Romlah dan Bi Aam sangat senang sekali bermain dengan bocah kecil yang menggemaskan itu, membuat suasana rumah semakin hangat. Aurel yang di iming-iming oleh Dady dan Mommy nya untuk pulang di esok hari, bocah kecil itu menolaknya dan ingin terus bermain bersama keluarga baru nya.
Di dalam kamar bernuansa putih abu-abu, Revano dan Delisa sudah berbaring dengan kasur yang berbeda.
"Sayang, Kamu mau tidur sekarang?"
"Hm iya Mas, mungkin besok Delisa ikut pergi belanja ke pasar. Ah Delisa betah kalau tinggal disini sama mereka."
"Mommy sama anak nya sama saja,"
"Hehe bercanda Mas, besok kita pulang setelah sarapan saja."
"Pasti Putri kita menolak dan dia tidak mau pulang sayang,"
"Mungkin Nenek dan Uni nya juga begitu." Delisa melihat kebahagiaan Bi Romlah serta Bi Aam yang sangat senang bermain dengan Aurel.
"Sayang nanti Mas mau mereka bekerja dengan kita saja, di rumah kita." ujar Revano yang memang sudah ingin membeli penthouse setelah menikah nanti.
"Setuju Mas, padahal Delisa ingin membicarakan itu ... Eh malah udah keduluan sama Mas."
"Tidur sayang, biar Mas ke depan dulu mau jemput Aurel, sudah malam, kasihan Nenek dan Uni nya pasti mereka lelah sudah mengajak Aurel bermain sejak tadi." ujar Revano keluar kamar dan menjemput anak nya yang masih asyik bermain masak-masakan di depan.
"Aurel ayo kita beristirahat dulu ... sekarang sudah malam, kasihan Nenek dan Uni pasti capek." seru Revano sambil mengulurkan tangan nya.
"Tidak apa-apa Pak, masih sore." elak Bi Aam.
"Besok lagi ya Bi ... kalau Aurel kurang tidur nanti dia akan terus merengek sepanjang hari." jelas Revano.
"Aurel tidur dulu ya? nanti besok main lagi," ucap Bi Romlah.
"Iya Nenek, Aurel tidur dulu ya ... Dadahh nenek, Dadahh Uni ..." Aurel menghampiri Revano untuk meminta di gendong, kemudian mereka berdua masuk ke dalam kamar, dilihat nya Delisa yang sudah tertidur pulas di bagian tengah-tengah kasur, membuat Revano berpikir ia akan tidur di mana sedangkan dua kasur nya sudah di tiduri kekasih nya.
Dengan cepat, Revano memerintahkan putri nya untuk tidak bersuara, lalu ia mendekati Delisa dan meraih badan Delisa untuk di pindahkan.
"Aurel bobo di tengah ya? Jangan ganggu Mommy," ujar Revano pelan.
__ADS_1
"Oke Dad, Aurel hanya mau peluk Mommy saja." Aurel merangkak naik ke kasur, dengan hati-hati ia memeluk Delisa dari depan. Ada pergerakan kecil membuat Delisa menyipitkan kedua bola mata nya kemudian tersenyum melihat Aurel dalam dekapan nya, Delisa mengelus kepala Aurel dan mencium kening nya cukup lama, di saksikan oleh Revano di samping nya.
"Sudah pipis sama gosok gigi belum?" tanya Delisa.
"Sudah sama Dady." jawab Aurel.
"Selamat malam Mas, tidur nyenyak ya ..." kata Delisa yang memang diri nya tahu sedari tadi jadi tontonan Dady nya Aurel.
"Iya sayang, selamat malam juga, mimpi indah ..." sahut Revano sambil tersenyum, ia bahagia melihat kedua insan yang saling memeluk satu sama lain di depan nya.
Karena Revano yang masih tersenyum memperhatikan nya dengan posisi miring serta kepala nya di tumpu oleh satu tangan nya membuat Delisa susah sekali untuk tertidur.
"Tidur Mas" ucap Delisa pelan yang mengingat Aurel sudah tertidur dalam dekapan nya.
"Mas belum bisa tidur sayang, kamu saja dulu yang tidur, nanti Mas menyusul." sahut Revano, ia berdiri dan mengambil laptop nya di atas nakas.
