
Roy menghela nafas dengan berat saat melihat Revano yang tidak ada di sana.
"Om Roy mana Daddy nya? Om bohong!" Aurel memukul-mukul dada Roy dengan tangan kecil nya, hal itu tak membuat Roy kesakitan.
"Feb dimana pak Revano? Bukannya tadi pamit mau kesini ya?" tanya Roy kepada Febri yang merupakan bagian Direktur keuangan.
Ya, tadi Revano meninggalkan Aurel yang sedang tertidur dan menitipkan nya kepada Roy padahal Roy sangat sibuk tapi tak membuatnya beralasan.
"Tadi sudah keluar pak." ucap Febri sambil menundukkan kepala nya.
"Kemana ya?" gumam Roy sambil berjalan membawa keliling Aurel untuk mencari Dady nya.
"Ih Om Roy!" kesal Aurel sambil meminta turun dari gendongan nya.
"Iya Nona sebentar ... biar Om telpon dulu, diam jangan turun nanti ada penculik." ujar Roy menakuti dan benar saja Aurel langsung diam sembari menganggukkan kepala nya.
"Astagaa nggak di angkat ... "
Roy mencoba untuk menghubungi kedua kali nya dan tetap saja tidak di angkat padahal 15 menit lagi waktunya pulang.
"Pak Satpam ..." seru Roy memanggil Satpam yang ada di dekat pintu.
"Iya Pak Roy ... Ada apa pak?" tanya pak Satpam yang sudah ada di depan nya.
"Bapak lihat Pak Revano kemana? Atau keluar gitu?" tanya Roy kepada pak Satpam.
"Emm sampai sekarang sih tidak ada."
__ADS_1
"Ya tuhan ... Kemana tu orang." gumam Roy.
"Ya sudah pak terimakasih." ujar Roy sambil berlalu.
***
Sedangkan Revano yang masih sibuk dengan laptop nya, banyak sekali para pembisnis hebat yang ingin bekerja sama dengan dirinya di tahun ini membuat Revano sedikit kuwalahan untuk menghadapi nya tapi tak sedikit goyah untuk mempertahankan nya.
"Oh astaga ... sebentar lagi pulang nih." gumam Revano sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan nya.
"Rekan-rekan sekalian saya pamit dulu, di lanjutkan besok saja ... Sekarang sudah waktu nya untuk pulang, permisi ..." ujar Revano kepada para karyawan nya.
"Terimakasih pak ..." sahut karyawan itu bersama-sama.
Revano keluar dari Gudang yang sedang mengontrol para karyawan yang ada di sana dan langsung menuju lift untuk segera menemui anak nya di atas.
'Pantas saja lift lama turun, padahal kan lift khusus aku sendiri.' Revano terkekeh di dalam hati nya.
"Daddy!" teriak Aurel senang.
"Huhh!" Roy memutar bola mata nya malas.
"Daddy dari mana saja? Ayo kita pulang." ujar Aurel yang sudah tak sabar dan meminta berganti kedalam gendongan Daddy nya.
"Oke sayang, maaf ya Daddy tidak izin dulu tadi." ujar Revano merasa bersalah meninggalkan anak nya yang sedang tertidur.
"Hmm oke Dad, ayo kita ke rumah tante Delisa." kata Aurel yang sambil memainkan jari nya di dada bidang Revano.
__ADS_1
Roy yang sedari diam saja membuat ia tersentak mendengarnya, "Ekhmm bos ... Delisa sudah pergi pulang ke rumah yang ada di Jakarta." jelas Roy, Revano membalikkan badan nya.
"Hah? Yang benar kau Roy?" tanya Revano membenarkan.
"Benar bos ... Kemarin dia bilang kepada saya kata nya mau pulang besok."
"Tante Delisa pulang Dad? Pulang kemana? Jauh?" tanya Aurel bertubi-tubi mendengar percakapan kedua laki-laki tersebut.
"Iya sayang ..." Revano tampak pasrah.
"Kau tahu Roy dimana alamat nya?" Roy yang di beri pertanyaan seperti itu membuat diri nya menepuk kening nya.
"Tidak bos ... Saya lupa menanyakan hehe." jawab Roy sambil cengengesan.
"Huuuhh ..." Revano menghela nafas nya panjang.
"Aurel nanti saja ya meet nya ... Tunggu tante Delisa pulang dulu." kata Revano mengelus kepala Aurel.
"Huaaaa ... Huaaa ... Tidak mau Dad, huaaa ...." Aurel langsung menangis saja dan memukul Revano dan meminta nya turun.
"Eh ..." Revano kaget melihat Aurel yang tiba-tiba menangis.
"Dad ... Ayo ketemu tante Delisa Dad hiks ..."
"Ayo Dad!" teriak Aurel lagi membuat Revano dengan sabar memeluk nya agar tidak tantrum.
"Kue ... Hiks ... Kue Dad ... Buat tante Delisa Hikss ..." Aurel mengingat kue nya yang sudah ia buat kemarin dengan bi Asih.
__ADS_1