
Revano dan Delisa turun dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda, nampak raut Revano kini lebih segar daripada sebelumnya. Mungkin vitamin yang di berikan istrinya sangat mujarab untuknya.
Turun berdua dengan bergandengan tangan seolah dua remaja yang sedang di mabuk cinta. Mereka benar-benar melupakan buntut-buntut nya.
"Halo Ma, Pa." sapa Revano, ia duduk di dekat Sanjaya.
"Athala dimana, Ma? apa dia menangis?" tanya Delisa dengan wajah yang khawatir, karena sejujurnya saja dari pagi hingga malam hari putra kecilnya belum menyusu.
"Aurel dan Athala sedang bersama Grandmi nya. Sepertinya sedang mandi." jawab Lilis.
"Delisa ke Athala dulu, Ma. Dari siang belum Delisa susui." ujar Delisa seraya berdiri dan pamit kepada Lilis.
"Delisa kebelakang dulu Pa, Mas." pamit Delisa ketika melewati Sanjaya dan Revano.
"Hati-hati sayang." balas Revano. Pria itu tahu, istrinya pasti mencari Athala.
"Athala ... Sini sama Mommy dulu" ucap Delisa memasuki kamar Aurel yang sudah ada Rosa dan Athala yang ikut berbaring di kasur.
"Mi, Mi." Athala senang melihat sang Mommy masuk menghampirinya.
"Nen dulu yuk? Di atas ..." ajak Delisa merentangkan tangannya. Athala berdiri dan melompat kedalam pelukan Delisa.
"Bu, Delisa susui Athala dulu ya ... Delisa titip Aurel sebentar ya Bu."
"Tenang saja, Del. Sudah-sudah sana susui Athala dulu hingga dia tertidur nyenyak." ujar Rosa.
"Baiklah, Delisa tingga dulu sebentar. Aurel anteng ya sayang sama Grandmi, Mommy keatas dulu." ucap Delisa sebelum menutup pintu kamar.
"Okey Mommy." seru Aurel dari dalam.
Melewati ruang tamu, melihat Daddy nya ada disana membuat si kecil tampan itu meminta turun dari gendongan Mommy nya.
"Iya nanti Daddy keatas, Adek sama Mommy dulu keatas baru Daddy menyusul." Delisa membenarkan kembali gendongannya yang hampir merosot.
"Dadahh ..." dengan usilnya Revano melambaikan tangannya kearah Athala.
"No, No." Athala merengek meminta turun.
Delisa ingin marah namun tidak bisa karena ada kedua mertuanya. Alhasil ia menurunkan Athala yang sudah merosot pada gendongannya. Membiarkan Athala berjalan kearah Revano, sang Opa dan Oma nya.
"Van, anakmu ingin tidur dulu ... Kasihan, jangan di ajak main dulu." ujar Lilis.
Delisa tidak ikut kesana, melainkan ia menaiki tangga sendiri karena kesal dengan suaminya. Padahal jika Athala sudah tidur ia akan tenang belajar di malam harinya. Namun kali ini belum juga tertidur, dan entahlah mungkin bisa mengganggu jam tidurnya.
Ceklek~
Revano menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar dengan membawa Athala di gendongannya. Melihat Delisa yang sedang menguasai laptop di pangkuannya, Revano mendekatinya.
__ADS_1
"Sayang," ujar Revano ikut duduk di samping istrinya.
"Mi, Mi. Apa tu apa" tanya Athala menunjuk layar laptop nya.
Delisa biarkan saja Athala mengotak-ngatik laptop miliknya, jika rusak, ia langsung mengadu pada Daddy nya saja dan pasti akan di belikan yang baru.
"Mas tidurin Athala gih, Delisa belajar dulu sebentar. Minggu depan sudah ujian, Mas." Delisa masih berkata lembut.
"Kayaknya nggak bisa deh sayang." Revano mencium pipi Delisa untuk membujuknya.
"Nggak mempan!" ujar Delisa geram.
"Ayo Athala ikut Daddy!" ajak Revano keluar. Ia tidak mau mengganggu istrinya belajar.
"Kut, Kut." Athala berdiri dari duduknya. Revano dengan sigap langsung menggendong Athala.
("Ikut, Ikut")
"Mas ke bawah dulu ya sayang? Mau di belikan apa, hm?" tanya Revano lembut, ia masih berdiri tepat di samping istrinya.
"Memangnya Mas ingin kemana?" tanya Delisa penasaran.
"Keluar. Katanya suruh tidurin Athala ... Kan biasanya Athala tidur jika naik mobil." ujar Revano.
Delisa hanya terkekeh mendengarnya, "Sudahlah Mas, naikkan saja Athala ke atas bed, nanti selesai ini Delisa susui." ujar Delisa mendongak menatap suaminya.
"Kan sudah bilang, Athala tak usah di bawa muter-muter naik mobil, Mas. Biar Delisa susui dia nanti." jawab Delisa.
