Duda Ganteng Ku

Duda Ganteng Ku
Eps 106


__ADS_3

Mereka semua sudah tiba di Rumah Sakit terdekat. Revano memerintahkan suster untuk membantu membawa istrinya yang sudah terkulai lemas.


Banyak sekali orang disana melihat Delisa yang malang, mereka juga ikut merasakan linu ketika melihat banyak darah kental yang terus mengalir dari paha Delisa. Revano tak peduli dengan darah yang sudah menempel pada seluruh permukaan baju dan celananya, pikirannya saat ini adalah melihat istrinya di tangani dokter dan cepat kembali pulih semestinya.


"Bapak tunggu di sini dulu, Pak. Biar kami tangani pasien nya." ucap salah satu suster sambil menahan tubuh Revano yang ingin ikut masuk ke dalam ruangan UGD.


"Saya suaminya!" pekik Revano dengan keras, ia ingin menerobos masuk tetapi dengan cepat Sanjaya dari arah belakang menahannya dan membawa ke pelukannya.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk menantuku, secepatnya, Sus." ujar Sanjaya melambaikan tangannya menyuruhnya untuk masuk kedalam, Suster dengan cepat mengangguk dan menutup pintu serta mengunci nya.


"Pa! Delisa di dalam, Pa! Revano tidak mau terjadi apa-apa dengannya, Pa!" ujar Revano melototi Sanjaya.


"Duduklah dulu, tenangkan dirimu dulu, Van! Istighfar!" kalau sudah seperti ini, Sanjaya juga ikut terbawa emosi, ia meninggikan suaranya juga agar terdengar oleh putranya.


Revano tersadar, ia mengelap mukanya dengan telapak tangannya sambil membaca istighfar, tubuhnya tak mampu ia sanggah lagi, Revano terduduk di lantai dengan keadaan yang sudah seperti orang gila.


"Pa, bagaimana ini Pa ... Anakku Pa ..." lirih Revano.


"Tenanglah, mereka semua pasti baik-baik saja." sahut Sanjaya dengan pasti dan yakin, di saat yang seperti ini, ia harus menguatkan putranya terlebih dahulu. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Sanjaya pun ikut khawatir perihal keadaan menantunya yang sedang mengandung cucu keduanya.


"Revano tidak mau kehilangan mereka, Pa tolong Pa!" ujar Revano dengan berteriak dan menangis, tangannya ikut meremas rambutnya sendiri dengan kuat seolah menyesali semuanya.


"Vano, Mama ada disini sayang ... Bangunlah, kita sama-sama berdoa agar istri dan anakmu baik-baik saja di dalam sana." Lilis berjongkok dan mengajak Revano untuk duduk di sekitar ruangan UGD, memberinya minum, Revano meneguknya dengan rasa hampa, pandangannya benar-benar terlihat sangat kosong.


Aurel, sementara ini bocah kecil itu mereka titipkan kepada Bi Asih di rumah. Aurel juga sempat menangis dan mengejar mobilnya meminta ikut tetapi entah bagaimana keadaan gadis kecil itu, Lilis hanya fokus pada Delisa saja, biarkan Aurel di rumah untuk sementara waktu.


Tak lama kemudian ruangan UGD itu pun terbuka, brankar terdorong dari dalam keluar, keadaan Delisa masih sama, masih terpejam dengan baju yang sudah di ganti dan impus yang sudah terpasang di tangannya.


Revano langsung terperanjat berdiri menghampiri sang Dokter, diikuti Sanjaya dan Lilis.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya akan di bawa kemana?" tanya Revano yang tak sabar.


"Istri Bapak akan segera di operasi, pendaharan yang Pasien alami cukup parah dan membuat Bayi di dalamnya kekurangan cairan dari air ketuban nya." jelas Dokter.


Revano yang mendengarnya langsung tertunduk lemas, ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan istrinya saat ini.


"Segera lakukan, pastikan menantu saya dan bayi nya selamat dan sehat." ujar Sanjaya dengan tegas menatap Dokter, tangan satunya menahan Revano yang tubuhnya sudah lemas.


"Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien, saya permisi dulu." ujar Dokter berpamitan.


"Hiks ... Pa ..." Revano memeluk Sanjaya dan menangis disana.


"Sudah-sudah. Duduk dulu Van." Sanjaya menepuk punggung Revano, membawanya untuk duduk.


