Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 25


__ADS_3

"Bapak apa-apaan sih bikin malu saya saja." ucap Delisa bete.


"Ya aku hanya membetulkan." elak Revano.


"Membetulkan gundulmu pak! Berbohong itu tidak baik." kata Delisa lagi.


"Gundul? Apa yang gundul? Gundul pacul?" tanya Revano terkekeh.


"Ckckckck" Delisa berdecak kesal.


"Ya lagian nih ya, kebahagiaan anak saya lebih penting dari segalanya jadi terpaksa saya berbohong. Maafin saya juga Del atas perbuatan yang saya lakukan kemarin. Masih sakit kah? Kalau begitu sekarang saya antar ke dokter." kata Revano dengan lembut dan penuh perhatian.


"Kemarin sudah di antar Roy ke Dokter, sudah sembuh juga."


"Yakin? Coba mana lihat."


"Nih." Delisa memberikan tangannya yang lebam, biarkan Revano sesuka hatinya melihat perlakuan sendirinya.


"Astaga saya ceroboh banget, maaf ya Del sumpah saya minta maaf ga sengaja kemarin terbawa emosi." ujar Revano yang melihat bagian bengkak di tangan Delisa.


"Aww ... Ish Bapak jangan di pecet!"

__ADS_1


"Sory-sory ... Kalau begitu ke dokter spealis tulang dan rangka saja, kalau di bawa Roy pasti hanya di bagian dokter umum dan pastinya pelayanannya tidak bagus, sangat jelek."


"Buktinya masih sakit kan? Ahh sudahlah ... ayo saya antar sekarang, jangan menolak, Cepat Del!" ujar Revano berdiri dan tidak sengaja membawa belanjaan milik Delisa, Delisa menurut saja karena memang ia tangannya semakin lama semakin sakit, tidak ada perubahan.


Melihat barang-barang miliknya seenaknya di masukkan kedalam mobil milik Revano, Delisa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.


"Pak, saya bawa motor sendiri." ujar Delisa.


"Mana kuncinya? Sini biar saya titipkan ke bagian penitipan, nanti motornya biar saya suruh mang Eja bawa pulang." kata Revano, Delisa merogoh tas nya lalu memberikan kunci motornya kepada Revano.


Revano sedikit berlari menuju penitipan barang, ia menyalakan handpone nya lalu menghubungi mang Eja, mang Eja pun mengiyakan. Setelah sambungan telepon terputus barulah Revano kembali lagi menuju mobilnya, sudah ada Delisa yang menunggunya disana.


Selama di perjalanan, Revano melihat Delisa yang sedang mengarungi mimpi indahnya, Revano tersenyum lalu membenarkan anak rambut Delisa yang menutupi wajahnya.


"Cantik." gumam Revano.


Astagaa !


Revano menepis perasaannya sendiri.


Revano masih setia menunggu Delisa bangun, padahal sedari tadi mobil Revano sudah ada di parkiran rumah sakit terkenal dan pastinya biayanya juga cukup mahal.

__ADS_1


"Eughhh ... " Delisa menggeliat dan mengerjapkan matanya, melihat Revano tersenyum membuat Delisa gelagapan.


'Sumpah ini mah bukan pak Revano yang Delisa kenal.' ujar Delisa dalam hati.


"Ayo cepat keburu ramai."


***


Revano sedikit tersentuh melihat tangan Delisa gang begitu bengkak dan memar karena ulahnya, ia merutuki kebodohannya sendiri, padahal anaknya saja tidak apa-apa malah sendirinya yang menyakiti Delisa.


Revano menyesal atas apa yang di perbuat dirinya itu, ia berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatannya sampai Delisa benar-benar sembuh., Revano juga sudah memberikan cuti kepada Delisa sampai tangannya kembali sehat lagi, Delisa sangat berterimakasih kepada Revano karena memang ia sedikit susah untuk bergerak.


Mobil berjalan kearah perumahan elite yang ditinggali Revano serta keluarganya, Revano membawa Delisa pulang kerumahnya karena memang ia sengaja agar Delisa di urus oleh ibu nya supaya cepat sembuh.


"Tanteeee ..." Aurel berlari kearah Delisa dan merentangkan kedua tangannya.


"Eits tidak boleh, Aurel biar di gendong Daddy saja." ujar Revano yang langsung sigap menggendong anaknya, ia takut luka Delisa menambah bengkak lagi karena ulah anaknya.


"Mari masuk." imbuh Revano mengajak Delisa memasuki rumahnya, tetapi ia juga meninggalkan Delisa yang masih berdiri di ambang pintu.


"Hmmm" Delisa hanya diam saja sambil melipat kedua tangan nya, melihat Revano dan Aurel berjalan dengan cepat membuat nya enggan masuk dan masih berdiri di pintu depan tanpa kata apa pun.

__ADS_1


__ADS_2