
"Daddy!" teriak Aurel melihat Revano yang masih sibuk di meja kerja nya.
"Hai sayang! Kok ada disini?" Revano berdiri menghampiri Delisa yang menurunkan Aurel si sofa.
"Capek Mas, Aurel berat sekali." Delisa tersenyum dan mendudukan Aurel si sofa.
"Berarti putri kita sudah besar sayang .." Revano ikut mendudukan diri nya di samping Aurel.
"Hm iya Mas, Delisa mau ambil makan dulu buat Aurel, Mas mau makan nggak?" tanya Delisa yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Nggak ... Mas masih kenyang."
"Sini." Revano menarik tangan Delisa hingga terduduk.
"Ada apa?" tanya Delisa heran.
"Kamu disini saja, biar yang lain saja yang buat."
"Nanti Mas pesan, duduk yang manis disini sama Aurel, Mas mau bikin laporan dulu." lanjut Revano.
Sambil menunggu makanan datang, Aurel dan Delisa yang sedari tadi terguling-guling di lantai, Delisa rambutnya sudah terurai kemana-kemana membuat Aurel melihatnya ketakutan sambil berteriak dan berlari kearah Revano yang masih fokus bekerja.
"Aurel! Duduk yang anteng!" ujar Revano yang tanpa sengaja membentak Aurel dengan keras hingga bocah kecil itu mulai menunjukkan bulir-bulir air matanya.
"Mas!" sahut Delisa yang tak kalah kaget melihat Aurel di perlakukan seperti itu.
"Sini sayang sama Mommy." Delisa langsung memangku Aurel yang sudah menangis.
"Maaf sayang, Mas nggak sengaja." Revano berlari menghampiri Delisa dan memeluk Aurel dari samping, "Maafin Daddy ya sayang? Daddy nggak sengaja memarahi Aurel, maaf ya?"
Aurel menggelengkan kepala pelan di ceruk leher Delisa.
"Hiks ... Hiks ... Daddy jahat!" Aurel menepis tangan Revano yang bertengger di bahu nya.
"Sayang ..." Revano beralih menatap Delisa dengan lirih.
"Mas sendiri lagian yang bikin gara-gara, sudah tau anaknya masih suka sensi." bisik Delisa.
"Bantuin aku sayang-"
__ADS_1
"Nggak."
"Aku selesain kerjaan dulu sayang, tanggung tinggal revisi sedikit lagi." ujar Revano yang tidak merasa bersalah dan langsung meninggalkan Aurel yang masih menangis di pelukan Delisa.
Ting ... Ting ...
"Permisi Pak, ini pesanan nya ..." ujar Citra yang membawakan tadi yang di pesankan putrinya.
"Kemari Cit .." Delisa melambaikan tangan nya, Citra yang melihat ruangan CEO nya kali ini benar-benar terlihat seperti kandang domba, sudah berantakan di tambah bantal sofa yang sudah tergelak di mana-mana membuatnya bingung.
"Silahkan Nona kecil, jangan lupa di makan sampai habis ya ..." ucap Citra sambil mengelus rambut Aurel dan beringsut pamit karena tidak enak sedari tadi Revano menatapnya.
"Makan dulu yuk, Mommy suapin."
"Hm." Aurel memundurkan kepalanya, Delisa terkekeh melihat Aurel yang muka nya sudah basah kuyup karena air mata dan ingus nya.
"Sini Mom, biar Daddy saja yang menyuapi Aurel." Revano mengambil alih piring di tangan Delisa.
"Sama Mommy saja Dad!" cicit kecil nya berseru.
"Oke-oke." Revano memberikan kembali piring nya kepada Delisa.
"Mmmm, Daddy geli hahaha ...." Aurel memberontak di pelukan Revano, dia menggeliat geli sekaligus tertawa meminta sang Dady menyudahi perlakuannya.
"Stop Dad, Stop!" Aurel masih saja tertawa menahan gelitikan dari Daddy nya.
"Oke- Asal Aurel mau memafkan Daddy."
"Baiklah Dad, Aurel memaafkan Daddy." ujar Aurel yang sudah terlihat lemas.
"Sudah sore Mas, Ayo kita pulang." sahut Delisa yang hanya mendengarkan percakapan antara Ayah dan anak nya.
"Ayo Dad!"
"Hm iya sayang, ayo Mom." Delisa menggandeng tangan Revano sedangkan Aurel sudah di gendong oleh Revano di tangan satu nya.
"Iya Mas ..."
Revano terlebih dahulu mengantarkan Delisa ke apartemen nya, padahal diri nya sudah ingin sekali pulang dan berbicara kepada kedua orangtuanya tentang pernikahannya bersama Delisa agar di percepat.
__ADS_1
Hingga menjelang Asar Aurel masih enggan untuk pulang, dia masih bermain-main bersama Delisa di ruang depan. Sedangkan Revano hanya melihat mereka sambil sesekali tersenyum melihat apa yang mereka lakukan.
"Aurel? Ayo kita pulang dulu .." seru Revano.
"Nggak"
"Nanti saja Mas"
Jawab mereka serempak.
"Sudah sore Mom ..." jelas Revano sambil mengelus kepala Delisa.
"Iya Mas, kalian hati-hati ya, jangan mengebut." ujar Delisa memberi perhatian dan menciumi Aurel di gendongan Revano,
"Mas nya nggak di cium juga?" goda Revano.
"Ishh apaansih Mas." Delisa membenarkan rambut Aurel untuk menutupi muka malu nya.
"Dadahh Mommy!!" teriak Aurel yang sudah di dalam mobil.
***
"Am, aku kok kepikiran Bu Rosa ya?" tanya Bi Romlah kepada Bi Aam.
"Sudahlah Rom biarkan saja, itu juga hukuman yang dia perbuat sendiri kok jadi ya harus di tanggung sendiri juga." ujar Bi Aam.
"Ya maksudku nggak begitu Am ... Apa kita jenguk saja ya?" tanya Bi Romlah khawatir.
"Kalau kamu mau ayo Rom, nanti aku temankan."
"Kalau begitu besok saja Am ... Kalau hari Minggu nanti nona Delisa kesini."
"Besok? Yang bener saja kamu Rom jauh begitu."
"Sudah bilang suamiku Am," Bi Aam hanya mengangguk setuju.
Setelah 2 bulan lama nya mereka di tinggal oleh majikan nya, besok mereka akan mengunjungi nya.
__ADS_1
Meskipun Bu Rosa orang yang jahat tetap saja para ART nya masih peduli kepada nya.