Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 89


__ADS_3

Setelah mendapat kabar gembira itu, Revano langsung menghubungi kedua orang tua nya, alangkah terkejut nya Sanjaya dan Lilis mengetahui berita itu, mereka berdua kompak untuk berusaha pulang lebih cepat dari jadwalnya.


Revano tak melanjutkan menginap di hotel, pria itu lebih memilih membawa istri dan anaknya untuk pulang ke rumahnya saja karena tidak mau istrinya kecapekan dan pingsan untuk kedua kalinya disebabkan kebanyakan beraktivitas.


Sesampainya di rumah, Revano membopong tubuh Aurel yang sudah tidur di perjalanan dan meletakannya di kamarnya, Bi Aam sudah stay untuk menemani dan mengurus majikan kecilnya.


Di dalam kamar, Delisa masih berhutang budi kepada suaminya yang sudah merajuk seperti anak kecil.


"Mas?" tanya Delisa, ia mengerti perasaan Revano saat ini.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang dia, hm?" tanya Revano, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Delisa dan mengelus perut Delisa yang masih rata.


"Delisa juga tahu dari dua hari yang lalu Mas," jawab Delisa jujur.


"Kan kemarin Mas ada di rumah, kenapa tidak bercerita sayang? Kalau kamu beritahu, kan Mas tak usah mengabaikan kamu kemarin, Mas jadi khawatir sama kamu gara-gara tadi Dokter bilang kamu terlalu banyak pikiran sayang." ucap Revano.


"Sebenarnya Delisa sudah siapkan Mas, karena kemarin Mas marah-marah nggak jelas jadi Delisa simpan lagi, tuh lihat di meja ada kotak, tadi Delisa mau bawa ke cafe eh ketinggalan, Mas nya buru-buru sih!" sahut Delisa kesal menatap Revano yang mendongak mendengar cerita darinya.


"Apa itu sayang?" Revano berdiri dan mengambil kotak yang sudah di bungkus rapih, lalu ia membukanya dan senyum manis pun terukir indah di wajahnya "Mas simpan ya? Mas taruh di laci." Delisa pun mengangguk setuju.


Setelah menaruh test-pack, Revano kembali merebahkan tubuhnya lagi.


"Mas nggak mau ya kamu capek-capek, kata Dokter harus bedrest total sayang, jadi kamu di kamar saja dan tidur seperti ini, nggak boleh melakukan kegiatan apapun ya."


Cup ...


Revano mengecup bibir Delisa sekilas.


"Bosan Mas,"


"Ini semua demi baby sayang, kamu nggak boleh bicara begitu." sahut Revano cepat.


"Iya, iya Mas, Delisa mengerti, tapi apa Delisa masih boleh berkuliah ofline Mas?"

__ADS_1


"Nggak, Mas nggak mengizinkan. Kamu cukup di rumah dan nggak boleh membebankan pikiran kamu sayang, Mas nggak mau kamu sama baby kenapa-kenapa" Revano mengelus rambut Delisa dan mencium wangi dari shampo yang Delisa pakai.


"Yah, masa kuliah nya di sambung setelah melahirkan Mas? lama banget dong," cibir Delisa yang tak setuju dengan pendapat suaminya.


"Delisa janji deh Mas, kalau ada materi yang susah, Delisa bakal skip-skip atau nanti bertanya sama Mas saja dan Mas harus mengerjakan semuanya." Delisa terkekeh.


"Baiklah, kalau begitu Mas izinkan kamu berkuliah tapi Online di rumah." jawab Revano.


"Siap sayangku" Delisa mengeratkan pelukannya.


"Tidurlah sayang, Mas menemani kamu disini" Revano menutup jendela kamar menggunakan remot dan menggantikan lampu kamar menjadi lampu tidur.


Cuaca sedikit mendung bersamaan datangnya angin yang semilir adem membuat kedua insan itu memejamkan matanya karena kantuk menyerangnya begitu saja.


***


"Papah, cepatlah kita pulang, Mama sudah tidak sabar lagi untuk bertemu mereka." ujar Lilis menggiring suaminya untuk masuk kedalam hotel.


"Iya Ma, Papa juga sudah kangen mereka semua." sahut Sanjaya.


Untung saja cuaca malam ini di Singapura sangat bagus untuk penerbangan, jadilah mereka sangat antusias untuk kembali ke negara asalnya.


