
Delisa kembali masuk ke dalam, dilihatnya Bi Romlah dan Bi Rami sedang membersihkan tempat makan yang sudah selesai di pakai sarapan pagi tadi.
"Bi Romlah, Delisa ingin tahu keadaan Ibu, bagaimana ya? Apa ada nomer telepon yang bisa di hubungi?" tanya Delisa seraya menarik bangku lalu duduk.
"Ada Nona, apa Nona ingin menepolnya?" tanya Bi Romlah kembali, Delisa langsung mengangguk "Iya, Bi. Delisa ingin menelpon Ibu."
"Baik Nona, sebentar. Bibi ambil ponsel Bibi dulu." sahut Bi Romlah lalu melenggang pergi keluar dari dapur untuk mengambil ponselnya.
Sedangkan Delisa tidak melanjutkan berbincang nya dengam Bi Rami karena ia sedang mencuci piring di wastafel, jaraknya sangat jauh dengannya.
Bi Romlah mendekati Delisa, mereka mulai menelpon nomer kepolisian yang Rosa tempati.
Satu kali telepon, sudah langsung menyambung. Buru-buru Bi Romlah menaruh Hp nya ke tangan Delisa, Delisa menyambut nya dan meload speaker panggilan itu agar Bi Romlah dapat mendengarnya juga.
"Halo, selamat pagi. Maaf ini dengan siapa?" tanya dari seberang dengan suara yang lantang.
"Halo, Pak. Selamat pagi juga, saya dari keluarga Bu Rosa dan ingin berbicara dengannya, apa boleh, Pak?" sahut Delisa.
"Boleh, Bu. Tapi hanya boleh berbicara dalam waktu 20 menit saja." ujar Polisi.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa."
"Sebentar, saya matikan dulu teleponnya, saya akan segera panggilkan Bu Rosa nya."
"Baik, Pak. Saya tunggu." sahut Delisa. Sambungan telepon pun putus.
Delisa menoleh kearah Bi Romlah dengan senyumnya "Alhamdulillah, Bi."
"Iya, Nona. Syukurlah kalau begitu, untung Bibi simpan nomernya."
"Terimakasih ya, Bi."
"Sama-sama, Nona. Sebentar, Bibi buatkan Nona minum dulu ..." Bi Romlah beringsut pergi menuju dapur. Delisa yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya, memang benar di usia kehamilan yang menginjak ke trimester, dirinya sering merasakan haus di setiap menitnya.
Dering telepon dari ponsel Bi Romlah pun kembali terdengar, Delisa langsung saja mengangkat telepon itu.
"Halo, sayang" ujar Rosa dari seberang, baru mendengar suaranya saja Delisa langsung merintihkan air matanya.
"Halo Ibu ... Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah ibu baik-baik saja, bagaimana kamu dan yang lain?" tanya balik Rosa.
"Delisa baik bu, mereka juga sehat, alhamdulillah." yang di maksud mereka adalah semuanya, Delisa paham apa yang di katakan oleh Ibu nya.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, kamu tiba-tiba telepon ibu ada apa ya, Del?" tanya Rosa lagi.
Delisa pun menceritakan kegiatan tujuh bulannya kemarin kepada Ibu tirinya, ia juga tak menyangka Rosa meresponnya dengan baik. Delisa bersyukur akhirnya sekian lama ia sudah menjalani komunikasi yang baik antara dirinya dan juga ibu tirinya, tak ada lagi perihal tentang bertengkar dan mengalah.
Bi Romlah membawakan minum untuk Delisa dan ikut mengobrol bersama.
__ADS_1
Baru di rasa 5 menit, ternyata Pak Polisi sudah meminta kembali ponsel nya. Delisa hanya bisa pasrah, sebelum pamit, Delisa juga sudah berpesan agar ibu nya selalu menjaga kesehatannya supaya bisa berkumpul lagi, Rosa mengiyakan.
Sambungan telepon pun sudah kembali terputus, Delisa pamit kepada Bi Romlah karena dirinya akan absen pagi bersama dosennya secara daring. Sebelum masuk ke kamar, Delisa membawa air minum dan beberapa snack dari bawah.
"Nona ingin di masakin apa untuk makan siang nya?" tanya Bi Romlah memastikan karena untuk makan siang hanya Delisa dan Aurel saja yang makan.
"Delisa mau udang bakar kecap saja, Bi." jawab Delisa "Kalau untuk Aurel, terserah Bibi saja, dia nggak repot kalau untuk masalah makan."
Bi Romlah mengangguk "Baik, Nona. Nanti saya tanyakan Bi Aam setelah pulang nanti."
"Iya, Bi. Delisa ke atas dulu ya ..."
"Iya, Nona, hati-hati naik nya, apa ingin Bibi temani?"
"Nggak usah, Bi." tolak Delisa sambil tersenyum, lalu melangkahkan kakinya keluar.
***
Di kantor Revano.
Revano baru saja membuka Laptop nya setelah breafing pagi selama kurang lebih satu jam bersama karyawan-karyawan terpilih nya.