"Ya memang Mas beneran ingin keluar, sayang. Ada Papa, Mama dan Ibu disini, Nggak ada makanan ... Mas ingin cari di luar. Mau ikut?" ajak Revano. Delisa hanya menggeleng.
"Nggak, Mas. Delisa ingin menidurkan Athala saja. Mas nggak apa-apa kan sendirian?" tanya Delisa khawatir.
"Iya, sayangku. Cepat kamu ingin di belikan apa? Keburu malam nanti pada tutup." ujar Revano.
"Yang ada tambah rame, Mas." ujar Delisa.
"Ya, ya ... Cepat, katakan. Kamu ingin apa, hm?"
"Martabak layer cheese saja, Mas. Delisa ingin itu. Minumnya terserah Mas saja." ujar Delisa sambil menutup laptopnya dan berdiri mengambil Athala dari gendongan Revano dengan paksa. Jika tidak seperti itu, maka Athala tidak akan lepas dari gendongan sang Daddy.
"Siap sayang. Mas keluar dulu ya ..." ujar Revano mengcup kening Delisa dan Athala bergantian.
"Hati-hati ya, Mas. Jangan kenceng-kenceng jalanin mobilnya ... Tahu sendiri anaknya nangis kalau tahu Daddy nya bawa mobil." ujar Delisa.
"Iya-iya. Tapi Mas nggak janji ya sayang." Revano menutup pintu kamar.
Delisa mengajak Athala untuk berbaring di atas bed berukiran big size itu. Merebahkannya pelan-pelan. Delisa menata bantal nya agar posisi menyusui anaknya lebih nyaman karena anaknya super aktif.
__ADS_1
Untung saja Athala hanya merengek sebentar di tinggal Daddy nya, jadi sekarang ia sudah menurut. Melihat sang Mommy mengeluarkan minuman kesukaanya, Athala hanya tersenyum menampakkan giginya yang baru tumbuh hanya tiga gigi di depan.
"Bismillahirrahmanirra ..."
"Aahim" sahut Athala lalu menyesapnya dengan kuat.
"MasyaAllah, bobo yang nyenyak ya sayang, supaya Mommy bisa leluasa belajar nanti malam." ujar Delisa berbicara dengan sendirinya sambil mengelap keringat yang ada pada dahi Athala.
Suara mobil Revano sangat terdengar di telinga bocah kecil itu yang sedang menyusu. Delisa buru-buru menutup pintu kamarnya menggunakan remot control. Tentu saja Athala langsung terbangun dan berlari kearah pintu.
Delisa membiarkannya saja dan menunggu putranya menangis kencang.
"Huaa ... Mi, Mi. Huaa ..." Athala dengan tangan kecilnya mendobrak-dobrak pintu kamar dengan keras.
"Bukan, itu bukan Daddy. Sini sama Mommy sayang." Delisa melambaikan tangannya dari atas ranjang.
"No,No. Di!! Huaa ..."
("No,No. Daddy!! Huaa ...")
"Awas saja kamu, Mas." geram Delisa dalam hati. Ia pun menghampiri Athala dan dengan terpaksa Delisa turun untuk menemui Revano.
"Loh belum tidur sayang?" tanya Lilis dari tempat duduk.
"Belum, Ma. Merengek minta ke Daddy nya ..." balas Delisa sambil tersenyum.
"Sini sama Grandmi ..." Rosa dari belakang mendekati cucunya. Athala menolak, ia justru mengeratkan pelukannya.
"Delisa ke Mas Vano dulu Bu." ujar Delisa.
"Iya sayang, hati-hati sudah malam, angin malam nggak baik untuk Athala." ucap Rosa mengingatkan, Delisa mengangguk paham.
Delisa membawa Athala memasuki garasi mobil. Revano tersenyum simpul melihat anak dan istrinya datang, terutama Athala sehabis menangis yang pasti meminta untuk menemui dirinya.
Tanpa berkata, Delisa langsung menyerahkan Athala pada Revano.
"Mas tidurin Athala ya!! Delisa capek, ingin istirahat!" ketus Delisa. Bagi Revano sangat lucu istrinya merajuk seperti anaknya.
"Siap sayang." balas Revano terkekeh.
"Anak siapa sih ini? Anak Daddy ya ..." Revano mencium seluruh wajah Athala.
"Ya,Ya." jawab Athala seolah-olah mengerti apa yang di ucapkan Daddy nya.
"Mas, inget!" ujar Delisa lagi.
"Iya sayang, pulang ke rumah pasti sudah pulas. Tenang saja, kamu tidur lah dulu ..." ujar Revano.
__ADS_1
"Hm" jawab Delisa. Wanita itu langsung kembali ke kamarnya, ingin ikut dengan suaminya, namun seluruh tubuhnya sangat lelah meminta untuk di istirahatkan. Jadi ia membiarkan saja putranya dengan Daddy nya karena percuma saja di susui pun tidak mau, tidur tidak tidur, membuat kepala Delisa sangat pusing memikirkannya.