Menjelang petang, Sanjaya dan Lilis sudah sampai di bandara, mereka berdua sudah memakai jaket tebal karena angin malam tidak baik bagi tubuh mereka yang sudah mulai rentah sesuai perkembangan usianya.


Mereka berdua serta Anton sudah menempati tempat duduknya masing-masing terkecuali para bodyguard yang menaiki pesawat berbeda.


Malam hari sekitar jam 22.30, sampailah mereka di Indonesia tepatnya di Bandung yang merupakan daerah tempat tinggalnya.


Dengan cepat, Sanjaya dan Lilis langsung menaiki mobil yang sudah siap dengan Mang Eja sebagai supirnya, dan mereka langsung menuju rumah Revano, mungkin mereka juga akan menginap disana.


Di rumah, Revano dan Delisa baru saja selesai dengan aktivitas makan malamnya, Delisa sedang menonton televisi di kagetkan dengan seruan Mamah mertuanya di ambang pintu, sedangkan Revano yang sedang menemani Aurel bermain langsung menghampiri kedua orang tua nya.


"Mama, Ya ampun Delisa kangen banget" pekik Delisa, ia langsung menghampiri Lilis dan memeluknya sedikit erat.

__ADS_1


"Jangan terlalu di tekan sayang, kasian baby" Revano memperingati, pria itu juga ikut memeluk Lilis dan Sanjaya.


"Apasih Mas," Delisa memanyunkan mulutnya karena saat suaminya sudah mengetahui dirinya hamil, suaminya sudah mulai mode posesif, semua yang di lakukan Delisa sudah dalam pantauannya.


Seperti sekarang saja, Delisa hanya memeluk Lilis tidak begitu erat, lagi pula janin yang di kandung Delisa masih kecil seperti biji kacang.


"Sudah tidak apa-apa, apa ada keluhan sama baby Del?" tanya Lilis sambil mengelus perut Delisa.


"Tidak ada Mah, hanya saja tadi pagi Delisa merasa pusing, dari awal kehamilan Delisa memang tidak menyadari kalau Delisa hamil Mah, tidak ada tanda-tanda seperti mual atau muntah-muntah," ucap Delisa kepada mertuanya.


"Anak Daddy pasti Jagoan, pinter dia, Yang. Tidak mau merepotkan Mommy nya, iya kan nak?" Revano mengelus perut Delisa lembut.


"Tidak semua kehamilan di awali kejadian seperti itu, semua ibu hamil pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda sayang." sahut Lilis.


Aurel sibuk membuka oleh-oleh dari Opa dan Oma nya di temani Sanjaya di sampingnya.


"Delisa mau cewek atau cowok sama saja, yang penting adek sehat di kandungan Mommy." ujar Delisa yang berbeda pendapat dengan suaminya.


"Nggak dong, mana bisa begitu sayang, Mas mau nya cowok, pasti baby boy," sahut Revano tak mau kalah.


"Iya Ma, Delisa tahu hanya coba-coba pakai test-pack saja, eh beneran garis dua dong hehehe ..." jawab Delisa kepada Lilis.


"Sudahlah kamu sana pergi Van, ganggu Mamah sama Delisa saja, mau baby girl atau baby boy nggak masalah yang penting dia sehat," Lilis menghela nafasnya.


"Oh ya, selamat bertambah usia menantuku sayang. Semoga tidak ada hambatan dan diberi kemudahan dalam menjalani keluarga bersama anakku. Panjang umur, sehat selalu untukmu. Syukuri selalu setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepadamu, Doa dan harapan Mamah semoga menjadi istri terbaik untuk anakku dan menjadi Mommy terhebat buat cucuku." ujar Lilis sambil memberikan pelukan hanagat nya serta memberikan bingkisan hadiah yang cukup besar.


"Delisa sudah menjadi istri lebih dan lebih terbaik yang Mama pikirkan." sahut Revano.


"Mama jamin itu," jawab Lilis.


Delisa yang di puji-puji hanya menahan malu nya, di dalam lubuk hatinya ia sangat-sangat bersyukur karena sudah di sayang Mertua dan menganggapnya melebihi anak sendiri.


"Terimakasih Ma atas doanya, dan kadonya juga hehe!" Delisa menunjukkan kado nya.

__ADS_1


"Iya sama-sama sayang," sahut Lilis sambil tersenyum.


'MasyaAllah tabarakallah, terimakasih ya Allah atas semua nikmat yang kau berikan kepada saya, ini adalah kado terindah di dalam kehidupan saya,' batin Delisa lirih.


__ADS_2