Roy masuk dengan membawakan segelas kopi hangat dan biskuit pengganjal lapar, tak lupa map pekerjaan di bawa oleh Roy menggunakan tangan kirinya.
"Bos silahkan ... Ini kerjaan anda hari ini, ada meeting dengan perusahaan D-company sekitar jam empat sore."
"Nanti saya akan coba menelpon CEO nya, Bos. Sepertinya tidak bisa karena mereka juga akan berkeliling dengan perusahaan-perusahaan lainnya."
Kening Revano mengerut "Perusahaan mana ini?"
"Perusahaan baru launching dua bulan yang lalu, Bos. Mungkin bisa saja mereka tertarik bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Hm, baiklah. Tapi coba kau usahakan agar meeting jam 2 siang, jangan terlalu sore, saya tidak ingin pulang malam."
"Baik, Bos. Akan saya usahakan, apa ada yang bisa saya bantu lagi, Bos?"
Revano tak menjawab,
"Baiklah kalau begitu, saya keluar dulu, permisi, Bos."
"Hm" sahut Revano, lalu menyeruput kopi nya.
Revano mengernyit kan dahinya heran, ada email dari istrinya.
"Astaga, tugas kuliahnya" ucap Revano sambil terkekeh ketika membuka pesan email dari sang istri, ia segera membalas pesannya.
[1 nomor, satu pelepasan ya sayang ...]
Revano tersenyum usil membalasnya.
__ADS_1
Tak di hiraukan lagi, Revano membuka isi dari file yang di kirimkan istrinya dan membacanya. Satu persatu tugas sudah selesai di kerjakan olehnya, mengingat ucapan istrinya bahwa deadline nya pada sore nanti.
Di sisi lain, Delisa yang baru saja membaca pesan dari suaminya sangat jengkel, tetapi ia tak membalasnya karena Revano sudah lebih dulu mengirim jawaban-jawaban dari tugas yang Delisa berikan.
Delisa membersihkan sampah-sampah kecil dan menaruhnya di tong sampah yang ada di kamarnya, setelah daring rasanya sangat capek dan pegal sekali, walaupun terkesan lebih enak di dalam rumah tetap saja Delisa merasa jenuh dan tidak bebas untuk kemana-kemana karena larangan dari suami dan kedua mertuanya.
Setelah daring, Delisa kembali merebahkan dirinya di atas kasur, bermain Hp miliknya, membuka web tentang seputar kehamilan dan melahirkan, ia bergidik ngeri ketika membaca artikel tentang melahirkan.
"Astaga ... Pasti rasanya sakit sekali." desis Delisa halus.
***
Sore pun tiba, Revano baru saja menyelesaikan meeting nya, ia buru-buru pulang.
"Bos?" sapa Roy yang sedang membersihkan mejanya.
"Ya, saya pulang dulu, Roy. Tolong suruh OB untuk bersihkan ruangan saya." ujar Revano sambil berjalan.
"Baik, Bos." sahut Roy.
Roy langsung memerintahkan kedua OB laki-laki untuk membersihkan ruangan atasannya, Roy tidak langsung pulang, melainkan ia harus menunggu para OB menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu.
Bukannya Roy tidak percaya terhadap OB kantor, tetapi ia harus waspada karena di dalam banyak dokumen-dokumen penting.
"Roy ..." sapa Citra yang menghampiri Roy, Roy menoleh sambil tersenyum penuh arti.
"Ya?"
"Aku ikut pulang bareng, boleh? Eum-"
"Boleh, tapi tunggu OB membersihkan ruangan Bos Revano terlebih dahulu." ujar Roy, Citra pun mengangguk setuju.
Citra duduk menemani Roy, mengobrol bersama. Walaupun mereka sudah dekat lama, tetapi mereka belum ada salah satu yang menyatakan cinta nya duluan. Padahal seluruh kantor mengira bahwa Roy dan Citra sudah berhubungan karena melihat Roy sering menghampiri Citra ketika Citra bekerja, begitu pun sebaliknya.
"Sudah selesai, Pak. Kami permisi dulu." ujar salah satu OB yang membawa pembersih lantai dan lap nya.
"Baiklah, Ini ada sedikit uang tip untuk kalian berdua, terimakasih sudah mau membersihkan ruangan padahal kalian sudah waktunya pulang."
"Ini tugas kami, Pak Roy. Terimakasih juga untuk tip nya." seloroh OB sambil melenggang pergi.
"Ayo, Cit. Kita pulang sekarang." Roy menuntun tangan Citra, perlakuan Roy memang selalu manis di mata Citra, Ahh rasanya Citra ingin lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Roy.
Di dalam mobil, Roy juga membantu Citra memasangkan seat belt nya. Citra tidak menolak, ia tetap diam di tempatnya.
"Mau langsung pulang apa mau mampir kemana dulu?" tanya Roy, ia mulai menjalankan mobilnya.
"Pulang saja, Roy. Lain waktu saja kita keluar, karena besok kita harus bekerja lagi." jawab Citra.
"Baiklah."
__ADS_1