"Sayang tidur ya ... Mas mau ngecek email dari Roy dulu, kasihan Roy pasti banyak sekali pekerjaan nya di tambah minggu depan mahasiswa pasti butuh Mas buat sidang kelulusan mereka."
"Nanti Delisa bantu Aa Roy kalau di kantor." celetuk Delisa yang tidak sama sekali memikirkan perasaan Revano.
"Kasihan Aa Roy kan kata Mas pekerjaan nya numpuk." ujar Delisa membuat hati Revano semakin panas saja.
"Ubahlah panggilan mu kepada Roy, telinga Mas gatal mendengarnya. Dan satu lagi, kamu kan akan menjadi istri Mas, otomatis kamu juga akan menjadi atasan Roy."
"Delisa dan Aa Roy sudah nyaman dengan panggilan seperti ini dan sudah terbiasa." tolak Delisa.
'Andai kamu tahu sayang, saat dulu Roy itu sangat mencintaimu'
"Hm" Revano enggan menjawab, ia hanya sibuk melihat layar laptop nya yang menyala terang.
"Kenapa Mas?" Delisa melihat Revano yang sudah berpindah tempat, kini Revano berada di bawah lantai dengan karpet yang membentang cukup lebar.
"Pikir saja sendiri."
Delisa yang melihat Revano merajuk seperti anak kecil, membuat dirinya menahan tawa nya.
"Cemburu Mas?" tanya Delisa terkekeh, ia menutup mulut nya agar tidak terlalu keras tertawa.
__ADS_1
"Tidak, siapa yang bilang." ujar Revano, tidak mau mengakui nya.
'Udah pake bahasa formal lagi, fiks dia pasti lagi marah' Delisa tahu saat ini Revano sedang cemburu karena asisten nya, Delisa memilih untuk tidur dan menahan tawa nya ketika Revano beranjak dari duduk nya dan menghampiri nya.
"Sayang!" tegas Revano, Revano dengan santai memindahkan Aurel ke kasur yang satu nya.
"Hm ada apa Mas? Kasihan Aurel, sini kembaliin."
"Kamu nggak peka sama sekali ya!" Revano berbaring dan memeluk Delisa dengan tangan kekar nya. Revano memecet hidung Delisa sampai Delisa kehilangan pasokan udara nya barulah Revano membuka nya.
"Hahh ... Hahh ... Astaga Mas! Aku hampir mati tadi." Delisa menghirup oksigen dengan cukup lama dan menghembuskan nya pelan.
"Maaf Mas kalau tadi membuat Mas cemburu, Delisa tidak ada rasa sama sekali kepada Roy, ah tidak-tidak maksud Delisa begini ..."
"Panggilan Aa itu hanya Delisa dengan Roy jika sedang di luar saja, selebih nya tidak ada apa-apa lagi," lanjut Delisa.
"Mas tidak menyuruh mu untuk memberi penjelasan, Mas hanya mau mengubah panggilan mu kepada Roy saja, Mas nggak suka, iya Mas mengakui kalau Mas cemburu .. Paham hm?" Revano mengangkat kepala Delisa dan mengalihkan ke tangan kekar nya sebagai ganti dari bantal nya yang tadi.
"Iya Mas Delisa paham ..."
"Terimakasih sayang, ayo tidur sudah malam."
"Mas nggak mau pindah? Masa Aurel di pinggir, nanti jatuh bagaimana?" Delisa menepis tangan Revano, dia memilih tidur di antara kedua nya.
"Ck, Mas ingin dekat kamu sayang." Revano ikut merubah posisi nya menghadap Delisa dan memeluk nya lagi.
"Tidur lah Mas," Delisa memainkan rambut Revano yang sudah mulai panjang seiring berjalannya waktu.
"Hm, sayang juga tidur."
"Iya Mas."
Delisa mulai memejamkan mata nya, kini kedua tangan nya tidak menganggur lagi, tangan kanan mengelus rambut Revano sedangkan tangan kiri nya mengelus pundak Aurel yang membelakangi nya, Aurel tertidur dengan memeluk erat bantal guling di samping nya.
...🌹🌹🌹...
...Padahal viewers sehari bisa sampai 500-600 an, tapi kenapa ya kalian pada nggak suka nge-Like, suka baca nya doang🥺, kan Like itu gratis lo kawan-kawan, buat Author jadi semangat juga nulis nya ...🤧😢✌...
__ADS_1