Lilis datang dengan membawakan sebuah tas, ia membuka tas tersebut dan mengambil baju, kemudian ia berikan kepada Revano dan Sanjaya.


"Ma, Delisa harus di operasi ... Baru saja Dokter mengatakannya." ujar Sanjaya mengelap air mata yang ingin menetes.


"Apa!!" pekik Lilis lalu menangis sendu.


"Lalu bagaimana? Dimana Delisa sekarang, Pa?" sambung Lilis.


"Sudah ada di dalam ruang Operasi, tapi Papa tidak tahu dimana ruangannya. Lebih baik ganti baju dulu lalu kita langsung mencarinya." jawab Sanjaya. Baju Sanjaya juga ikut tertempel darah dari baju Revano, maka dari itu Sanjaya juga harus ikut berganti pakaian.


"Van ... Sabarlah, Mama yakin semua baik-baik saja." Lilis memeluk Revano yang tertunduk sambil sesekali meremas rambutnya frustasi.


"Ya, Ma. Vano ganti baju dulu, Ma. Ayo Pa ..." Revano berdiri untuk menuju toilet terdekat yang ada di Rumah sakit itu.


Sebelum pergi, Sanjaya merogoh kantong celananya dan memberikan kartu ATM berwarna hitam kepada istrinya sambil berkata "Pakai untuk bayar semua kebutuhan nya, belikan juga baju bayi untuk cucu baru kita, Ma."

__ADS_1


Lilis hanya mengangguk paham. Kemudian ia langsung menuju meja resipsionis untuk membayar semua biayanya, tak lupa ia menanyakan ruang operasi menantunya. Setelah di beri tahu, Lilis dengan langkah yang sedikit cepat menuju ruangan operasi yang sudah di tunjukkan.


Setelah sampai di depan ruang operasi, Lilis duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut. Ia menelpon Bi Romlah agar segera datang ke Rumah sakit dengan membawakan baju bayi yang sudah Revano dan Delisa beli dari jauh-jauh hari.


Bi Romlah dan Bi Aam tak kalah kagetnya, mereka berdua bergegas pergi ke Rumah sakit dengan membawakan keperluan yang sudah di suruh oleh Lilis.


***


"Mommy, Daddy, Hiks ... Bi Asih ayo kita kesana, Aurel ingin ikut ... Hiks ..." Aurel tak henti-hentinya menangis, melihat Mommy nya yang jatuh dengan mengeluarkan darah yang banyak, gadis kecil itu sangat merasa bersalah.


"Non Aurel tidak boleh kesana ... Mereka sebentar lagi pasti datang, Non Aurel tidak boleh menangis lagi." ujar Bi Asih menenangkan Aurel.


"Bi Rina, apa benar yang di katakan Bi Asih?" tanya Aurel beralih kepada Bi Rina yang sedang membersihkan ruangan tamu.


"Benar, Nona. Mereka sebentar lagi pasti datang, Lebih baik Non Aurel makan dulu saja ..." ujar Bi Rina menawarkan.


"Tidak mau, Bi. Aurel hanya ingin bertemu dengan Mommy dan Daddy saja." sahutnya.


"Iya Nona. Nanti coba Bibi telepon Nyonya Lilis terlebih dulu ya ..." ujar Bi Asih berpura-pura membuka ponselnya. Bi Asih juga sudah mengerti, ia tidak akan menelpon majikannya di saat situasi yang seperti ini, pasti akan merepotkan saja, pikirnya.


"Hm, baiklah, Bi. Terimakasih." Aurel menangguk lalu mengelap air mata dan ingusnya menggunakan baju yang di pakainya.


Aurel menurut untuk makan. Gadis kecil itu menyantap makanannya dengan tangannya sendiri di temani Bi Asih dan Bi Rina di dekatnya.


Makan kali ini sangat cepat karena ia ingin bertemu dengan Mommy nya, dan melihat keadaan Mommy nya di Rumah sakit.


Setelah makan, Aurel menunggu Bi Asih dan Bi Rina yang sedang membersihkan dapurnya. Aurel menunggunya di ruang keluarga sambil menonton Tv, lama kelamaan gadis kecil itu pun tertidur setelah merasa kekenyangan.


Bi Asih dan Bi Rina akhirnya lega melihat Aurel yang tertidur nyenyak, mungkin setelah bangun nanti ia akan membawa Aurel pergi ke Rumah sakit karena Lilis mengizinkannya melalui telepon.

__ADS_1


__ADS_2